- Minggu, 8 Februari 2026
Tabuah: Ingatan Silungkang
Tabuah: Ingatan Silungkang
Oleh: Yuzi Febriani
(Mahasiswa Sastra Minangkabau KKN Unand reguler periode 1)
Di tengah hiruk-pikuk zaman yang serba digital, ada satu bunyi khas yang dulu menjadi penanda kehidupan masyarakat Silungkang. Bunyi itu bukan berasal dari lonceng atau pengeras suara, melainkan dari tabuah, alat tradisional yang tak sekadar dipukul, tetapi sarat makna dan sejarah.
Bagi masyarakat Silungkang, tabuah bukan benda asing. Ia hadir sejak awal masuknya Islam ke daerah ini. Pada masa itu, tabuah berfungsi hampir sama dengan bedug, yakni sebagai penanda waktu salat dan pemberitahuan menjelang berbuka puasa. Sebelum azan dikumandangkan, bunyi tabuah terlebih dahulu menggema dari masjid, mengajak masyarakat untuk bersiap beribadah. Dentangnya menjadi pengingat yang akrab di telinga, terutama ketika jam dan pengeras suara belum dikenal luas.
Secara fisik, tabuah terbuat dari batang kayu besar yang dilubangi bagian tengahnya, kemudian salah satu sisinya ditutup dengan kulit sapi atau kerbau yang dikencangkan. Bahan-bahan ini dipilih bukan tanpa alasan. Kayu yang kuat menghasilkan bunyi yang nyaring dan tahan lama, sementara kulit hewan memberi resonansi khas yang membuat suara tabuah dapat terdengar jauh. Proses pembuatannya pun membutuhkan keterampilan khusus dan pengetahuan turun-temurun
Seiring waktu, fungsi tabuah di Silungkang tidak hanya terbatas pada kegiatan keagamaan. Tabuah juga berkembang menjadi alat komunikasi sosial di tengah masyarakat. Silungkang sendiri terdiri atas 18 kampung, dan setiap kampung memiliki satu tabuah sebagai penanda wilayah. Dari bunyi tabuah inilah masyarakat mengetahui adanya peristiwa penting yang terjadi di kampung mereka.
Salah satu fungsi utama tabuah yang paling dikenal adalah sebagai alat pemberitaan kematian atau musibah. Dulu, tabuah memiliki pola ketukan yang berbeda-beda, tergantung pada jenis informasi yang ingin disampaikan. Masyarakat yang mendengar bunyinya dapat langsung memahami pesan tanpa harus diberi penjelasan tambahan. Sayangnya, seiring berkembangnya zaman dan semakin jarangnya tabuah dibunyikan, pengetahuan tentang perbedaan ketukan ini mulai memudar.
Meski begitu, ada satu tradisi yang masih diingat oleh masyarakat Silungkang hingga kini, yaitu perbedaan durasi bunyi tabuah dalam pemberitaan kematian. Jika yang meninggal dunia adalah orang asli Silungkang, maka bunyi tabuah akan dipukul dengan durasi yang lebih lama. Sebaliknya, jika yang meninggal adalah orang pendatang atau sumando di kampung tersebut, bunyi tabuah akan berdurasi lebih singkat. Perbedaan ini bukan untuk membeda-bedakan derajat, melainkan sebagai bentuk penanda sosial yang telah lama hidup dalam struktur adat masyarakat Silungkang.
Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa tabuah semakin jarang digunakan. Pengeras suara masjid, telepon genggam, dan media sosial telah mengambil alih perannya sebagai alat pemberi informasi. Generasi muda banyak yang mengenal tabuah hanya sebagai benda pajangan atau sekadar simbol masa lalu, tanpa benar-benar memahami fungsi dan maknanya.
Kondisi ini menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk Bapak Ferinof, Kepala Dusun Stasiun di Desa Silungkang Tigo. Beliau berharap agar tabuah tetap dilestarikan, tidak hanya sebagai benda budaya, tetapi juga sebagai warisan nilai dan identitas masyarakat Silungkang. Menurutnya, tabuah menyimpan cerita tentang kebersamaan, gotong royong, dan cara masyarakat dulu saling terhubung tanpa teknologi modern.
Pelestarian tabuah tentu tidak berarti menolak kemajuan zaman. Justru, tabuah bisa dikenalkan kembali melalui pendidikan budaya, kegiatan adat, maupun dokumentasi sejarah lokal. Dengan begitu, generasi muda tidak hanya tahu bahwa tabuah itu “alat pukul dari kayu”, tetapi juga memahami perannya sebagai media komunikasi, penanda identitas kampung, dan saksi perjalanan sejarah Silungkang.
Pada akhirnya, tabuah bukan sekadar bunyi. Ia adalah ingatan kolektif. Dentangnya mungkin kini jarang terdengar, tetapi maknanya masih layak untuk dijaga. Selama masih ada upaya untuk merawat dan menceritakannya kembali, tabuah akan tetap hidup bukan hanya di masjid atau kampung, tetapi juga di hati masyarakat Silungkang.
Tag :Tabuah, Ingatan Silungkang
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
PELANTIKAN PWI & IKWI SUMBAR: LANGKAH MAJU, HARAPAN BARU, SEJARAH BARU
-
KKN REGULER 1 UNAND EDUKASI SISWA MTSS NAGARI LABUH TENTANG LITERASI DIGITAL DAN KESELAMATAN
-
KKN REGULER 1 UNAND HADIRKAN EDUKASI TEMATIK DI SDN 02 DAN SDN 13 NAGARI LABUH
-
KKN REGULER 1 UNAND DORONG TERTIB DATA DAN PROFILISASI NAGARI LABUH TAHUN 2026
-
MALAM SILATURAHMI KKN UNAND REGULER 1 MINANGKABAU: DATANG MANJALIN, PULANG MANINGGAAN RASO
-
TABUAH: INGATAN SILUNGKANG
-
PELANTIKAN PWI & IKWI SUMBAR: LANGKAH MAJU, HARAPAN BARU, SEJARAH BARU
-
MAHASISWA KKN UNAND 2026 GELAR PENYULUHAN DAN PRAKTIK PEMBUATAN UMMB SEBAGAI SUPLEMENT TERNAK RUMINANSIA DI NAGARI LABUH, KECAMATAN LIMA KAUM, TANAH DATAR
-
PENGOLAHAN LIMBAH JAGUNG MENJADI BOKASHI RAMAH LINGKUNGAN DI NAGARI LABUH
-
PRESIDEN KENA OLAH, OLEH MIKO KAMAL