HOME OPINI OPINI

  • Rabu, 31 Agustus 2022
Sitinjau Lauik
Gamawan Fauzi

Sitinjau Lauik 

Jam satu siang tanggal 20 Agustus 2022, saya dengan kendaraan sendiri melintasi sitinjau Lauik arah ke Padang. Saat berada di kawasan Ayia Sirah, ada halimun menyapu perbukitan, tapi tak hujan. 

Saya pikir tak apalah perjalanan di lanjutkan, karena bila tak hujan rasanya bekas longsor besar di Tunggua , sebelum panorama dua, yang menurut info yang banyak tersebar dalam berita media In sya Allah masih aman. 

Kendaraan di hari Sabtu ini memang agak padat, mungkin bercampur kegiatan liburan akhir pekan. Kendaraan saya yang disopiri orang lain terus beringsut dalam antrean panjang. Setiba di batas Kota Padang dan Kabupaten Solok, hujan mulai gerimis, saya sedikit mulai khawatir karena beberapa ratus meter lagi kami akan melewati daerah potensial longsor itu.

Saya bertanya kepada sopir, "apakah tak sebaiknya kita berhenti disini ?" Katanya sebaiknya dilanjutkan karena rasanya tidak masalah. 

Sekitar seratus meter menjelang lokasi longsor, pada tanjakan curam dan berbelok, hujan mulai agak deras dan makin deras,  saya sangat khawatir karena dari arah Padang dan Solok mobil tetap berjalan dan sesekali berhenti menunggu mobil yang menanjak di tikungan tajam. Kabut tebal masih bersemedi, hujan makin lama makin deras. 

Jarak  20 meter dari titik longsor saya melihat tanah terbuka itu sudah menjadi kerikil berlumpur dan pelan pelan bergerak ke bawah. Ada seperti  air terjun di tengah longsoran itu. Air melimpah ke jalan dan mengalir deras memenuhi jalan yang makin menyempit. 

Dua alat berat jenis Dozer bergerak lincah mengeruk tanah yang menimbun jalan dan membuangnya ke jurang. Alat itu bekerja di sela kendaraan yang terus berdatangan. Sebuah batu besar menggantung sekitar 3 meter dari bibir jalan berpotensi jatuh ke jalan bila di dorong longsoran jutaan kubik tanah dan krikil dari bukit terjal itu. 

Pekerjaan ini benar benar menantang maut, karena punya resiko bencana yang bisa datang kapan saja sepanjang hujan masih turun disitu. Tapi, mereka sepertinya tak peduli, saya tak tau kenapa. Apakah mereka sudah memperhitungkan resiko atau memang nekad, ikhlas atau apalah? 

Terlatih sekali mereka menggunakan segala instrumen Dozer tersebut, cepat mengeruk longsoran, cepat membuang ke jurang dan kembali mundur  lalu mengeruk lagi berulang ulang. 

Saya berdoa' ya Allah, lindungilah mereka' mungkin mereka memerlukan uang untuk menghidupi keluarganya. Hanya satu menit mobil saya tertegun di belakang mereka, dengan cekatan mereka mundur mengambil posisi ke pinggir dan mengeruk longsoran itu kembali, dan  mobil saya pun berlalu dari tempat yang mengerikan itu. 

Hujan masih turun dengan deras, kabut semakin  membatasi jarak pandang, suasana terasa makin mencekam. Drainase yang ada tak sanggup lagi menampung curah hujan yang tinggi,  hingga jalan sudah menyerupai sungai mengalir deras hingga sampai ke Indarung. Keadaan seperti itu bisa mengakibatkan terjadi longsor di titik mana saja, maklum kemiringan bukit yang terjal dengan curah hujan yang tinggi. 

Beberapa waktu lalu, saya membaca berita salah satu media on line bahwa pembangunan jalan layang sitinjau lauik yang mengerikan itu, batal dibangun Pemerintah ( Pusat ), hingga waktu yang tak tentu. Biarlah, namanya meminta, tentu sesuka hati yang memberi. Tapi bila waktunya tak jelas, rasanya tak patut kerja kita hanya menunggu kapan longsor lagi dan memgatasi longsor tersebut. 

