- Minggu, 24 Mei 2026
Tradisi Babaia Di Surau Tua Mudiak Suliki
Tradisi Babaia di Surau Tua Mudiak Suliki
Oleh: Nur Azmi Wahida
Saat matahari mulai tenggelam di balik perbukitan Mudiak Suliki, Kabupaten Lima Puluh Kota, suasana kampung berubah menjadi sunyi dan damai. Terutama saat memasuki sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan, ada satu tradisi unik yang selalu dinanti-nanti oleh warga setempat, namanya Manjuluak Bulan.
Kalau diartikan langsung, nama tradisi ini memang terdengar tidak biasa, yaitu menjolok atau mengambil bulan dengan galah. Tapi bagi orang Mudiak Suliki, ini tentu saja bukan tentang urusan astronomi. Ini adalah sebuah kiasan lama yang penuh makna.
Maknanya adalah usaha bersama-sama warga kampung untuk menjemput berkah, mengumpulkan pahala, dan mencari malam Lailatul Qadar di penghujung Ramadan. Di saat banyak orang di kota sibuk berbelanja di pasar malam atau pusat perbelanjaan menjelang Lebaran, warga di hulu Suliki ini justru memilih berjalan kaki menembus malam, berkumpul di surau untuk merajut kembali kebersamaan mereka yang sempat renggang karena kesibukan sehari-hari.
Untuk melihat langsung bagaimana tradisi ini berjalan, kita bisa datang ke surau-surau panggung berbahan kayu jati tua yang sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu. Surau-surau ini biasanya terletak tidak jauh dari aliran sungai atau di dekat hamparan sawah warga. Udara malam di Mudiak Suliki memang terkenal sangat dingin dan menusuk tulang, apalagi kalau kabut tebal dari atas bukit sudah mulai turun menyelimuti atap rumah penduduk. Namun, rasa dingin yang menggigit itu langsung hilang begitu kita melangkah naik ke atas lantai papan surau, tepat setelah ibadah salat Tarawih dan tadarus selesai dilaksanakan.
Biasanya, saat jam dinding sudah melewati tengah malam dan kampung sudah sepi, warga justru baru memulai aktivitas hangat mereka. Di sudut belakang surau atau di dapur kecilnya, beberapa orang mulai sibuk menyalakan tungku api menggunakan kayu bakar yang kering. Menu wajib yang selalu dimasak malam itu adalah air tebu murni atau air nira yang direbus pelan-pelan di atas wajan besar sampai teksturnya agak mengental. Orang kampung menyebut hidangan manis ini dengan nama gulo-gulo saisuak. Wangi manis karamel yang keluar dari rebusan tebu itu langsung memenuhi seluruh ruangan surau, membuat suasana menjadi sangat nyaman, ramah, dan seketika mengusir rasa kantuk serta dingin yang mengepung dari luar dinding kayu.
Di atas lantai papan surau yang sudah mengkilap karena sering dilewati, semua orang duduk melingkar tanpa membeda-bedakan status sosial ataupun kekayaan. Di dalam lingkaran ini, para tetua adat atau ninik mamak yang memakai sarung tenun tebal duduk berdampingan dengan anak-anak muda yang baru saja pulang dari tanah perantauan. Ada juga para petani yang siangnya lelah mencangkul sawah, serta anak-anak remaja tanggung yang sengaja menolak tidur di rumah demi bisa ikut merasakan keseruan berkumpul bersama orang-orang dewasa di surau.
Acara inti dari malam Manjuluak Bulan ini adalah mendengarkan babaia, sebuah tradisi sastra lisan berupa melantunkan syair-syair berbahasa Minang kuno. Syair yang dibawakan malam itu biasanya berisi puji-pujian yang mengagungkan kebesaran Tuhan, kisah-kisah penuh keteladanan dari para nabi, serta petuah-petuah bijak tentang bagaimana menjalani kehidupan dengan jujur dan benar. Nadanya dibawakan dengan cengkok vokal yang sangat khas, agak mendayu-dayu dan terdengar sedih, tetapi anehnya memberikan rasa damai yang luar biasa bagi siapa saja yang mendengarnya.
