HOME VIRAL UNIK

  • Minggu, 14 Juni 2026

Membongkar Beratnya Gelar Datuk Dan Jawaban Tentang Arti Penghulu Dalam Adat Minang

Membongkar Beratnya Gelar Datuk dan Jawaban Tentang Arti Penghulu dalam Adat Minang

Oleh: Andika Putra Wardana

Banyak tradisi budaya unik yang hidup di tengah masyarakat Sumatera Barat. Salah satunya adalah tatanan kepemimpinan suku yang sering memancing pertanyaan tentang apa arti penghulu dalam adat Minang bagi orang awam dari luar daerah. 

Jabatan adat ini disandang oleh seorang laki-laki yang ditunjuk menjadi pemimpin tertinggi di dalam sebuah kaum atau keluarga besar keturunan garis ibu, yang kesehariannya biasanya disapa dengan panggilan kehormatan Datuk. Tradisi pengangkatan gelar ini biasanya diselenggarakan apabila pemimpin yang lama meninggal dunia atau secara sadar menyerahkan jabatannya karena alasan kesehatan yang makin memburuk. 

Menjadi seorang penghulu di pedalaman Sumatera sama sekali bukan sekadar ajang pamer memakai baju kebesaran warna hitam di acara pesta pernikahan, melainkan sebuah kontrak seumur hidup untuk menjadi tameng pelindung bagi nasib ratusan keponakannya. Mencari tahu asal muasal pedoman kepemimpinan ini mengharuskan kita untuk melangkah naik ke wilayah Nagari Pariangan di lereng Gunung Marapi, Kabupaten Tanah Datar. 

Di kawasan yang diyakini sebagai permukiman tertua ini, masih tersusun rapi Batu Taweh, sebuah hamparan susunan batu andesit peninggalan ratusan tahun lalu yang dulunya dipakai murni sebagai balai persidangan alam terbuka. Di atas hamparan batu keras inilah dua tokoh perumus hukum nagari, yakni Datuk Perpatih Nan Sebatang dan Datuk Ketumanggungan, merancang tatanan pemimpin yang tahan banting jauh sebelum Kerajaan Pagaruyung berdiri memegang kendali di abad ke-14. 

Mereka merumuskan pedoman bahwa seorang datuk pantang bertindak semena-mena layaknya raja tiran, melainkan harus mau duduk melantai bersama warga biasa di balai perundingan tanpa memamerkan pangkat keturunannya. Tanggung jawab yang paling bikin pusing kepala dari jabatan ini langsung meledak ketika keluarga besar berhadapan dengan sengketa pembagian harta warisan. 

Orang-orang tua di kawasan perbukitan dan lumbung agraris seperti Kabupaten Limapuluh Kota selalu mengibaratkan sosok penghulu sebagai kayu gadang di tangah padang, sebuah pohon beringin raksasa yang hidup sendirian di tengah lapangan. Urat pohonnya menjadi tempat warga bersila, dahannya tempat bergantung nasib, dan daunnya yang rimbun tempat berlindung dari teriknya matahari sengketa. 

Meski duduk sebagai pemimpin paling tinggi, seorang datuk sama sekali tidak punya hak sepihak untuk menjual atau menggadaikan aset berharga seperti hamparan sawah ulayat dan petak rumah gadang. Penguasaan tanah pusaka itu murni jatuh ke pangkuan para perempuan atau bundo kanduang, sementara sang penghulu hanya ditugasi memegang parang di garis depan kalau ada tetangga usil yang berani menyerobot batas patok tanah kaumnya.

Memastikan bahwa kursi kekuasaan ini jatuh ke tangan laki-laki yang tepat menuntut proses pelantikan yang sangat memeras isi dompet keluarga. Merujuk pada kebiasaan lama yang rutin digelar di Balairung Sari, sebuah balai perundingan berbahan kayu peninggalan abad ke-17 di Nagari Tabek, keluarga besar wajib menyembelih seekor kerbau sebagai syarat mutlak mengesahkan gelar pemimpin baru ini. 

Pada momen peresmian inilah sang penghulu baru dipasangkan saluak, sebuah penutup kepala dari kain tenun yang lipatannya sengaja dirancang berkerut-kerut kaku. Lipatan mahkota kain ini menjadi wujud lisan yang tajam, mengingatkan sang pemimpin bahwa isi kepalanya harus sanggup menampung tumpukan masalah warga dan pintar menyimpannya rapat-rapat tanpa pernah membocorkan aib keluarga besarnya ke desa sebelah.

Meraba kerasnya kerutan kain penutup kepala dan melihat tebalnya batu persidangan di Pariangan akhirnya memberi kita gambaran utuh tentang kecerdasan leluhur pedalaman. Tuntutan laku lampah yang amat mengikat leher ini membuktikan bahwa warga nagari sangat jeli merancang alat rem kendali untuk para petingginya. 

Gelar kehormatan ini terus dibiarkan hidup dan sengaja dibebankan ke atas pundak laki-laki desa demi mengamankan satu pesan yang jujur. Tatanan adat ini dibiarkan berdiri tegak semata-mata untuk memastikan setiap anak kemenakan di kampung tidak pernah merasa ketakutan menghadapi urusan hidup, karena mereka tahu persis ada sosok datuk tangguh yang siap merelakan jam tidurnya demi menjaga periuk nasi dan nama baik keluarga dari hantaman kerasnya zaman.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Membongkar, Beratnya, Gelar Datuk, Jawaban Tentang Arti, Penghulu, dalam Adat Minang

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com