HOME PEMBANGUNAN KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI

  • Rabu, 26 Agustus 2026

Program Padat Karya Berskala Besar TNI AD Tuntas: Pembangunan Jembatan Merah Putih Di Sipora Selatan Buka Akses Isolasi Masyarakat

Jembatan Gantung Merah Putih  sepanjang 60,5 meter sudah dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Beriulou Sipora Selatan, Dandim Mentawai Letkol Bambang  Budi Hartarto menyapa pengendara motor yang lewati jembatan
Jembatan Gantung Merah Putih sepanjang 60,5 meter sudah dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Beriulou Sipora Selatan, Dandim Mentawai Letkol Bambang Budi Hartarto menyapa pengendara motor yang lewati jembatan

TUAPEIJAT, (MINANGSATU) — Aksesibilitas dan mobilitas masyarakat di wilayah Kepulauan Mentawai kini mengalami lonjakan signifikan. Program strategis Padat Karya Berskala Besar TNI Angkatan Darat (TNI AD) Tahun Anggaran 2026 yang menargetkan pembangunan infrastruktur penyeberangan di Kecamatan Sipora Selatan telah berhasil dirampungkan secara menyeluruh. Kehadiran serangkaian jembatan baru ini secara resmi mengakhiri keterisolasian antardusun dan meningkatkan konektivitas antarwilayah di kawasan pesisir Kepulauan Mentawai.

Pada Selasa (25/08/2026), wartawan media Minangsatu.com, Syamsurijon, SH, berkesempatan mendampingi Komandan Kodim (Dandim) 0319/Kepulauan Mentawai, Letkol Inf Bambang Budi Hartarto, melakukan peninjauan lapangan secara langsung ke lokasi-lokasi proyek strategis tersebut. Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan kelayakan serta mengamati langsung pemanfaatan hasil pembangunan fasilitas jembatan yang kini sudah rampung sepenuhnya dan telah dipergunakan secara aktif oleh warga setempat.

Sebelum dilaksanakannya program percepatan ini, sarana penyeberangan di wilayah Desa Katiet, Desa Bosua, dan Desa Beriulou berada dalam kondisi yang amat prihatin. Kendati ruas Jalan Nasional Pulau Sipora telah dibangun dengan material aspal beton, keberadaan jembatan pendukung sebelumnya masih berupa struktur darurat yang hanya terbuat dari batang pohon kelapa. Kondisi ini acapkali mengancam keselamatan para pengangkut barang dan pengguna jalan yang melintas.

Dandim Kepulauan Mentawai, Letkol Inf Bambang Budi Hartarto, menjelaskan bahwa meskipun agenda resmi penutupan Program Padat Karya TNI AD telah dilaksanakan pada 24 Juni 2026 lalu, komitmen prajurit di lapangan tidak menyurut. Pengerjaan fisik terus dilanjutkan dengan ketelitian tinggi hingga seluruh unit jembatan mencapai tahap penyelesaian 100 persen. Hal ini dilakukan demi menjamin kualitas bangunan yang kokoh, aman, serta berdaya tahan lama bagi kepentingan umum.

Titik awal kunjungan peninjauan terfokus pada Pembangunan Jembatan Gantung Merah Putih sepanjang 60,5 meter yang menghubungkan Dusun Ngaik dengan Desa Beriulou. Kehadiran jembatan gantung ini memberikan dampak transformasi yang sangat signifikan bagi taraf hidup warga sekitar. Sebelum jembatan berdiri, mobilitas warga untuk menyeberangi sungai selebar 60,5 meter tersebut sepenuhnya bergantung pada rakit kayu tradisional yang ditarik secara manual menggunakan tali tambang.

Tokoh pemuda Dusun Ngaik, Yuluis, mengungkapkan rasa syukur dan apresiasi yang mendalam saat diwawancarai oleh tim Minangsatu.com di lokasi penyeberangan. "Kami masyarakat sangat bersyukur sekali dengan adanya bantuan Jembatan Gantung Merah Putih ini. Penyeberangan yang dulunya bertaruh nyawa dan memakan waktu lama, kini bisa dilalui dengan sangat mudah dan aman berkat kerja keras TNI AD," tutur Yuluis dengan penuh sukacita.

Terkait proses perencanaan, Letkol Inf Bambang Budi Hartarto membeberkan kronologi awal berdirinya Jembatan Gantung Merah Putih beranggaran murni Padat Karya TNI AD 2026 mendekati Rp 500 juta tersebut. Pembangunan berawal dari survei pemetaan langsung bersama Babinsa Desa Bosua, Sertu Osten Sinaga, serta menyerap aspirasi dari Kepala Desa dan tokoh masyarakat Beriulou. Hasil survei mengonfirmasi bahwa kebutuhan jembatan sangat mendesak (urgensi tinggi), sehingga diprioritaskan masuk dalam program utama.

Peninjauan kemudian berlanjut ke lokasi kedua di ruas jalan nasional Desa Bosua. Di titik ini, pembangunan Jembatan Permanen Konstruksi Besi Cor Beton juga telah rampung dan beroperasi penuh. Kehadiran infrastruktur permanen ini menjadi urat nadi baru yang memperlancar arus transportasi darat, sekaligus menjamin keamanan mobilitas kendaraan barang maupun penumpang dari dan menuju wilayah strategis Desa Katiet.

Tak kalah pentingnya, lokasi ketiga yang ditinjau adalah Jembatan Merah Putih Katiet yang berada di lintasan Sipora Selatan. Pembangunan jembatan beton permanen ini secara langsung menghubungkan konektivitas antarwilayah dari arah Katiet menuju pusat pemerintahan kabupaten di Tuapeijat, Sipora Utara. Jalur ini kini menjadi urat nadi perekonomian yang sangat vital bagi distribusi hasil bumi warga lokal. 

Ungkapan lega dan terima kasih turut disampaikan oleh tokoh masyarakat Desa Katiet, Soldi. Ia menyatakan bahwa warga kini tak perlu lagi merasa waswas atau ragu-ragu saat melintasi jalur tersebut. "Dulu kami selalu cemas saat melintas karena jembatan hanya dari pohon kelapa yang licin dan rapuh. Atas nama warga Desa Katiet, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada program Padat Karya TNI AD yang telah memberikan perubahan nyata bagi daerah kami," pungkasnya. (*)


Wartawan : Rijon
Editor : Benk123

Tag :#mentawai

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com