HOME OPINI OPINI

  • Sabtu, 13 Juni 2026

Jenderal Abdul Haris Nasution Dan Perang Kamang 1908

Penulis: Irwan Setiawan
Penulis: Irwan Setiawan

Jenderal Abdul Haris Nasution dan Perang Kamang 1908

Oleh : Irwan Setiawan

Perang Kamang adalah sebuah gerakan sosial dengan latar protes terhadap pemerintah Kolonial Hindia Belanda atas penerapan beberapa jenis pajak seperti pajak perorangan, pajak tanah, pajak hewan ternak dan beberapa jenis pungutan pajak lainnya. Masyarakat Kamang menolak pembayaran pajak tersebut hingga meletuslah Perang Kamang pada 15-16 Juni 1908. 

Perang yang digerakkan oleh tokoh agama H. Abdul Manan dan didukung oleh tokoh-tokoh masyarakat lainnya. Buya H. Abdul Manan dan sembilan puluhan pejuang gugur dalam perang tersebut. Sementara itu ada juga yang ditangkap oleh Belanda, dihukum dan dibuang seperti halnya H. Ahmad Marzuki, sang penulis Nazam Perang Kamang yang juga anak H. Abdul Manan.

Peristiwa besar ini begitu berdampak dimasanya, orang-orang di Fort de Kock menjadi takut dan khawatir akan keamanan kota. Kuda nenek Mohammad Hatta juga ditembak sewaktu perang ini terjadi. Bahkan dicatat oleh sang proklamator sebagai sebuah jejak sejarah penting dalam hidupnya bahwa “sang penjajah Belanda itu kejam”. 

Namun seiring perjalanan waktu, cara kita melihat peristiwa ini semakin hari semakin mengalami kemunduran. Kalau ada yang merasa kata-kata itu terlalu mendramatisir, coba kita baca beberapa catatan yang ditemukan dalam narasi-narasi catatan sejarah yang terdahulu.

Setelah kemerdekaan, usaha penyebarluasan sejarah peristiwa Perang Kamang 1908 serta tokoh H Abdul Manan terus dilakukan. Salah satu buktinya adalah dengan munculnya peristiwa di Kamang tahun 1908 dalam berbagai tulis ilmiah dan non ilmiah. Bahkan dalam bentuk pelaksanaan seminar-seminar tentang sejarah Perang Kamang 1908. 

Coba kita runut supaya lebih terstruktur, pada tahun 1940 terbitlah novel yang dibuat dengan setting Perang Kamang 1908. Dari bebagai tulisan yang ada dilaksanakan sebuah pementasan sandiwara Kamang 1908 yang ditampilkan di Gedung Kesenian Jakarta pada 14 Juni 1962. Chairul Saleh, yang merupakan ketua MPRS dimasa itu ikut memberi sambutan dalam sandiwara berlatar sejarah itu. 
Kelanjutan dari sandiwara Kamang 1908 di Gedung Kesenian Jakarta, serta wujud penghargaan dan penghormatan bagi pejuang Perang Kamang 1908, pemerintah mengutus Menteri Koordinator Keamanan dan Pertahanan Jendral Abdul Haris Nasution untuk datang ke Kamang. 

Saat kedatangannya di Kamang, sang jendral bertindak sebagai inspektur upacara peringatan Perang Kamang 15 Juni 1963. Upacara peringatan yang pertama kali dilakukan ini berlangsung di lapangan sepak bola Kamang Mudiak atau lapangan Sekolah Dasar Negeri Pakan Jumat II. Hal ini masih diingat jelas oleh M. Yuzar Kari Mudo, yang saat upacara peringatan Perang Kamang pertama itu bertindak sebagai penggerek bendera. Upacara dengan inspektur seorang jendral dan menjabat sebagai Menko Kemanan dan Pertahanan itu merupakan momen penting selama dilakukannya upacara peringatan Perang Kamang 1908. Pada tahun-tahun berikutnya bahkan sampai sekarang upacara dengan inspektur upacara selevel seorang jenderal dan pejabat setingat mentri seperti ini belum terulang kembali. 

