- Kamis, 23 Juli 2026
Menziarahi Akar Sejarah Semen Padang FC Di Lawang
Menziarahi Akar Sejarah Semen Padang FC di Lawang
Angin dingin berembus lembut mengusap wajah kami, membawa kesegaran khas dataran tinggi. Di atas sana, matahari sebenarnya sedang tegak lurus selepas zuhur. Namun, teriknya kalah oleh arak-arak kabut yang pelan-pelan turun menyelimuti perjalanan.
Hari itu, Senin siang tanggal 6 Juni 2027, kami sedang melaju santai menuju sebuah desa di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Lawang, nama daerah di Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menyambut kami dengan hawa sejuknya yang setia menemani sepanjang jalan.
Perjalanan kali ini terasa sangat spesial. Saya tidak sendiri. Saya ditemani oleh seorang sahabat baik, Rivalwan, S.Si., M.Pd., Aefo-P, seorang dosen ilmu olahraga yang sehari-hari mengajar di Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah. Sebagai seorang akademisi, langkah kaki Rivalwan hari itu memiliki magnet tersendiri. Kami sedang menuju episentrum sejarah, tempat di mana ketangguhan salah satu klub sepak bola paling ikonis di Indonesia bermula. Kami sedang menjemput sepotong sejarah kuno dan kisah inspiratif dari sang arsitek profesionalisasi Semen Padang FC.
Sambutan Hangat di Rumah Gadang Ratusan Tahun
Sepeda motor akhirnya kami parkir tepat di sebelah sebuah bangunan yang langsung mencuri perhatian: sebuah rumah gadang yang tampak anggun dan berwibawa. Garis-garis arsitekturnya menyiratkan usia yang tak lagi muda—rupanya sudah ratusan tahun berdiri—namun tiang-tiang kayu dan atap gonjongnya masih tegak kokoh menantang zaman.
Belum sempat kami mengagumi lebih lama, sebuah senyuman hangat menyapa dari balik pintu. Rupanya kami sudah ditunggu. Sang tuan rumah, Ibu Irna Mayuni, menyambut kami dengan keramahan yang begitu tulus. Beliau adalah istri dari almarhum Drs. Joni Marsinih, SE, sosok legendaris yang selama ini kita kenal sebagai mantan Direktur Utama PT Semen Padang dan PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri). Tidak sendiri, Ibu Irna didampingi oleh Alvin Joni Angku Datuak Kayo.
Kami dipersilakan masuk dan langsung disuguhi secangkir kopi hangat yang nikmat. Di ruang tamu yang nyaman itu, obrolan mengalir begitu saja tanpa sekat. Kami bicara panjang lebar, melintasi ruang dan waktu, mengenang kembali rekam jejak gemilang sang suami dan ayah.
![]() |
Visi Besar Sang Eksekutor Kabau Sirah
Bagi pencinta sepak bola nasional, nama Semen Padang FC atau yang akrab dijuluki Kabau Sirah adalah simbol harga diri sepak bola Ranah Minang. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa fondasi profesionalisme klub ini dirumuskan lewat keberanian seorang Joni Marsinih.
Meskipun berlatar belakang sebagai dosen di Universitas Andalas (Unand), ternyata lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini sangat cermat menyimak perjalanan kompetisi sepak bola nasional. Dalam otobiografinya, Joni mencatat bahwa semuanya bermula dari ide kolumnis Kadir Yusuf pada era 70-an yang mendorong sepak bola menjadi sebuah pilihan profesi. Ide tersebut kemudian diaktualisasikan oleh PSSI dengan meluncurkan kompetisi Galatama.
Pada saat yang sama, masyarakat Sumatera Barat pun merindukan kehadiran sebuah kesebelasan tangguh yang dapat menjadi kebanggaan, sebagaimana kejayaan PSP Padang pada era 50-an. Keinginan masyarakat Sumbar itu direspons cepat oleh Hasan Basri Durin (Wali Kota Padang kala itu) dan Sjahrul Ujud (Komda PSSI Sumbar) dengan meminta PT Semen Padang membentuk kesebelasan Galatama.
