HOME VIRAL UNIK

  • Rabu, 15 Juli 2026

Tradisi Berburu Burung Dan Memelihara Burung Kicau Dalam Kehidupan Masyarakat Minangkabau

Tradisi Berburu Burung dan Memelihara Burung Kicau dalam Kehidupan Masyarakat Minangkabau

Oleh: Andika Putra Wardana

Tradisi berburu burung dan memelihara burung kicau telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Minangkabau di sejumlah daerah. Kegiatan ini masih dapat dijumpai di wilayah Agam, Tanah Datar, Limapuluh Kota, Solok, Pasaman, hingga Pesisir Selatan yang memiliki kawasan hutan, perbukitan, dan persawahan sebagai habitat berbagai jenis burung. 

Bagi sebagian masyarakat, berburu burung dahulu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan, sementara memelihara burung berkembang sebagai hobi sekaligus simbol ketekunan dalam merawat satwa. Tradisi tersebut memperlihatkan hubungan yang erat antara masyarakat Minangkabau dengan lingkungan alam yang menjadi sumber kehidupan mereka.

Sejarah Tradisi

Sejak dahulu masyarakat Minangkabau hidup berdampingan dengan kawasan hutan dan lahan pertanian yang menjadi tempat hidup berbagai jenis burung. Burung balam, punai, perkutut, tekukur, murai batu, hingga kacer banyak ditemukan di hutan-hutan Sumatera Barat. Pada masa ketika sumber protein hewani masih terbatas, sebagian masyarakat memanfaatkan burung hasil buruan sebagai bahan pangan.

Perburuan dilakukan menggunakan alat sederhana seperti jerat, jaring, getah pohon, maupun sumpit di beberapa daerah pedalaman. Kegiatan tersebut biasanya dilakukan oleh para pemuda setelah musim tanam atau pada waktu senggang, tanpa mengganggu pekerjaan utama mereka sebagai petani.

Selain untuk konsumsi, beberapa jenis burung mulai dipelihara karena suara kicaunya yang merdu. Burung perkutut dan murai batu menjadi salah satu jenis yang cukup digemari masyarakat Minangkabau sejak puluhan tahun lalu. 

Di lingkungan nagari, suara burung yang dipelihara di halaman rumah menjadi bagian dari suasana pagi yang akrab. Tidak sedikit ninik mamak maupun tokoh masyarakat yang memelihara burung sebagai hiburan setelah bekerja di sawah atau kebun. Kebiasaan tersebut kemudian berkembang menjadi tradisi yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Burung Kicau dalam Kehidupan Masyarakat

Memelihara burung kicau bukan hanya berkaitan dengan kesenangan pribadi. Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, kegiatan ini juga melatih kesabaran, ketelatenan, dan kedisiplinan. Burung harus diberi makan secara teratur, kandangnya dibersihkan setiap hari, serta dijaga kesehatannya agar tetap aktif berkicau. 

Nilai-nilai tersebut selaras dengan budaya Minangkabau yang menghargai kerja keras dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Di sejumlah daerah seperti Kota Bukittinggi, Payakumbuh, dan Padang, komunitas pecinta burung mulai berkembang sejak dekade 1980-an dan semakin ramai setelah berbagai lomba burung berkicau diselenggarakan. Burung murai batu, kacer, anis merah, cucak hijau, hingga kenari menjadi jenis yang banyak dipelihara. 

Kegiatan perlombaan bukan hanya menjadi ajang menilai kualitas suara burung, tetapi juga mempertemukan para penghobi dari berbagai kabupaten di Sumatera Barat. Dari pertemuan tersebut lahir hubungan sosial dan jaringan ekonomi baru melalui jual beli burung, pembuatan sangkar, hingga penyediaan pakan dan perlengkapan perawatan.

Meski demikian, tradisi berburu burung mulai mengalami perubahan seiring meningkatnya kesadaran terhadap pelestarian satwa liar. Berbagai jenis burung kini telah dilindungi oleh pemerintah karena populasinya terus menurun akibat perburuan dan berkurangnya kawasan hutan. 

Oleh karena itu, masyarakat semakin memahami bahwa tidak semua burung boleh ditangkap dari alam. Banyak penghobi kini memilih memelihara burung hasil penangkaran yang legal sehingga keberadaan satwa liar tetap terjaga.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Tradisi, Berburu Burung, dan Memelihara, Burung, Kicau, dalam Kehidupan, Masyarakat Minangkabau

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com