- Senin, 24 November 2025
Sungai Tarab: Nagari Tua Yang Menjadi Pusat Lareh Koto Piliang
Sungai Tarab: Nagari Tua yang Menjadi Pusat Lareh Koto Piliang
Oleh: Andika Putra Wardana
Di antara lembah dan perbukitan Tanah Datar, berdiri sebuah nagari yang sejak lama dianggap sebagai salah satu pusat sejarah Minangkabau. Nagari Sungai Tarab, yang secara administratif berada pada 450–550 meter di atas permukaan laut, merupakan nagari tua yang menempati posisi penting dalam tambo dan ingatan kolektif masyarakat Minang. Banyak yang menyebutnya sebagai nagari tertua kedua di Minangkabau setelah Pariangan Padang Panjang, tempat kerajaan Pasumayan Koto Batu dahulu berdiri.
Secara geografis, Sungai Tarab berada pada koordinat 100°28’–100°36’ BT dan 0°22’–0°27’ LS, dengan luas sekitar 1.296 hektare. Nagari ini berbatasan dengan Sumanik di utara, Gurun di selatan, Koto Tuo di barat, dan Sungayang di timur. Wilayahnya terdiri dari bukit-bukit kecil, kawasan hutan, serta lahan pertanian yang subur, menjadikannya pusat agribisnis sayuran sejak masa kolonial hingga kini.
Namun kekayaan Sungai Tarab bukan hanya pada tanahnya, melainkan pada sejarah yang menetap di setiap jorong dan balai adat. Nagari ini adalah rumah bagi beragam situs budaya yang kini mulai dipertahankan kembali oleh Kelompok Sadar Wisata Bungo Satangkai, sebuah upaya untuk menjaga warisan yang selama puluhan tahun terancam hilang.
Sejarah Sungai Tarab dalam tambo dimulai ketika penduduk Pariangan Padang Panjang, yang semakin padat, bermusyawarah untuk mencari wilayah baru yang lebih luas dan subur. Sri Maharaja Diraja, penguasa pada masa itu, naik ke puncak Gunung Marapi untuk mencari tanah yang kelak dapat dihuni. Dari ketinggian, beliau melihat hamparan tanah gosong yang subur di baruh gunung, area yang kemudian dikenal sebagai kawasan Sungai Tarab.
Bersama Cateri Bilang Pandai, Sri Maharaja Diraja melakukan perjalanan menepi Gunung Marapi, berlabuh di pantai daratannya, dan menemukan bahwa kawasan tersebut lebih luas dan menjanjikan dibanding Pariangan. Keduanya lalu kembali untuk menjemput orang-orang yang akan membuka tanah baru, terdiri dari tujuh karib bai’id Sri Maharaja Diraja dan enam belas orang dari pihak Cateri Bilang Pandai.
Mereka membuka ladang pertama di Gantang Tolan dan Binuang Sati, lalu membangun sebuah koto yang kelak berkembang menjadi nagari. Nagari itu awalnya diberi nama Bunga Setangkai, merujuk pada bunga harum yang ditemukan Sri Maharaja Diraja di dekat sebuah batu datar sepanjang tujuh tapak beliau, batu yang hingga kini dikenal sebagai Batu Tujuh Tapak.
Dari waktu ke waktu, Bunga Setangkai berkembang menjadi pusat permukiman baru. Kawasan pasia di mudiknya tumbuh menjadi nagari Pasia Laweh, yang tunduk pada Bunga Setangkai. Balairung dibangun, teratak diperluas, dan struktur pemerintahan adat mulai terbentuk. Ketika sebuah mata air jernih keluar dari bawah pohon tarab di halaman balairung, mengalir menjadi anak sungai, nama Sungai Tarab pun lahir, dan nama Bunga Setangkai perlahan ditinggalkan.
Nagari ini dipimpin oleh Datuk Nan Delapan Batur, penghulu awal yang berasal dari delapan pasangan pendiri nagari. Kedelapan penghulu ini mendirikan delapan balai adat yang kemudian menjadi delapan suku, terbagi ke dalam dua kampung, lima balai di mudik (Sungai Tarab) dan tiga balai di hilir (Tiga Batur). Struktur ini menjadikan Sungai Tarab salah satu pusat aristokrasi adat dan menjadi basis penyebaran Lareh Koto Piliang, sistem adat berhierarki yang diasosiasikan dengan Datuak Katumangguangan.
Ketika Sri Maharaja Diraja wafat di Pariangan, kepemimpinan nagari dan kerajaan kecil itu diteruskan oleh pemimpin-pemimpin Sungai Tarab, menjadikan nagari ini bukan hanya tempat pemukiman baru, tetapi pusat pemerintahan adat yang diakui oleh nagari-nagari sekitarnya.
Kisah keluarga Sri Maharaja Diraja juga memperkuat hubungan antara kedua nagari tertua Minangkabau itu. Putri bungsu bel…
Editor : melatisan
Tag :Sungai Tarab, Minangkabau, Minang, kuliner Minangkabau, kuliner Minang, adat Minangkabau, adat Minang, masakan Minangkabau, masakan Minang, tokoh Minang, tokoh Minangkabau, rumah adat Minangkabau, Rumah Gadang, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabull
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
MENELUSURI SEJARAH KAWASAN PURUS PADANG DAN JEJAK PERANTAU DI BALIK GULUNGAN OMBAK
-
MENELISIK JEJAK SEJARAH DAN ALASAN KENAPA DINAMAKAN GUNUNG PANGILUN DI PADANG
-
JEJAK RANTAU LINTAS PULAU: MENGUPAS ASAL USUL NAMA KAMPUNG NIAS PADANG
-
MENELUSURI SEJARAH KAMPUNG KELING PADANG: JEJAK SAUDAGAR INDIA DI TEPIAN BATANG ARAU
-
SEJARAH IDENTITAS MINANGKABAU DALAM PERSPEKTIF BUDAYA DAN WILAYAH
-
IKATAN MAHASISWA TIGO LURAH (IKMTL) GELAR FESTIVAL SENI OLAHRAGA TIGO LURAH 2026, BERTEMA "RASO KA KAMPUANG, KARYA UNTUAK NAGARI"
-
FENOMENA BARU KAWASAN WISATA ALAHAN PANJANG YANG MERISAUKAN
-
LMJ BERBAGI: SEDERHANA, TETAPI PENUH MAKNA
-
SUJUD DI AMBANG LAILATUL QADAR: MENJEMPUT DAMAI DI TANAH HARAM BERSAMA SIANOK TOUR DALAM BAYANG KETEGANGAN DUNIA
-
RUMAH GADANG MAU DIPUGAR, BANYAK YANG AMBRUK