HOME VIRAL UNIK

  • Kamis, 18 Juni 2026

Menyelamatkan Pasak Kayu Tua Dan Usaha Pelestarian Rumah Gadang Di Sumbar

Menyelamatkan Pasak Kayu Tua dan Usaha Pelestarian Rumah Gadang di Sumbar

Oleh: Andika Putra Wardana

Banyak warisan budaya unik yang tegak berdiri di tengah masyarakat Sumatera Barat. Salah satunya adalah bangunan adat yang kini memicu banyak perdebatan soal pelestarian rumah gadang di Sumbar bagi masyarakat awam. 

Tradisi merawat tempat tinggal raksasa berbahan dasar kayu ini biasanya diselenggarakan secara gotong royong oleh keluarga besar apabila atap ijuknya mulai lapuk atau tiang utamanya miring keropos dimakan usia. Bangunan panggung beratap melengkung tajam ini sama sekali bukan sekadar tempat menumpang tidur yang bisa dibongkar pasang sembarangan, melainkan markas utama bagi harta pusaka kaum perempuan yang menuntut keringat besar agar tiangnya tidak ambruk rata dengan tanah.

Revitalisasi di Lereng Solok Selatan

Mencari tahu bagaimana warga nagari menyelamatkan sisa bangunan tua ini mewajibkan kita untuk melangkah jauh ke kawasan Nagari Koto Baru di Kabupaten Solok Selatan. Di wilayah yang akrab dipanggil Kawasan Saribu Rumah Gadang ini, warga desa sibuk mempertahankan ratusan rumah panggung peninggalan masa lalu yang berjejer rapi saling berhadapan. 

Pada awal tahun 2018 lalu, perbaikan fisik besar-besaran dibantu langsung oleh pemerintah pusat untuk menambal atap dan tiang kayu penyangga yang miring tanpa merusak sedikit pun pakem bentuk aslinya. Para tukang kayu desa yang bekerja murni mengandalkan ketangkasan tangan dilarang keras memukul paku besi ke dinding papan. 

Mereka diwajibkan menyambung kerangka memanjang ini murni memakai taktik pasak kayu. Siasat tanpa besi ini dipastikan terus dipertahankan agar struktur rumah panggung tetap lentur bergoyang menahan beban saat guncangan gempa bumi dari jalur patahan bukit menghantam wilayah perkampungan.

Mengakali Mahalnya Harga Ijuk dan Kayu Juaro

Ujian paling bikin pusing kepala dalam urusan merawat hunian warisan ini langsung meledak saat keluarga besar harus patungan berbelanja bahan bangunan mentah. Orang-orang tua di lumbung agraris seperti Kabupaten Tanah Datar sangat paham bahwa upaya pelestarian rumah gadang di Sumbar selalu memakan isi dompet yang amat tebal. 

Kayu kualitas nomor satu berjenis surian atau juaro yang dulunya gampang ditebang warga secara gratis di hutan ulayat kini semakin susah dicari dan harganya melonjak gila-gilaan di pasaran kayu. Belum lagi urusan mengganti atap yang menjulang tajam ke langit. Lembaran serat ijuk warna hitam legam yang dipasang berlapis-lapis menutupi atap tersebut wajib dipesan khusus. 

Menata tumpukan ijuk kasar ini menuntut keahlian tangan tukang senior agar debit air hujan lebat di kawasan perbukitan bisa meluncur cepat jatuh ke hamparan halaman, menutup semua celah yang berpotensi merembes ke plafon bilik kamar anak gadis di bawahnya. Wajah depan dinding papan yang dipenuhi pahatan warna-warni juga memeras kesabaran tingkat tinggi saat dipoles ulang. 

Motif ukiran yang meniru wujud alam lurus seperti kaluak paku atau lekukan gulungan tanaman paku tidak boleh ditimpa cat baru secara serampangan. Guratan pisau pahat masa lalu ini aslinya adalah kitab lisan yang mengunci rapat pesan tata krama. 

Kalau warna ukiran ini sampai dibiarkan pudar dan papannya hancur dimakan rayap, keluarga tersebut dianggap gagal merawat petuah leluhur desa.

Hak Veto Bundo Kanduang

Bergeser dari urusan perbaikan fisik, roh pelindung utama yang sanggup menjaga keutuhan hunian ini bertumpu penuh pada tatanan keras kekerabatan nagari. Aturan kepemilikan aset yang dirakit teliti semenjak zaman tokoh perumus adat Datuk Perpatih Nan Sebatang mematok palu mati bahwa rumah ini adalah wujud harta pusaka tinggi murni milik kelompok perempuan atau bundo kanduang. 

Laki-laki atau para paman di kampung sama sekali tidak mengantongi hak selembar pun untuk menjual apalagi menggadaikan pekarangannya. Siasat kepemilikan yang amat memihak kaum ibu ini bertindak tangguh sebagai palang pintu terakhir agar tempat tinggal keluarga tidak mdiobral murah ke tangan orang luar saat mereka sedang terjepit utang.

Meraba kasarnya serat atap ijuk legam dan mengintip liatnya sambungan pasak kayu ini akhirnya memberi kita gambaran telanjang tentang kerasnya tanggung jawab orang kampung masa kini. Deretan rumah beratap runcing yang terus diusahakan berdiri di lereng perbukitan ini membuktikan bahwa warga pedalaman Sumatera pantang lari dari beban merawat mpeninggalan leluhurnya. 

Keringat untuk memelihara wujud fisik bangunan ini dibiarkan terus mengucur deras menantang mahalnya harga material murni demi menjaga satu pesan jujur. Sebuah pembuktian keras di lapangan bahwa mengurus rumah pusaka memaksa semua anggota keluarga sudi menekan gengsi dan patungan tenaga, memastikan lantai kayu tempat mereka berkumpul nanti tidak hancur lapuk tertelan debu jalanan.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Menyelamatkan, Pasak Kayu Tua, Usaha Pelestarian, Rumah Gadang, Sumbar

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com