Seorang tetua surau atau alim ulama yang memang dihormati di kampung akan memimpin pembacaan syair ini. Di bawah temaram lampu minyak petromak yang bergoyang pelan ditiup angin malam, suaranya yang serak-serak basah terdengar jelas membelah sunyinya malam Mudiak Suliki. Isi syairnya menjadi pengingat yang sangat menyentuh hati tentang bagaimana menjadi manusia yang baik di dunia, pentingnya menjaga kelestarian kampung halaman, serta bagaimana cara menghormati dan memuliakan seorang ibu.
Bagi anak-anak muda yang hadir malam itu, momen mendengarkan syair ini menjadi cara belajar yang paling pas dan menyenangkan. Nasehat-nasehat penting yang disampaikan lewat bait syair tidak terdengar kaku atau membosankan seperti sedang diceramahi secara resmi, melainkan terasa meresap pelan-pelan ke dalam hati mereka karena dibawakan dengan cara yang indah dan penuh perasaan. Melalui media sastra lisan inilah, nilai-nilai luhur dan sopan santun diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya secara alami tanpa ada paksaan.
Sambil menikmati alunan syair yang terus mengalir, gelas-gelas seng yang berisi kopi hitam lokal khas Suliki dan potongan lemang ketan yang hangat mulai dibagikan secara berkeliling dari tangan ke tangan. Di sinilah fungsi sosial dari tradisi Manjuluak Bulan benar-benar terasa nyata manfaatnya bagi kehidupan warga kampung.
Di sela-sela waktu istirahat pembacaan syair, ruang surau pun berubah fungsi menjadi tempat diskusi informal yang sangat santai dan penuh tawa. Masalah-masalah kecil yang sempat terjadi di kampung selama setahun terakhir seperti jadwal perbaikan saluran air sawah yang rusak, persiapan bekal untuk anak-anak muda yang mau pergi merantau ke Jakarta atau Malaysia setelah hari Lebaran nanti, sampai kesalahpahaman kecil antar tetangga semuanya diobrolkan kembali dengan kepala dingin di sini.
Dalam suasana malam yang akrab dan penuh rasa kekeluargaan itu, tidak ada lagi ruang untuk rasa gengsi, marah, atau merasa menang sendiri. Semua orang berbicara dengan hati-hati, memakai bahasa yang santun, dan saling menghargai satu sama lain. Anak-anak muda diberi kesempatan yang luas untuk menyampaikan ide-ide segar mereka demi kemajuan kampung, dan orang-orang tua mendengarkan khalayak muda itu dengan penuh rasa sabar serta kasih sayang seorang bapak. Hubungan antara generasi tua dan generasi muda yang biasanya terasa agak sungkan atau kaku di hari-hari biasa, mendadak jadi sangat cair, dekat, dan akrab di malam penuh berkah tersebut.
Selain menjadi tempat berdiskusi tentang urusan kampung, momen berkumpul di tengah malam ini juga dimanfaatkan untuk saling memperbaiki hubungan antar-keluarga. Kadang-kadang, kesibukan bekerja di sawah atau ladang membuat sesama kerabat jarang bertegur sapa, atau bahkan ada yang sempat berselisih paham karena urusan batas tanah dan warisan. Melalui perantara secangkir kopi hangat dan manisnya rebusan air tebu di malam Manjuluak Bulan, ketegangan-ketegangan seperti itu perlahan-lahan mencair dengan sendirinya.
Warga menganggap malam ganjil di akhir Ramadan sebagai waktu yang terlalu suci jika diisi dengan menyimpan dendam atau amarah. Oleh karena itu, duduk berdampingan di lantai surau sambil mendengarkan syair petuah menjadi obat penawar yang sangat ampuh. Tanpa perlu disuruh oleh siapa pun, mereka yang tadinya saling diam akan mulai menawarkan kopi atau lemang kepada satu sama lain, membuka obrolan ringan, lalu diakhiri dengan senyuman tulus yang menandakan bahwa masalah di antara mereka sudah selesai dan dilupakan.
