HOME VIRAL UNIK

  • Kamis, 19 Februari 2026

Sejarah Perang Padri Dan Perjuangan Tuanku Imam Bonjol Dalam Catatan Ranah Minang

Sejarah Perang Padri dan Perjuangan Tuanku Imam Bonjol
Sejarah Perang Padri dan Perjuangan Tuanku Imam Bonjol

 

Sejarah Perang Padri dan Perjuangan Tuanku Imam Bonjol dalam Catatan Ranah Minang

Oleh: Andika Putra Wardana


Di Bonjol, Kabupaten Pasaman, nama Tuanku Imam Bonjol masih lekat dalam ingatan masyarakat. Dari kawasan inilah salah satu bab penting dalam Sejarah Perang Padri dan Perjuangan Tuanku Imam Bonjol bermula pada awal abad ke-19. Perang yang berlangsung cukup panjang itu bukan hanya konflik bersenjata, tetapi juga peristiwa sosial dan politik yang mengubah wajah Minangkabau.

Perang Padri terjadi dalam rentang 1803 hingga 1837. Dalam berbagai catatan sejarah, konflik ini berawal dari pertentangan antara kelompok Padri yang ingin menjalankan ajaran Islam secara lebih ketat dengan kelompok adat di Minangkabau. Situasi tersebut kemudian berkembang menjadi perlawanan yang lebih luas, terutama setelah campur tangan pemerintah kolonial Belanda.

Awal Konflik di Ranah Minang

Sejarah mencatat, gerakan Padri dipelopori oleh sejumlah ulama yang baru kembali dari Makkah pada akhir abad ke-18. Mereka membawa semangat pembaruan keagamaan dan mendorong penerapan syariat Islam secara lebih tegas di Minangkabau. Perbedaan pandangan dengan kelompok adat memicu ketegangan yang berujung konflik terbuka.

Dalam perkembangannya, kaum adat meminta bantuan Belanda untuk menghadapi kelompok Padri. Keterlibatan Belanda memperluas konflik dan mengubahnya menjadi perang antara kaum Padri melawan kekuatan kolonial. Sejak itu, Perang Padri tidak lagi sekadar perselisihan internal, tetapi bagian dari perlawanan terhadap dominasi Belanda di Sumatera Barat.

Perjuangan Tuanku Imam Bonjol

Salah satu tokoh sentral dalam Sejarah Perang Padri adalah Tuanku Imam Bonjol, yang bernama asli Muhammad Shahab. Ia dikenal sebagai pemimpin pertahanan di Bonjol dan menjadi simbol perlawanan kaum Padri terhadap Belanda.

Benteng Bonjol menjadi salah satu pusat pertahanan yang cukup kuat pada masa itu. Perlawanan berlangsung bertahun-tahun, dengan berbagai pertempuran yang tercatat dalam arsip kolonial maupun sumber lokal. Namun, pada 1837, setelah pengepungan panjang, Tuanku Imam Bonjol akhirnya ditangkap oleh Belanda.

Ia kemudian diasingkan ke Cianjur, lalu dipindahkan ke Ambon, dan akhirnya ke Manado hingga wafat pada 1864. Kisah pengasingan ini menjadi bagian penting dari narasi perjuangannya yang kemudian dikenang secara nasional.

Dampak dan Warisan Sejarah

Perang Padri berakhir pada 1837, tetapi dampaknya terasa panjang dalam struktur sosial dan politik Minangkabau. Setelah konflik tersebut, terjadi penataan ulang hubungan antara adat dan agama yang kemudian dikenal dalam ungkapan “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”, yang menjadi prinsip penting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

Dalam konteks nasional, Tuanku Imam Bonjol kemudian diakui sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Namanya diabadikan dalam berbagai monumen dan institusi pendidikan, termasuk di kampung halamannya di Bonjol.

Sejarah Perang Padri dan Perjuangan Tuanku Imam Bonjol hari ini tidak hanya dipelajari sebagai catatan konflik, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan panjang masyarakat Minangkabau menghadapi perubahan dan tekanan kolonial. Di Bonjol, jejak sejarah itu masih bisa dirasakan, mengingatkan bahwa peristiwa dua abad lalu pernah membentuk arah perjalanan Ranah Minang hingga kini.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Sejarah, Perang Padri, Perjuangan, Tuanku Imam Bonjol, Catatan, Ranah Minang

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com