- Rabu, 12 November 2025
Mengintip Dunia Jajanan Tradisional Minangkabau, Dari Singkong, Kelapa, Hingga Kacimuih Yang Legendaris
Mengintip Dunia Jajanan Tradisional Minangkabau, dari Singkong, Kelapa, hingga Kacimuih yang Legendaris
Oleh: Andika Putra Wardana
Setiap daerah di Indonesia punya jajanan tradisional yang lahir dari kreativitas dan kearifan lokal. Di Jawa ada getuk dan tiwul, di Sunda ada colenak, dan di Minangkabau, ada jajanan yang sama sederhananya tapi sarat makna yang dikenal dengan nama kacimuih. Camilan ini menggambarkan bagaimana masyarakat Minang memanfaatkan hasil bumi yang melimpah seperti singkong, kelapa, dan gula yang menjadi hidangan yang bukan hanya lezat, tapi juga merekatkan kebersamaan di rumah-rumah nagari.
Kacimuih dibuat dari bahan dasar singkong parut yang dikukus, lalu disajikan dengan taburan kelapa parut dan gula merah. Saat dikukus, aroma singkong yang manis bercampur dengan wangi kelapa yang gurih memenuhi udara, wangi yang sering membangunkan anak-anak kecil di rumah-rumah Minang tempo dulu. Rasanya sederhana, namun justru di situlah daya tariknya, gurih, manis, lembut, dan hangat saat baru diangkat dari kukusan.
Uniknya, kacimuih bisa disajikan dengan dua versi rasa. Ada yang menggunakan gula merah yang ditumbuk halus untuk rasa manis yang dalam dan karamel, ada pula yang memakai gula pasir untuk rasa yang lebih ringan. Kelapa yang digunakan biasanya kelapa muda agar parutannya lembut dan tidak terlalu berminyak. Semua bahan berasal langsung dari alam, singkong dari ladang, kelapa dari halaman rumah, dan gula dari nira pohon aren yang diproses secara tradisional.
Lebih dari sekadar makanan, kacimuih punya makna budaya yang kuat. Di banyak nagari, jajanan ini sering hadir dalam acara gotong royong atau pertemuan keluarga. Proses membuatnya pun sering dilakukan bersama, dari mengupas singkong hingga menumbuk gula. Dalam konteks ini, kacimuih menjadi simbol kerja sama dan kebersamaan, sebuah nilai penting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.
Kini, keberadaan kacimuih memang mulai jarang terlihat. Di pasar-pasar tradisional pun, hanya segelintir pedagang tua yang masih menjualnya. Padahal, jajanan ini menyimpan jejak sejarah kuliner yang panjang, bukti bahwa kesederhanaan bisa menghadirkan cita rasa yang memikat.
Bagi yang pernah mencicipinya di masa kecil, kacimuih bukan sekadar makanan, melainkan nostalgia. Rasanya bisa membawa kembali kenangan tentang masa ketika dapur masih beraroma kayu bakar, dan makanan dibuat dengan sabar, bukan dengan mesin. Di tengah gempuran makanan modern, kacimuih tetap menjadi pengingat bahwa kelezatan sejati sering kali lahir dari hal-hal yang paling sederhana.
Editor : melatisan
Tag :#Jajanan Tradisional
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
RUMAH GADANG YANG DITINGGALKAN PERANTAU DAN NASIB RUMAH PUSAKA DI MINANGKABAU
-
PANTANGAN ANAK KAMANAKAN DALAM ADAT MINANGKABAU YANG MULAI JARANG DIKETAHUI GENERASI MUDA
-
GELAR DATUK DALAM ADAT MINANGKABAU DAN PERSOALAN PEWARIS YANG TINGGAL DI RANTAU
-
MAMBANTAI ADAT DAN PEMBAGIAN DAGING DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT MINANGKABAU
-
BATAGAK PANGULU DAN PERJALANAN SESEORANG SEBELUM MENYANDANG GELAR PANGULU
-
MAHASISWA KKN UNP 2026 SUSUN 23 PETA UNTUK MENDUKUNG PEMETAAN WILAYAH NAGARI BUNGO TANJUANG
-
MAHASISWA KKN UNP 2026 EDUKASI MASYARAKAT JORONG KAPUAH TENTANG PENCEGAHAN STUNTING MELALUI GIZI SEIMBANG DAN PHBS
-
RME SUDAH DIGUNAKAN, TETAPI APAKAH SUDAH BENAR-BENAR BERMANFAAT?
-
PERAWATAN GIGI ANAK TANPA RASA TAKUT: MENGENAL KEDOKTERAN GIGI MINIMAL INVASIF
-
MAHASISWA KKN REGULER II UNAND DEMONSTRASIKAN PEMBUATAN PUPUK BOKASHI BERSAMA KWT KORONG KOTO PANJANG