- Kamis, 19 Februari 2026
Keunikan Tari Piring Dan Rahasia Kaki Tidak Terluka Dalam Tradisi Minangkabau
Keunikan Tari Piring dan Rahasia Kaki Tidak Terluka dalam Tradisi Minangkabau
Oleh: Muhammad Fawzan
Di halaman rumah gadang atau panggung pertunjukan budaya di Sumatera Barat, denting piring yang dibenturkan mengikuti irama talempong dan gandang sering mengundang perhatian. Gerakannya cepat, dinamis, dan di bagian akhir penari bahkan menginjak pecahan kaca atau piring. Keunikan Tari Piring dan rahasia kaki tidak terluka kerap menjadi pertanyaan penonton yang menyaksikan langsung pertunjukan ini.
Tari Piring dikenal sebagai salah satu tari tradisional Minangkabau yang sudah ada sejak lama. Dalam catatan sejarah budaya Minangkabau, tari ini awalnya berkaitan dengan ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil panen, yang kemudian berkembang menjadi pertunjukan dalam berbagai acara adat dan penyambutan tamu.
Dari Ritual Panen ke Panggung Pertunjukan
Dalam tradisi lama masyarakat Minangkabau, Tari Piring dipentaskan sebagai bagian dari upacara syukuran hasil pertanian. Piring yang dibawa penari menjadi simbol persembahan kepada Yang Maha Kuasa atas limpahan hasil sawah dan ladang. Seiring masuknya Islam dan perubahan sosial di ranah Minang, fungsi ritual tersebut bergeser menjadi seni pertunjukan budaya.
Kini Tari Piring ditampilkan dalam berbagai kesempatan, mulai dari alek nagari, penyambutan tamu penting, hingga festival budaya. Gerakannya menggambarkan aktivitas bertani, seperti menanam, menuai, hingga mengolah hasil panen. Unsur silat Minangkabau juga terlihat dalam dinamika gerakan kaki dan tangan para penari.
Keunikan Tari Piring dan Teknik Gerakannya
Keunikan Tari Piring terletak pada penggunaan piring sebagai properti utama. Setiap penari memegang dua piring di kedua tangan, digerakkan cepat sambil sesekali dibenturkan sehingga menimbulkan bunyi ritmis. Keseimbangan tubuh dan ketepatan tempo menjadi kunci agar piring tidak terlepas.
Bagian yang paling menarik perhatian adalah saat penari menginjak pecahan kaca atau piring di akhir pertunjukan. Aksi ini sering dianggap berbahaya, namun sebenarnya dilakukan dengan teknik khusus. Penari biasanya sudah terlatih menjaga tumpuan kaki, distribusi berat badan, serta kecepatan gerak sehingga tekanan pada telapak kaki tidak terfokus pada satu titik tajam.
Selain itu, pecahan kaca yang digunakan umumnya disebar merata di atas permukaan sehingga beban tubuh tersebar. Faktor latihan yang rutin dan kekuatan telapak kaki yang sudah terbiasa juga menjadi bagian dari “rahasia” tersebut. Tanpa latihan, adegan ini tentu berisiko.
Rahasia Kaki Tidak Terluka
Rahasia kaki tidak terluka dalam Tari Piring bukanlah unsur mistis, melainkan hasil dari teknik dan pengalaman. Penari memahami cara melangkah dengan cepat namun ringan, serta menjaga keseimbangan agar tidak terpeleset atau menekan pecahan dengan sudut yang tajam.
Di sanggar-sanggar tari di Sumatera Barat, latihan dilakukan bertahap. Penari tidak langsung menginjak kaca, melainkan membangun kelenturan, ketahanan, dan kontrol tubuh terlebih dahulu. Dengan latihan berulang, kepekaan terhadap permukaan pijakan menjadi lebih terasah.
Keunikan Tari Piring dan rahasia kaki tidak terluka akhirnya menunjukkan bahwa di balik pertunjukan yang memukau, ada disiplin dan proses panjang yang dijalani para penari. Tradisi ini bukan hanya hiburan visual, tetapi juga bagian dari identitas budaya Minangkabau yang terus dijaga dan diwariskan.
Editor : melatisan
Tag :Muhammad Fawzan, Keunikan, Tari Piring, Rahasia, Kaki, Tidak Terluka, Tradisi Minangkabau
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
SEJARAH PERANG PADRI DAN PERJUANGAN TUANKU IMAM BONJOL DALAM CATATAN RANAH MINANG
-
FILOSOFI "ALAM TAKAMBANG JADI GURU" DALAM KEHIDUPAN, WARISAN NILAI DARI RANAH MINANG
-
MENGENAL TOKOH NASIONAL ASAL MINANGKABAU YANG MENGUBAH DUNIA, DARI PROKLAMATOR HINGGA PENULIS
-
RESEP GULAI CANCANG KAMBING PEDAS MERESAP, OLAHAN MINANG YANG DAGINGNYA LEMBUT DAN BERCITA RASA KUAT
-
TRADISI MAANTA PABUKOAN KE RUMAH MERTUA DI MINANG, JEJAK ADAT DALAM MOMEN RAMADAN