HOME VIRAL UNIK

  • Minggu, 15 Maret 2026

Sejarah Kota Pariaman Dan Tradisi Tabuik

Sejarah Kota Pariaman dan Tradisi Tabuik

Oleh: Andika Putra Wardana


Kota Pariaman berada di pesisir barat Sumatera Barat. Kota kecil ini langsung menghadap Samudra Hindia dan sejak lama dikenal sebagai wilayah pelabuhan penting di pantai barat Minangkabau. Dari kota inilah lahir salah satu tradisi budaya paling terkenal di Sumatera Barat, yaitu Tabuik.

Sejarah Kota Pariaman dan tradisi Tabuik tidak bisa dipisahkan. Kota ini berkembang sebagai wilayah rantau Minangkabau, sementara Tabuik menjadi simbol budaya yang mempertemukan sejarah, agama, dan identitas masyarakat pesisir.

Rantau Minangkabau yang Tumbuh dari Jalur Dagang

Dalam tradisi sejarah Minangkabau, wilayah Pariaman termasuk kawasan rantau. Penduduk awalnya berasal dari daerah darek Minangkabau, terutama dari wilayah sekitar Pagaruyung di Luhak Tanah Datar. Mereka datang secara bertahap dari pedalaman menuju pesisir barat untuk membuka pemukiman dan jalur perdagangan.

Gelombang perantau ini diperkirakan sudah terjadi sejak sekitar abad ke-13. Para peneruka nagari dari daerah Batipuh dan wilayah pedalaman lainnya turun ke pantai barat dan membangun perkampungan yang kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan.

Pelabuhan di pesisir Pariaman perlahan menjadi tempat pertemuan pedagang dari berbagai wilayah. Kapal-kapal dari Arab, Gujarat, hingga Cina datang membawa barang dagangan. Sementara dari pedalaman Minangkabau, komoditas seperti emas dibawa ke pelabuhan ini untuk diperdagangkan ke luar daerah.

Peran sebagai kota pelabuhan inilah yang membuat Pariaman tumbuh lebih cepat dibanding banyak daerah pesisir lain di Sumatera Barat.

Asal-usul Nama Pariaman

Nama Pariaman sendiri memiliki beberapa penjelasan dalam sumber sejarah. Salah satu yang sering disebut adalah berasal dari kata Arab “Bari Aman”, yang berarti tanah daratan yang aman dan tenteram.

Ada juga penafsiran lain yang mengaitkannya dengan makna “pelabuhan yang aman”. Penjelasan ini berkaitan dengan kondisi geografis Pariaman yang sejak dahulu menjadi tempat berlabuh kapal dagang di pesisir barat Sumatera.

Apapun asal katanya, nama Pariaman sejak lama sudah dikenal dalam jaringan perdagangan di pantai barat Sumatera.

Pariaman dalam Struktur Adat Minangkabau

Dalam struktur adat Minangkabau, Pariaman termasuk wilayah rantau, bukan daerah luhak. Rantau biasanya berkembang dari pemukiman para perantau yang berasal dari daerah darek.

Masyarakat Pariaman sendiri mengakui bahwa nenek moyang mereka berasal dari pedalaman Minangkabau, terutama dari wilayah Pagaruyung di Luhak Tanah Datar. Dari sana mereka membuka nagari-nagari baru di sepanjang pesisir.

Karena berasal dari sistem adat Minangkabau, kehidupan masyarakat Pariaman tetap mengikuti prinsip adat yang sama seperti daerah darek. Hubungan antara adat, agama, dan kehidupan sosial tetap menjadi bagian dari struktur masyarakat nagari di kawasan ini.

Warisan Budaya yang Lahir di Pesisir Pariaman

Jika berbicara tentang Pariaman, satu hal yang hampir selalu disebut adalah tradisi Tabuik. Tradisi ini digelar setiap tahun pada bulan Muharram dan menjadi perayaan budaya terbesar di kota tersebut.

Tabuik berkaitan dengan peringatan wafatnya Husain bin Ali dalam peristiwa Karbala yang terjadi pada tanggal 10 Muharram. Dalam tradisi ini masyarakat membuat replika menara besar yang disebut tabuik, lalu diarak dalam prosesi budaya sebelum akhirnya dilarungkan ke laut.

Nama Tabuik sendiri berasal dari kata Arab “tabut” yang berarti peti atau keranda. Dalam dialek Minangkabau, pengucapan kata tersebut berubah menjadi “tabuik”.

Sejarah mencatat tradisi ini masuk ke Pariaman pada abad ke-19. Tradisi tersebut diperkenalkan oleh kelompok Muslim dari India Selatan yang datang ke wilayah pantai barat Sumatera pada masa kolonial.

Seiring waktu, ritual ini tidak lagi hanya dipahami sebagai tradisi keagamaan. Masyarakat Pariaman kemudian mengadaptasinya menjadi bagian dari budaya lokal Minangkabau.

Hari ini, Tabuik telah berkembang menjadi festival budaya yang menarik ribuan pengunjung setiap tahun.

Pariaman Hari Ini

Pariaman kini dikenal sebagai kota pesisir yang aktif dalam kegiatan pariwisata dan budaya di Sumatera Barat. Festival Tabuik menjadi agenda tahunan yang selalu menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah.

Di balik keramaian festival itu, sejarah Kota Pariaman sebenarnya menyimpan cerita panjang tentang rantau Minangkabau. Kota ini lahir dari pergerakan perantau dari pedalaman, berkembang lewat jalur perdagangan, lalu tumbuh menjadi pusat budaya di pesisir barat Sumatera.

Jejak sejarah itu masih terasa sampai sekarang.

Terutama setiap Muharram, ketika Tabuik kembali diarak di jalan-jalan Kota Pariaman.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Sejarah, Kota Pariaman, Tradisi Tabuik

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com