HOME VIRAL UNIK

  • Senin, 16 Februari 2026

Sejarah Kerajaan Pagaruyung Dan Kejayaannya: Jejak Adat Dan Kekuasaan Di Tanah Minangkabau

Sejarah Kerajaan Pagaruyung
Sejarah Kerajaan Pagaruyung

Sejarah Kerajaan Pagaruyung dan Kejayaannya: Jejak Adat dan Kekuasaan di Tanah Minangkabau

Oleh: Andika Putra Wardana


Sejarah Kerajaan Pagaruyung dan kejayaannya tak bisa dilepaskan dari bentang alam Luhak Tanah Datar, jantung kebudayaan Minangkabau di Sumatera Barat.

Di kawasan inilah, nama Pagaruyung tercatat dalam tambo, prasasti, hingga arsip kolonial sebagai pusat kekuasaan adat dan simbol persatuan orang Minangkabau.

Nama Pagaruyung kerap dihubungkan dengan legenda dan tambo, tetapi jejak sejarahnya juga dapat ditelusuri melalui sumber tertulis. Salah satu rujukan penting adalah Prasasti Saruaso yang ditemukan di wilayah Tanah Datar.

Prasasti berbahasa Melayu Kuno itu menyebut nama Adityawarman, tokoh yang kerap dikaitkan dengan konsolidasi kekuasaan di ranah Minangkabau pada abad ke-14.

Dari Adityawarman hingga Pusat Kekuasaan di Tanah Datar

Dalam catatan sejarah, Adityawarman dikenal sebagai penguasa yang pernah berkuasa di wilayah Sumatera bagian tengah pada pertengahan abad ke-14. Ia juga disebut dalam sumber-sumber epigrafis sebagai maharajadiraja.

Sejumlah prasasti yang ditemukan di sekitar Saruaso memperlihatkan bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat aktivitas politik dan keagamaan.

Sejarawan seperti Taufik Abdullah dalam kajian tentang adat dan sejarah Minangkabau mencatat bahwa Pagaruyung berkembang sebagai pusat simbolik kekuasaan.

Kerajaan ini tidak berdiri dalam pola sentralistik yang kaku, melainkan bertumpu pada struktur adat yang kuat di tiap nagari.

Dalam tradisi Minangkabau, sistem kepemimpinan dikenal dengan konsep Rajo Tigo Selo, yakni Raja Alam, Raja Adat, dan Raja Ibadat. Struktur ini menunjukkan pembagian kewenangan yang mencerminkan perpaduan antara adat dan agama, sejalan dengan falsafah “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”.

Pagaruyung dalam Tambo dan Arsip Kolonial

Selain prasasti, Sejarah Kerajaan Pagaruyung dan kejayaannya juga terekam dalam naskah tambo Minangkabau. Tambo memuat silsilah raja-raja serta kisah asal-usul masyarakat Minangkabau.

Meski bercampur unsur mitologis, tambo tetap menjadi sumber penting dalam memahami struktur sosial dan legitimasi kekuasaan di Pagaruyung.

Pada abad ke-17 hingga ke-19, nama Pagaruyung juga muncul dalam arsip Belanda. Hubungan antara elite Pagaruyung dan pemerintah kolonial Hindia Belanda memperlihatkan posisi kerajaan ini sebagai representasi politik orang Minangkabau di mata pihak luar.

Konflik internal dan dinamika politik, termasuk peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Perang Padri pada awal abad ke-19, turut memengaruhi posisi Pagaruyung. Dalam periode itu, pusat kekuasaan mengalami tekanan besar, baik dari gerakan internal maupun intervensi kolonial.

Simbol Kejayaan yang Tetap Hidup

Secara fisik, istana Pagaruyung yang kini berdiri di kawasan Istano Basa Pagaruyung merupakan representasi arsitektur rumah gadang dengan atap gonjong yang menjulang.

Meski bangunan yang ada sekarang adalah hasil rekonstruksi, ia menjadi simbol kuat dari kejayaan dan identitas Minangkabau. Sejarah Kerajaan Pagaruyung dan kejayaannya pada akhirnya bukan hanya soal luas wilayah atau kekuatan militer.

Ia lebih merupakan kisah tentang bagaimana adat, agama, dan struktur sosial berpadu membentuk tatanan masyarakat yang khas. Dari prasasti Saruaso hingga tambo yang diwariskan turun-temurun, Pagaruyung tetap menjadi titik rujuk dalam memahami jati diri Minangkabau.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Sejarah, Kerajaan, Pagaruyung, Kejayaannya, Jejak Adat, Kekuasaan, Tanah Minangkabau

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com