Untuk mewujudkan mimpi tersebut, Joni Marsinih kemudian membentuk tim pendirian Galatama Semen Padang yang beranggotakan Masri Saridam dan Rustam Gafur. Joni optimis proses ini akan berjalan lancar karena PT Semen Padang telah memiliki Kesebelasan Persatuan Olahraga Semen Padang (Porsep), sebuah wadah yang sebelumnya dibentuk saat Azwar Anas menjabat sebagai Dirut PT Semen Padang. Singkatnya, Porsep merupakan cikal bakal berdirinya Galatama Semen Padang. Fakta inilah yang menempatkan sosok Azwar Anas sebagai tokoh utama pendiri Galatama Semen Padang (Semen Padang FC).
Karena tim yang akan dibentuk berada di bawah naungan PT Semen Padang, Joni Marsinih selaku Dirut tentu harus mengantongi izin dari Dirjen Kimia Dasar Kementerian Perindustrian, yang saat itu dijabat oleh Dr. Ir. Hartarto Sastrosoenarto. Gayung bersambut, Hartarto menanggapi rencana tersebut dengan sangat positif atas dasar bahwa sepak bola adalah olahraga rakyat yang sangat digemari. Hartarto berharap agar nantinya Galatama Semen Padang dikelola secara profesional layaknya klub-klub Galatama papan atas lainnya.
Pada tanggal 1 November 1980, Surat Keputusan (SK) pendirian klub resmi ditandatangani langsung oleh Joni Marsinih. Manajemen tim dipercayakan kepada Rustam Gafur sebagai manajer dan Suhaimi Irwan sebagai wakilnya, sementara EA Arlis dan Jenniwardin ditunjuk sebagai pelatih dan asisten pelatih. Skuad perdana diisi oleh putra-putra terbaik Sumatera Barat jebolan Porsep serta beberapa pemain cabutan dari Pardetex Medan. Tanpa membuang waktu, manajemen langsung mendaftarkan tim ini ke kompetisi kasta kedua Galatama (Liga Sepak Bola Utama).
Di sinilah letak catatan sejarah besarnya: langkah Joni membawa klub internal perusahaan ini berlaga di level nasional sempat memicu perdebatan sengit di internal manajemen terkait pembengkakan anggaran dan urgensi bisnis. Namun, berbekal visi bisnis jangka panjang dan manajemen keuangan yang matang, Joni bergeming pada keputusannya.
Keberanian itu berbuah manis secara instan. Pada laga perdana Divisi II Galatama yang disaksikan langsung oleh Joni Marsinih di Stadion Imam Bonjol, Padang, PS Semen Padang langsung tancap gas menggilas PS Tempo Utama dengan skor telak 4-0 melalui hattrick striker lokal fenomenal, Aprius. Skuad awal yang dihuni nama-nama legendaris seperti Dahlan, Zalfi, Suharno, Edi Muchni, hingga Lasdiarman berhasil merengkuh gelar juara Divisi II Galatama pada tahun 1982 sekaligus merebut tiket promosi ke Divisi Utama. Keputusan berani Joni Marsinih membawa tim pabrik ini ke kancah nasional menjadi batu pijakan pertama yang mentransformasi tim lokal menjadi klub profesional pertama di Sumatera Barat.
Lebih jauh lagi, Joni Marsinih meletakkan standar kesejahteraan pemain yang sangat visioner pada masanya. Atas usulan manajer Suhaimi Irwan, Joni menyetujui pengangkatan para pemain Semen Padang FC menjadi karyawan tetap PT Semen Padang. Gelombang pertama dimulai pada tahun 1983 dengan mengangkat tujuh orang pemain, disusul sembilan orang pada 1989, hingga terus berlanjut ke generasi berikutnya. Langkah ini memberikan jaminan masa depan yang pasti bagi para atlet dan menjadi alasan utama mengapa jersey merah Kabau Sirah selalu dibela dengan totalitas dan loyalitas tanpa batas.
