HOME VIRAL UNIK

  • Senin, 16 Februari 2026

Makna Pantun Minang Dalam Prosesi Pinangan, Bahasa Kias Yang Menjaga Martabat Adat

Penulis:  Muhammad Fawzan
Penulis: Muhammad Fawzan

Makna Pantun Minang dalam Prosesi Pinangan, Bahasa Kias yang Menjaga Martabat Adat

Oleh: Muhammad Fawzan


Makna Pantun Minang dalam prosesi pinangan tak pernah lepas dari suasana hening yang sarat harap. Di sebuah rumah gadang, ketika rombongan pihak laki-laki datang membawa maksud baik, kata-kata tidak disampaikan secara lugas. Ia dibalut kias, disampaikan perlahan lewat pantun yang berlapis makna. Di situlah adat Minangkabau menunjukkan kehalusannya.

Dalam tradisi masyarakat Sumatera Barat, pinangan bukan sekadar pertemuan dua keluarga. Ia adalah peristiwa adat yang dijalankan dengan tata cara dan bahasa yang terjaga. Pantun menjadi medium utama, bukan hanya untuk memperindah percakapan, tetapi juga untuk menjaga martabat kedua belah pihak.

Bahasa Kias dalam Tradisi Lisan Minangkabau

Sejak lama, masyarakat Minangkabau dikenal kuat dalam tradisi lisan. Petatah-petitih, mamangan, hingga pantun menjadi bagian dari cara bertutur sehari-hari. Dalam prosesi pinangan, penggunaan pantun mencerminkan prinsip adat yang menjunjung tinggi kesantunan.

Maksud kedatangan tidak pernah diucapkan secara langsung. Rombongan pihak laki-laki akan membuka pembicaraan dengan pantun pembuka, biasanya berisi pujian kepada tuan rumah dan ungkapan penghormatan. Pihak perempuan menjawab dengan pantun balasan, yang sekaligus menjadi isyarat apakah pembicaraan dapat dilanjutkan.

Struktur pantun yang terdiri atas sampiran dan isi dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan secara halus. Sampiran menghadirkan gambaran alam atau kehidupan sehari-hari, sementara isi memuat maksud sebenarnya. Dengan cara ini, maksud meminang disampaikan tanpa terkesan mendesak atau memaksa.

Menjaga Martabat dan Menghindari Rasa Malu

Makna Pantun Minang dalam prosesi pinangan juga berkaitan erat dengan konsep malu dan harga diri dalam adat. Jika pinangan belum dapat diterima, penolakan pun disampaikan lewat pantun yang sama halusnya. Tidak ada kata yang menjatuhkan, tidak ada ungkapan yang melukai.

Bahasa kias memberi ruang bagi kedua pihak untuk menjaga kehormatan. Dalam adat Minangkabau yang berlandaskan prinsip “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”, tutur kata menjadi cerminan akhlak. Karena itu, pantun bukan sekadar tradisi sastra, melainkan perangkat etika dalam pergaulan adat.

Di banyak nagari, prosesi ini dipimpin oleh ninik mamak atau penghulu yang fasih berpantun. Kemampuan merangkai kata menjadi kebanggaan tersendiri. Ia menunjukkan keluasan pengetahuan adat sekaligus kematangan dalam memimpin musyawarah.

Simbol Musyawarah dan Kesepakatan

Prosesi pinangan dalam adat Minangkabau pada dasarnya adalah musyawarah keluarga. Pantun menjadi jembatan untuk mencapai mufakat. Setelah maksud disampaikan dan dibalas dengan pantun yang menyatakan penerimaan, barulah pembicaraan masuk pada hal-hal teknis yang lebih rinci.

Di sinilah terlihat bahwa pantun bukan sekadar hiasan. Ia membuka jalan menuju kesepakatan. Bahasa yang indah menciptakan suasana teduh, membuat pembicaraan yang sensitif terasa lebih ringan.

Makna Pantun Minang dalam prosesi pinangan akhirnya menjadi cermin karakter masyarakatnya, santun, berhati-hati, dan menjunjung tinggi kehormatan. Di tengah perubahan zaman yang serba cepat dan lugas, tradisi ini mengingatkan bahwa kata-kata memiliki daya yang besar.

Di rumah gadang yang masih tegak berdiri di berbagai penjuru Sumatera Barat, pantun-pantun itu mungkin terus dilantunkan. Ia menjadi pengikat antara generasi lama dan generasi baru, menjaga agar adat tetap hidup, bukan hanya dalam upacara, tetapi juga dalam cara bertutur dan bersikap.


Wartawan : Muhammad Fawzan
Editor : melatisan

Tag :Makna, Pantun Minang, Prosesi, Pinangan, Bahasa Kias, Menjaga, Martabat, Adat

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com