- Kamis, 9 Juli 2026
Melestarikan Permainan Tradisi Anak Nagari, Mahasiswa Sastra Minangkabau FIB Unand Pentaskan Randai
Melestarikan Permainan Tradisi Anak Nagari, Mahasiswa Sastra Minangkabau FIB Unand Pentaskan Randai
(Mahasiswa Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)
Mahasiswa Program Studi Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas angkatan 2024 sukses menggelar pementasan mata kuliah Randai di PDIM Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat pada Sabtu, 27 Juni 2026. Mengusung tema "Melestarikan Permainan Tradisi Anak Nagari Minangkabau", kegiatan ini menjadi ujian praktik akhir mata kuliah Randai sekaligus wujud nyata komitmen mahasiswa dalam menjaga, melestarikan, dan memperkenalkan seni budaya Minangkabau kepada masyarakat.
Pementasan tersebut dilaksanakan di PDIM Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat, salah satu ruang yang mendukung pelestarian, pengembangan, dan apresiasi terhadap kebudayaan daerah. Kegiatan ini terbuka untuk umum sehingga tidak hanya dihadiri oleh dosen dan mahasiswa, tetapi juga keluarga pemain serta masyarakat yang ingin menyaksikan pertunjukan randai.
Tema "Melestarikan Permainan Tradisi Anak Nagari Minangkabau" dipilih sebagai bentuk ajakan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak melupakan permainan tradisional dan kesenian daerah yang menjadi bagian dari identitas budaya Minangkabau. Melalui randai, mahasiswa ingin menunjukkan bahwa warisan budaya tetap dapat dikenalkan dengan cara yang menarik dan relevan di tengah perkembangan zaman.
Pementasan ini merupakan hasil proses pembelajaran selama satu semester di bawah bimbingan dosen pengampu mata kuliah Randai, Dr. Drs. Khairil Anwar, M.Si. dan Dra. Satya Gayatri, M.Hum. Selama mengikuti mata kuliah tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga mendalami gerak galombang, seni peran, dialog, dendang, musik tradisional, serta nilai-nilai adat yang terkandung di dalamnya. Pementasan ini menjadi media bagi mahasiswa untuk menerapkan seluruh materi yang telah dipelajari secara langsung di hadapan penonton.
Di balik penampilan yang memukau, terdapat proses panjang yang penuh perjuangan. Seluruh mahasiswa menjalani latihan selama berbulan-bulan untuk mempersiapkan pementasan. Latihan dilakukan secara rutin, mulai dari pembagian peran, pendalaman karakter, menghafal dialog, menyusun gerak galombang, memadukan musik pengiring, hingga menyiapkan kostum dan properti. Di tengah padatnya jadwal perkuliahan dan tugas akademik, para mahasiswa tetap menunjukkan semangat, kedisiplinan, dan kekompakan demi memberikan penampilan terbaik di atas panggung.
Pementasan menghadirkan dua pertunjukan randai yang mengangkat persoalan adat Minangkabau yang masih relevan dengan kehidupan masyarakat.
Penampilan pertama, Randai Cinto Sasuku mengangkat kisah dua insan yang saling mencintai, tetapi berasal dari suku yang sama. Dalam adat Minangkabau, perkawinan sesuku tidak diperbolehkan karena dianggap masih berada dalam satu garis keturunan. Melalui kisah tersebut, mahasiswa menyampaikan pesan tentang pentingnya menjunjung tinggi nilai-nilai adat, meskipun harus dihadapkan pada pilihan yang sulit antara cinta dan tradisi.
Sementara itu, Randai Salisiah Adaik, mengisahkan perbedaan adat perkawinan antara masyarakat Pariaman dan Payakumbuh. Cerita ini mengangkat tradisi uang japuik yang dikenal dalam adat Pariaman, sedangkan masyarakat Payakumbuh menerapkan prinsip maksimal sasuduik dalam pelaksanaan adat perkawinan. Perbedaan tersebut menjadi konflik utama dalam cerita sekaligus menunjukkan bahwa adat Minangkabau memiliki keberagaman di setiap daerah yang patut dipahami, dihormati, dan dilestarikan.
Sejak awal hingga akhir pementasan, suasana berlangsung meriah. Penonton yang terdiri atas dosen, mahasiswa, keluarga pemain, serta masyarakat umum tampak antusias mengikuti jalannya pertunjukan. Tidak sedikit penonton yang mengabadikan setiap momen melalui foto dan video menggunakan telepon genggam, terutama saat gerakan galombang yang energik, dialog yang menghibur, serta adegan-adegan yang sarat makna. Tepuk tangan yang berkali-kali menggema menjadi bentuk apresiasi atas kerja keras seluruh pemain yang telah berlatih selama berbulan-bulan.
Usai kedua pertunjukan selesai, acara ditutup dengan permainan tambua yang dimainkan secara bersama-sama. Irama tabuhan tambua yang menggema di seluruh ruangan menciptakan suasana yang semakin meriah dan penuh semangat. Seluruh pemain, panitia, dosen, serta para penonton menikmati momen tersebut sebagai penutup rangkaian pementasan. Permainan tambua menjadi simbol kebersamaan sekaligus memperlihatkan bahwa seni tradisional Minangkabau mampu menyatukan berbagai kalangan dalam satu suasana yang hangat dan penuh kegembiraan.
Melalui pementasan ini, mahasiswa Program Studi Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas angkatan 2024 berharap randai dan berbagai kesenian tradisional Minangkabau tetap lestari, semakin dikenal, serta terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Kerja keras, semangat, dan kebersamaan yang dibangun selama berbulan-bulan latihan akhirnya terbayarkan melalui penampilan yang mendapat apresiasi dari para penonton. Pementasan ini tidak hanya menjadi ujian praktik mata kuliah, tetapi juga menjadi bukti bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga warisan budaya agar tetap hidup, berkembang, dan dikenal luas di tengah arus modernisasi.
Editor : melatisan
Tag :Melestarikan, Permainan, Tradisi Anak Nagari, Mahasiswa, Sastra Minangkabau, FIB Unand, Pentaskan Randai
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
MENGENAL PEMANFAATAN BAMBU DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT MINANGKABAU
-
MENGENAL PERKEMBANGAN USAHA KULINER MINANGKABAU DI DAERAH RANTAU
-
MENGENAL PERAN NAGARI DALAM PEMERINTAHAN ADAT MINANGKABAU HINGGA MASA KINI
-
MENGENAL TRADISI LISAN PANTANGAN DAN PETUAH ORANG TUA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT MINANGKABAU
-
MENGENAL SENI UKIR MINANGKABAU DAN MAKNA RAGAM HIAS PADA RUMAH GADANG
-
PERKUAT LAYANAN DASAR BERBASIS DIGITAL, PEMPROV SUMBAR LUNCURKAN SAPA SPM DAN RUNDIANG SPM
-
MELAMPAUI NASIONALISME SIMBOLIK
-
KETIKA KAMPUS BELAJAR DARI MASYARAKAT: MAKNA FOME DALAM MEMBENTUK TENAGA KESEHATAN MASA DEPAN
-
BOARD OF PEACE DAN INDONESIA: UJIAN KONSISTENSI DIPLOMASI PERDAMAIAN DI TENGAH KRISIS KEPERCAYAAN PUBLIK
-
JENDERAL ABDUL HARIS NASUTION DAN PERANG KAMANG 1908