Sekitar awal tahun dua ribu lalu, Kepala Kanwil PU Sumbar, Sari Zakaria pernah mengatakan kepada saya, bahwa bukit sepanjang tanjakan Sitinjau Lauik yang rawan longsor itu akan di tanami bambu, karena bambu lebih kuat menahan longsor. Itu sudah beliau mulai menanamnya saat itu di awal  lepas leter S , atau sekitar  areal Ladang Padi. Dan tampaknya cukup berhasil, karena saya lihat, sejak itu tak ada lagi terjadi longsor disitu. 

Tapi saya tak Ahli dalam hal ini. Mungkin Kepala Balai Bina Marga wilayah Sumatera Barat Atau  pejabat kemeterian Pekerjaan Umum Wilayah Sumbar dapat bertanya pada 'expert' yang paham dengan masalah tersebut.

Malam harinya, setelah saya sampai di rumah, saya baca berita di media on line bahwa jalan Padang Solok tak dapat lagi di lalui kendaraan, akibat terjadi longsoran di 4 titik antara Indarung hingga Air Sirah. Saya bersyukur dan berucap Alhamdulillah karena sudah  selamat sampai di rumah. 

Tapi, ingatan saya tak lepas dari dua sosok laki-laki pemberani operator alat berat itu. Mereka adalah pahlawan sesungguhnya bagi ribuan orang yang melintasi kendaraannya di Sitinjau Lauik dalam sebulan terakhir, di saat hujan maupun panas. 

Pahlawan bagi saya bukanlah hanya mereka yang pergi berperang menghadapi musuh, pahlawan adalah juga mereka yang  bersabung nyawa untuk kepentingan orang banyak. 

Pahlawan tak harus berpangkat, tapi bisa muncul dari manusia-manusia yang tak bertanda dan dalam diam  mereka menyelamatkan orang lain atau membela kepentingan bangsanya. Pahlawan juga seringkali tak di ketahui, karena mereka tak bersuara, mereka tak berteriak merdeka, mereka tak terliput berita dan juga tak suka dipuja. Pahlawan yang sesungguhnya, adalah mereka yang tidak mendaftarkan diri tapi kita yang mencari. 

Menurut hemat saya, pekerja atau operator dua Alat berat dozer yang lebih satu bulan bertaruh nyawa di Sitinjau lauik itu,  pantas disematkan penghargaan pada dirinya pada hari Ulang Tahun Pekerjaan umum.

Pada profesi lain, mungkin juga ada yang mirip seperti itu, tapi kita tidak tau, mungkin juga karena kita kurang peduli. 

Bisakah kita sedikit membandingkan jasanya dengan penyanyi cilik Farel Prayoga yang melantunkan  tembang bernuansa Cinta,  'Ojo Bandingke',   di istana Negara , tanggal 17 Agustus 2022 lalu. 

Lagu berbahasa jawa itu dinyanyikan Farel di depan Presiden dan ratusan pejabat tinggi lainnya sehingga mengundang hadirin ikut bergoyang. Tak tanggung-tanggung,  Menkumham dengan sigap menerima pendaftaran lagu itu sebagai kekayaan intelektual dan hanya dalam tempo satu hari terbit surat pengesahannya,  dan  Farel pun menerima hadiah uang yang banyak hingga mampu membelikan rumah  untuk orang tuanya. 

Karena Farel berdendang di Istana, di depan Presiden, lalu berhari-hari media memberitakannya. Tapi operator  ini, bekerja tak bersuara. Tak ada hadiah, tak ada tepuk tangan apalagi penghargaan. Inilah dunia. 

Padang, 23 Agustus 2022 

Gamawan Fauzi


Tag :#gamawanfauzi #opini #minangkabau #minangsatu #sumaterabarat #nofreelunch