Kebijakan visioner ini menyempurnakan fondasi kokoh yang telah diletakkan oleh Azwar Anas, yang sebelumnya membangun kultur olahraga dan seni di lingkungan perusahaan lewat Porsep, Lime Stone Band, hingga Marching Band Karang Putih. Di tangan Joni Marsinih, warisan kultural tersebut disulap menjadi sebuah industri sepak bola yang mandiri dan profesional.
![]() |
Jejak Emas di Bumi Sriwijaya dan Keabadian Jalan Joni Marsinih
Magis kepemimpinan Joni Marsinih tidak luntur saat ia dipindahtugaskan untuk memimpin PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) di Palembang pada tahun 1983. Di Bumi Sriwijaya, ia mereplikasi rumus kesuksesan yang sama dengan mendirikan PS Pusri Galatama. Ia menarik talenta-talenta top nasional seperti Taufik Yunus, Arman Dadi, Ucok Shanan, Herman Kadiaman, hingga Abdul Rahman Gurning untuk memperkuat tim pabrik pupuk tersebut.
Dedikasi, integritas, dan jasa besar Joni Marsinih selama memimpin PT Pusri meninggalkan warisan yang tak lekang oleh waktu. Sebagai bentuk penghormatan tertinggi untuk mengabadikan sumbangsihnya, pihak manajemen PT Pusri memberikan penghargaan luar biasa: mengabadikan nama Joni Marsinih sebagai nama jalan utama di dalam kompleks PT Pusri Palembang. Penghargaan ini menjadi bukti sahih bahwa ke mana pun kakinya melangkah, Joni selalu meninggalkan jejak emas yang dihormati, baik dalam dunia industri maupun olahraga nasional.
Harmoni Dua Tokoh Bangsa
Dari hangatnya pembicaraan kami sore itu, dapat disimpulkan bahwa Joni Marsinih adalah sosok yang sangat bersahaja dan rendah hati. Namanya mungkin jarang mencuat menjadi tajuk utama berita dalam kisah perjalanan panjang Semen Padang FC. Nama Azwar Anas memang lebih banyak disorot media sebagai sosok pendiri utama, meski fakta sejarah tertulis dengan jelas bahwa kelahiran dan legalitas PS Galatama Semen Padang justru terwujud nyata lewat goresan pena kepemimpinan seorang Joni Marsinih.
Keduanya tidak saling meniadakan, melainkan berharmoni menyusun kepingan sejarah yang utuh bagi kebanggaan sepak bola Ranah Minang.
Tag :Menziarahi, Akar Sejarah, Semen Padang FC, di Lawang
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
PERKUAT LAYANAN DASAR BERBASIS DIGITAL, PEMPROV SUMBAR LUNCURKAN SAPA SPM DAN RUNDIANG SPM
-
DARI SUNGAI BATANGHARI KE RANTAI LOGISTIK NASIONAL, PTP NONPETIKEMAS JAMBI MENJAGA ARUS DISTRIBUSI DAN MENGGERAKKAN EKONOMI
-
DARI PASAR KE TANAH SUCI: KISAH PAK DAS, BURUH ANGKUT BATUSANGKAR YANG MENJEMPUT KEMULIAAN DI KURSI BISNIS GARUDA
-
IKATAN MAHASISWA TIGO LURAH (IKMTL) GELAR FESTIVAL SENI OLAHRAGA TIGO LURAH 2026, BERTEMA "RASO KA KAMPUANG, KARYA UNTUAK NAGARI"
-
LMJ BERBAGI: SEDERHANA, TETAPI PENUH MAKNA
-
MENZIARAHI AKAR SEJARAH SEMEN PADANG FC DI LAWANG
-
JALAN PANJANG KEMANDIRIAN PERS KITA, CATATAN HENDRY CH BANGUN
-
TOLERANSI DAN KETEGUHAN NILAI: MENYIKAPI ISU LGBT DI TENGAH MASYARAKAT KITA
-
PERKUAT LAYANAN DASAR BERBASIS DIGITAL, PEMPROV SUMBAR LUNCURKAN SAPA SPM DAN RUNDIANG SPM
-
MELAMPAUI NASIONALISME SIMBOLIK

.jpeg)