Seusai upacara Abdul Haris Nasution mengunjungi makam H. Abdul Manan yang terletak di dusun Kampung Budi. Iapun meminta agar makam itu dipugar dan dirawat dengan baik. Setelah mendatangi makam pahlawan itu Jendral A. H Nasution juga berdiskusi dengan para perantau Kamang untuk membangun tugu peringatan di tempat kejadian Perang Kamang di Kampung Tangah, Pakan Sinayan. Kunjunganpun dilanjutkan ke kompleks makam pahlawan Perang Kamang di Taluak, Kamang Hilir. Dan agenda selanjutnya melakukan peletakan batu pertama tugu peringatan Perlawanan Rakyat Sumatera Barat Menentang Kolonialisme Belanda 15 Djuni 1908 di Bukittinggi.

Tugu ini terletak di depan Rumah Sakit Umum DR. Achmad Muchtar Bukittinggi, dan masih bisa dikunjungi sampai sekarang.

Setelah melakukan diskusi yang cukup panjang dengan berbagai kondisi dimasa itu serta mendengar masukan untuk pembangunan tugu peringatan peristiwa Perang Kamang 1908 di lokasi kejadian, maka dihimpunlah dana oleh masyarakat Kamang Mudiak untuk kelanjutan proses pembangunan. Tugu itu dinamakan dengan tugu Tetesan Darah Perang Kamang 1908 yang diresmikan oleh Gubernur Sumatera Barat Azwar Anas saat peringatan Perang Kamang 15 Juni 1982. Selain tugu itu ada pula tugu Peringatan Perang Kamang 1908 yang dibangun di Simpang Pintu Koto, Kamang Hilir.

Kisah menasionalnya Perang Kamang juga pernah kami telusuri dari beberapa tokoh yang terlibat dalam pembuatan film Perang Kamang 1908. Film dengan sutradara nasional dan pemeran dari artis Jakarta ini kabarnya pernah diputar di TVRI. Namun jejak film Perang Kamang ini belum dapat dilacak kembali. Demikian besarnya rasa cinta dan bangga masyakarat akan nilai perjuangan dan semangat kemerdekaan dari kejadian Perang Kamang hingga semua berusaha menginggat dan membangun monumen untuk sebuah peristiwa ini. Bahkan di ranah sastrapun Perang Kamang melekat dalam memori kolektif dimasanya hingga masuk ke roman Kamang Affaire yang di tulis Maisir Thaib. Kamang 1908 (Drama Sebabak) yang di tulis oleh Taharuddin Hamzah dan Sjamsuddin Sjafei pada tahun 1964.
Setelah masa-masa indah tentang keharuman kisah Perang Kamang, dalam masa-masa berikutnya bentuk upacara dan peringatan perang ini makin mengalami kemunduran. Upacara seringkali dipimpin oleh pejabat setingkat Bupati atau Wakil Bupati di lapangan upacara kecamatan. Dan terkadang dihadiri oleh pejabat dari provinsi Sumatera Barat ada kalanya dihadiri Gubernur atau hanya diwakili Kepala Dinas Provinsi atau asisten Gubernur.

Dalam beberapa kesempatan diskusi dan tukar pendapat pernah terdengar selentingan bahwa upacara peringatan Perang Kamang dan Manggopoh atau Perang Belasting ini akan diadakah di level provinsi dimana semua daerah tingkat dua Sumatera Barat ikut memperingati, mengenang perjuangan, mendoakan para pahlawan dan tentunya mengambil pelajaran dari peritiwa besar itu untuk kemajuan daerah kedepan. Namun hal itu entah kapan akan terwujud? Atau masih akan tetap sama diperingati di halaman Kantor Camat Kamang Magek.

Apakah kita menempatkan peristiwa ini sebagai sebuah kajian sejarah lokal yang berdampak kecil? atau melihatnya sebagai sebuah peristiwa besar yang memberi banyak pengaruh dan pelajaran bagi Sumatera Barat dan Indonesia? Hal ini berpulang pada kacamata sang pembuat kebijakan.

Tiap nagari punya episode yang bisa dibanggakannya dalam sejarah negerinya. Tapi episode Perang Kamang 1908 menjadi kebanggaan masyarakat Minangkabau, Peristiwa yang memicu konflik dan perjuangan dalam menentang kebijakan pelaksanaan pajak (belasting) di seluruh Minangkabau.


Tag :Jenderal Abdul Haris Nasution, Perang Kamang 1908

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com