- Rabu, 5 Agustus 2026
Tradisi Dan Kehidupan Sosial Masyarakat Desa Salak Dan Talawi Di Tengah Aktivitas Pertambangan Batubara
Tradisi dan kehidupan sosial masyarakat Desa Salak dan Kecamatan Talawi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah pertambangan batubara Ombilin di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Sejak ditemukannya cadangan batubara Ombilin oleh ahli geologi Belanda, Dr. Willem Hendrik de Greve, pada tahun 1868, kawasan Talawi mulai mengalami perubahan. Kehadiran tambang yang kemudian mulai dieksploitasi secara besar-besaran pada akhir abad ke-19 membawa pengaruh terhadap kehidupan masyarakat nagari, termasuk Desa Salak yang berada di wilayah Talawi. Meski aktivitas pertambangan berkembang pesat, masyarakat tetap mempertahankan adat Minangkabau, kehidupan bergotong royong, serta berbagai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Sebelum pertambangan berkembang, masyarakat Talawi hidup dari sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan. Sawah-sawah di lembah serta ladang di kawasan perbukitan menjadi sumber utama penghidupan. Setelah jalur kereta api Ombilin–Teluk Bayur dibangun dan aktivitas tambang semakin ramai pada dekade 1890-an, sebagian masyarakat mulai bekerja sebagai buruh tambang, pengangkut hasil tambang, maupun pedagang yang melayani kebutuhan para pekerja. Namun demikian, kehidupan adat tetap berjalan melalui lembaga nagari yang dipimpin penghulu serta musyawarah di balai adat.
Gotong Royong Nagari
Tradisi gotong royong atau kerja bersama menjadi salah satu ciri kehidupan masyarakat Desa Salak dan Talawi hingga sekarang. Dalam masyarakat Minangkabau, kegiatan ini dilakukan ketika memperbaiki jalan kampung, membersihkan saluran irigasi, membangun surau, hingga membantu pelaksanaan alek nagari. Semangat kebersamaan tersebut membuat masyarakat mampu menjaga hubungan sosial meskipun sebagian warganya bekerja di sektor pertambangan yang memiliki jadwal kerja berbeda dengan petani.
Di Desa Salak, budaya gotong royong juga terlihat dalam pengelolaan lahan pertanian dan fasilitas umum. Warga bersama-sama membersihkan sawah, memperbaiki bendungan kecil, serta menjaga sumber air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Nilai "barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang" tetap menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat. Kehadiran tambang tidak menghilangkan semangat kebersamaan yang telah tumbuh sejak lama dalam sistem sosial nagari Minangkabau.
Surau dan Kehidupan Adat
Surau memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Talawi dan Desa Salak. Selain menjadi tempat ibadah, surau berfungsi sebagai pusat pendidikan agama, tempat belajar mengaji, serta ruang berkumpul para pemuda. Tradisi tersebut telah berkembang sejak Islam menyebar luas di Minangkabau melalui ulama seperti Syekh Burhanuddin pada abad ke-17. Di kawasan Talawi, surau tetap menjadi bagian penting kehidupan masyarakat meskipun aktivitas pertambangan berlangsung selama puluhan tahun.
Di samping surau, balai adat tetap menjalankan fungsinya sebagai tempat bermusyawarah para ninik mamak dalam menyelesaikan persoalan masyarakat. Berbagai kegiatan adat seperti batagak pangulu, baralek, kematian, hingga pembagian harta pusaka masih diselesaikan berdasarkan prinsip adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Tradisi tersebut memperlihatkan bahwa modernisasi akibat pertambangan tidak menghapus sistem sosial yang telah lama hidup di tengah masyarakat.
Pertanian dan Tambang
Meskipun Talawi dikenal sebagai salah satu kawasan tambang batubara, banyak masyarakat tetap mempertahankan sektor pertanian sebagai sumber penghidupan. Sawah, kebun karet, ladang jagung, serta tanaman palawija masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit keluarga yang membagi pekerjaan, di mana sebagian anggota bekerja di tambang sementara anggota keluarga lainnya mengelola lahan pertanian.
Kondisi ini melahirkan hubungan yang unik antara sektor pertanian dan pertambangan. Hasil pertanian memenuhi kebutuhan pangan masyarakat lokal, sedangkan penghasilan dari tambang membantu meningkatkan ekonomi keluarga. Pola kehidupan seperti ini telah berlangsung selama beberapa generasi dan menjadi ciri khas masyarakat Talawi. Bahkan setelah produksi tambang tidak lagi sebesar masa kolonial, banyak warga tetap memadukan pekerjaan di sektor pertanian, perdagangan, dan jasa.
Pasar Talawi
Pasar Talawi menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat dari berbagai desa di sekitarnya. Sejak masa kolonial Belanda, pasar ini menjadi tempat bertemunya petani, pedagang, serta pekerja tambang untuk melakukan transaksi hasil bumi maupun kebutuhan sehari-hari. Beras, sayur-mayur, hasil kebun, ikan air tawar, hingga makanan tradisional diperjualbelikan di pasar yang menjadi denyut kehidupan ekonomi masyarakat Talawi.
Selain menjadi tempat perdagangan, pasar juga menjadi ruang interaksi sosial. Masyarakat Minangkabau berbaur dengan warga keturunan Jawa, Batak, Sunda, maupun Tionghoa yang datang ke Sawahlunto pada masa perkembangan tambang. Hubungan antarmasyarakat tersebut berlangsung secara alami melalui aktivitas jual beli, kehidupan bertetangga, hingga berbagai kegiatan adat dan keagamaan yang dilaksanakan bersama.
Editor : melatisan
Tag :Tradisi, dan Kehidupan Sosial, Masyarakat, Desa Salak, dan Talawi, di Tengah Aktivitas, Pertambangan Batubara
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
PERAN PEREMPUAN DI SAWAHLUNTO DALAM MENOPANG KEHIDUPAN KOTA TAMBANG
-
JEJAK BANGUNAN KOLONIAL SAWAHLUNTO YANG MENJADI SAKSI KEHIDUPAN KOTA TAMBANG
-
TRADISI KULINER PEKERJA TAMBANG SAWAHLUNTO DAN PENGARUH BUDAYA YANG MELAHIRKAN BERBAGAI MAKANAN KHAS
-
SEJARAH TEROWONGAN TAMBANG DI SAWAHLUNTO DAN TEKNOLOGI PERTAMBANGAN PADA AKHIR ABAD KE-19
-
KEHIDUPAN MASYARAKAT MULTIETNIS DI SAWAHLUNTO YANG TERBENTUK DARI AKTIVITAS PERTAMBANGAN
-
RME SUDAH DIGUNAKAN, TETAPI APAKAH SUDAH BENAR-BENAR BERMANFAAT?
-
PERAWATAN GIGI ANAK TANPA RASA TAKUT: MENGENAL KEDOKTERAN GIGI MINIMAL INVASIF
-
MAHASISWA KKN REGULER II UNAND DEMONSTRASIKAN PEMBUATAN PUPUK BOKASHI BERSAMA KWT KORONG KOTO PANJANG
-
MENJAGA NILAI ABS-SBK DI TENGAH FENOMENA LGBT DI SUMATERA BARAT: ANTARA TANTANGAN SOSIAL, MORAL, DAN TANGGUNG JAWAB BERSAMA
-
MENZIARAHI AKAR SEJARAH SEMEN PADANG FC DI LAWANG