Warga Mudiak Suliki memiliki keyakinan yang kuat bahwa ketenangan batin yang sejati tidak akan pernah bisa ditemukan di tempat-tempat yang ramai, bising, atau penuh dengan pamer kemewahan. Berkah dan kedamaian justru datang di tempat-tempat yang sunyi, di saat manusia mau duduk bersama-sama secara sederhana dan merendahkan hati mereka di hadapan Sang Pencipta.
Ketika waktu malam sudah mulai merangkak mendekati pukul tiga dini hari, obrolan santai dan lantunan syair babaia pun perlahan-lahan dihentikan. Lampu-lampu di dalam surau sengaja dimatikan semuanya, sehingga ruangan menjadi temaram, hanya menyisakan warna merah menyala dari sisa-sisa bara api tungku kayu di sudut ruangan.
Satu per satu, warga kemudian keluar dari surau untuk mengambil air wudu. Mereka membasuh wajah langsung dari pincuran bambu tradisional yang airnya mengalir tanpa henti dari mata air pegunungan yang terkenal sangat murni dan dingin. Setelah badan terasa segar kembali dan kantuk benar-benar hilang, mereka kembali masuk ke surau, berdiri tegak merapatkan barisan, lalu melaksanakan salat sunnah Tahajud secara berjamaah. Suasana di akhir malam itu menjadi sangat hening dan khusyuk, sampai-sampai suara gemercik aliran sungai Suliki di belakang surau terdengar begitu jelas di telinga, seolah-olah seluruh alam sekitar juga ikut terjaga dan menemani doa-doa tulus yang sedang mereka panjatkan ke langit.
Tradisi Manjuluak Bulan di Mudiak Suliki menjadi bukti nyata bagaimana nilai-nilai agama Islam dan kebiasaan adat lokal bisa berjalan bersama-sama dengan sangat kompak dan harmonis. Tradisi ini sama sekali tidak membutuhkan panggung festival yang besar, biaya yang mahal, atau publikasi media yang mewah agar tetap dikenal oleh orang banyak; ia tetap hidup dan lestari hingga hari ini murni karena warga sendiri memang butuh ruang untuk selalu menjaga kekompakan mereka.
Kekayaan paling berharga dan sejati dari daerah hulu Suliki bukanlah emas yang tertimbun di dalam tanahnya, melainkan rasa persaudaraan dan solidaritas sosial yang selalu mereka hangatkan setiap tahun di surau-surau tua tersebut. Selama anak-anak mudanya masih mau meluangkan waktu malam mereka untuk duduk melingkar bersama orang-orang tua di tengah dinginnya kabut gunung, maka ciri khas, identitas, dan kehangatan tulus khas Mudiak Suliki tidak akan pernah hilang ataupun luntur dimakan oleh perkembangan waktu.
Editor : melatisan
Tag :Tradisi Babaia, di Surau Tua, Mudiak Suliki
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
MEMAHAMI KEBERSAMAAN MINANGKABAU MELALUI TRADISI ALEK BAJAWEK KOTO BARU DHARMASRAYA
-
PACU JAWI, TRADISI UNIK DI MINANGKABAU
-
TRADISI MAROSOK, SENI TRADISI RAHASIA DI BALIAK SEHELAI KAIN DI NAGARI CUBADAK
-
MENGGALI MAKNA TERSELUBUNG DI BALIK TRADISI LISAN MASYARAKAT MINANGKABAU
-
MENELUSURI PESAN MORAL DAN FAKTA SEJARAH CERITA RAKYAT MINANGKABAU YANG TERKENAL
-
DARI PASAR KE TANAH SUCI: KISAH PAK DAS, BURUH ANGKUT BATUSANGKAR YANG MENJEMPUT KEMULIAAN DI KURSI BISNIS GARUDA
-
KOPI MINANG, PERMATA GASTRONOMI YANG LAYAK JADI WAJAH WONDERFUL INDONESIA
-
PERTUMBUHAN EKONOMI SUMBAR MENGUAT DI AWAL 2026
-
HARAPAN DAN REALITAS PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI INDONESIA: ANTARA NARASI KEMAJUAN DAN KRISIS STRUKTURAL
-
KARTINI DI RANTAU: KETIKA SEMANGAT EMANSIPASI BERTEMU FALSAFAH BUNDO KANDUANG