- Senin, 16 Februari 2026
Wisata Pulau Angso Duo Pariaman Dan Mitosnya, Jejak Dua Ulama Di Tengah Laut
Wisata Pulau Angso Duo Pariaman dan Mitosnya, Jejak Dua Ulama di Tengah Laut
Oleh: Andika Putra Wardana
Wisata Pulau Angso Duo Pariaman dan mitosnya tak bisa dilepaskan dari kisah dua ulama yang namanya hidup dalam ingatan masyarakat pesisir. Pulau kecil yang terletak di lepas pantai Kota Pariaman, Sumatera Barat ini bukan sekadar tujuan rekreasi bahari. Ia juga menjadi ruang cerita tentang dakwah, perjuangan, dan simbol kesucian yang diwariskan turun-temurun.
Dari Pantai Gandoriah, pulau ini tampak hijau di tengah laut. Perahu-perahu kecil hilir mudik mengantar wisatawan. Namun di balik suasana riang itu, masyarakat setempat masih menuturkan legenda tentang dua tokoh agama yang pernah menjadikan pulau ini sebagai tempat singgah dan bermusyawarah.
Asal Nama dari Dua Jubah Putih
Nama Pulau Angso Duo diyakini berasal dari kisah dua ulama, yakni Syekh Katik Sangko dan Syekh Burhanuddin. Dalam cerita yang berkembang di tengah masyarakat, keduanya kerap mengenakan jubah putih panjang saat berdakwah.
Ketika berdiri di tepi pulau atau berjalan diterpa angin laut, jubah putih itu melambai-lambai. Dari kejauhan, penampakannya disebut menyerupai dua ekor angsa. Dalam bahasa Minang, angsa disebut “angso”, dan “duo” berarti dua. Sejak itulah pulau tersebut dikenal sebagai Angso Duo, dua angsa.
Warna putih jubah yang mereka kenakan juga dimaknai sebagai lambang kesucian. Simbol ini melekat kuat dalam narasi lisan masyarakat setempat, menjadi bagian dari identitas pulau yang tak terpisahkan dari nilai religius.
Markas Dakwah dan Tempat Menyusun Siasat
Legenda yang hidup menyebutkan bahwa pulau ini pernah dijadikan tempat berteduh dan bermusyawarah oleh Syekh Katik Sangko dan Syekh Burhanuddin. Selain sebagai lokasi syiar Islam di wilayah pesisir Pariaman, pulau ini juga dipercaya menjadi tempat menyusun siasat dalam menghadapi penjajah Belanda.
Kisah ini memperlihatkan bahwa Pulau Angso Duo bukan hanya ruang spiritual, tetapi juga ruang strategis. Letaknya yang terpisah dari daratan dianggap memberi ketenangan sekaligus keamanan untuk berdiskusi.
Tradisi lisan masyarakat Pariaman menempatkan pulau ini sebagai bagian dari perjalanan dakwah Syekh Burhanuddin yang dikenal luas dalam sejarah penyebaran Islam di Minangkabau. Kehadiran Syekh Katik Sangko sebagai sahabat dan rekan seperjuangan menambah kuat narasi tersebut dalam ingatan kolektif warga setempat.
Kuburan Panjang dan Wisata Religi
Salah satu titik yang paling sering diziarahi di pulau ini adalah makam yang dikenal sebagai “Kuburan Panjang”. Makam tersebut memiliki panjang kurang lebih tujuh meter dan diyakini sebagai makam Syekh Katik Sangko.
Keberadaan makam ini membuat Pulau Angso Duo tak hanya menjadi destinasi wisata alam, tetapi juga wisata religi. Pengunjung datang untuk berdoa, sekaligus mengenang kisah para ulama yang diyakini pernah berperan penting dalam perkembangan Islam di kawasan pesisir Sumatera Barat.
Kini, Wisata Pulau Angso Duo Pariaman dan mitosnya berjalan beriringan. Di satu sisi, pulau ini menawarkan panorama laut dan pasir putih yang memikat. Di sisi lain, ia menyimpan legenda religius yang terus diceritakan dari generasi ke generasi.
Editor : melatisan
Tag :Wisata, Pulau Angso Duo, Pariaman, Mitosnya, Jejak, Dua Ulama, Tengah Laut
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
SEJARAH KERAJAAN PAGARUYUNG DAN KEJAYAANNYA: JEJAK ADAT DAN KEKUASAAN DI TANAH MINANGKABAU
-
MAKNA PANTUN MINANG DALAM PROSESI PINANGAN, BAHASA KIAS YANG MENJAGA MARTABAT ADAT
-
RESEP GULAI TAMBUNSU KHAS KAPAU YANG OTENTIK, WARISAN DAPUR NAGARI DI LERENG MARAPI
-
OLEH-OLEH KHAS SUMATERA BARAT YANG WAJIB DIBELI, DARI RENDANG HINGGA KERAJINAN SONGKET
-
TRADISI BALIMAU DI SUMATERA BARAT JELANG RAMADHAN, RITUAL PENYUCIAN DIRI YANG SARAT MAKNA