- Kamis, 19 Februari 2026
Tradisi Maanta Pabukoan Ke Rumah Mertua Di Minang, Jejak Adat Dalam Momen Ramadan
Tradisi Maanta Pabukoan ke Rumah Mertua di Minang, Jejak Adat dalam Momen Ramadan
Oleh: Dzaky Herry Marino
Menjelang waktu berbuka puasa di sejumlah nagari di Sumatera Barat, pemandangan berbeda kerap terlihat di jalan-jalan kampung. Seorang menantu perempuan datang membawa dulang atau rantang berisi hidangan menuju rumah orang tua suaminya. Tradisi Maanta Pabukoan ke Rumah Mertua di Minang masih dijalankan sebagian masyarakat sebagai bagian dari adat yang menyatu dengan Ramadan.
Tradisi ini bukan sekadar mengantar makanan untuk berbuka. Di dalamnya ada nilai penghormatan, penguatan hubungan kekerabatan, serta penegasan posisi sosial dalam sistem keluarga Minangkabau yang menganut garis keturunan ibu.
Mengantar Pabukoan sebagai Bentuk Hormat
Dalam praktiknya, maanta pabukoan biasanya dilakukan oleh pihak keluarga istri kepada keluarga suami. Makanan yang diantar bisa berupa lauk-pauk, kue tradisional, hingga nasi lengkap untuk berbuka puasa. Momentum ini umumnya berlangsung pada hari-hari awal Ramadan, meski di beberapa tempat dilakukan lebih dari sekali selama bulan puasa.
Dalam struktur adat Minangkabau yang matrilineal, laki-laki setelah menikah berstatus sebagai “urang sumando” di rumah pihak istri. Namun hubungan antara kedua keluarga tetap dijaga melalui berbagai tradisi, salah satunya lewat maanta pabukoan ini. Tradisi tersebut menjadi simbol bahwa ikatan perkawinan tidak hanya menyatukan dua orang, tetapi juga dua keluarga besar.
Adat dan Ramadan yang Berjalan Seiring
Tradisi Maanta Pabukoan ke Rumah Mertua di Minang menunjukkan bagaimana adat berjalan beriringan dengan ajaran agama. Ramadan menjadi ruang yang tepat untuk memperkuat silaturahmi. Mengantar makanan berbuka bukan hanya soal jamuan, melainkan juga cara menjaga hubungan baik dan saling menghormati antarbesan.
Di sejumlah daerah, prosesi ini dilakukan secara sederhana tanpa seremoni khusus. Namun nilai yang terkandung tetap sama, menjaga marwah keluarga dan mempererat tali persaudaraan. Makanan yang dibawa pun biasanya disiapkan dengan penuh perhatian, sebagai bentuk kesungguhan niat.
Menguatkan Ikatan Kekerabatan
Bagi generasi tua, tradisi ini adalah bagian dari kewajiban moral dalam berkeluarga. Sementara bagi generasi muda, maanta pabukoan menjadi momen belajar tentang adat dan posisi mereka dalam struktur keluarga Minangkabau.
Di tengah perubahan gaya hidup dan mobilitas masyarakat yang semakin tinggi, tidak semua keluarga lagi menjalankan tradisi ini secara rutin. Namun di banyak nagari, terutama yang masih kuat memegang adat, maanta pabukoan tetap dipertahankan setiap Ramadan.
Tradisi Maanta Pabukoan ke Rumah Mertua di Minang pada akhirnya bukan hanya tentang hidangan berbuka. Ia adalah cara masyarakat menjaga hubungan baik, merawat rasa hormat, dan memastikan bahwa adat tetap hadir dalam kehidupan sehari-hari. Di antara kesibukan Ramadan, tradisi ini mengingatkan bahwa silaturahmi adalah bagian penting dari ibadah dan kehidupan bermasyarakat di ranah Minang.
Editor : melatisan
Tag :Dzaky Herry Marino, Tradisi Maanta, Pabukoan, Rumah Mertua, Minang, Jejak Adat, Momen Ramadan
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
SEJARAH PERANG PADRI DAN PERJUANGAN TUANKU IMAM BONJOL DALAM CATATAN RANAH MINANG
-
KEUNIKAN TARI PIRING DAN RAHASIA KAKI TIDAK TERLUKA DALAM TRADISI MINANGKABAU
-
FILOSOFI "ALAM TAKAMBANG JADI GURU" DALAM KEHIDUPAN, WARISAN NILAI DARI RANAH MINANG
-
MENGENAL TOKOH NASIONAL ASAL MINANGKABAU YANG MENGUBAH DUNIA, DARI PROKLAMATOR HINGGA PENULIS
-
RESEP GULAI CANCANG KAMBING PEDAS MERESAP, OLAHAN MINANG YANG DAGINGNYA LEMBUT DAN BERCITA RASA KUAT