- Minggu, 22 Februari 2026
Sejarah Luak Kubuang Tigo Baleh Sebagai Luak Keempat Dalam Struktur Adat Minangkabau
Sejarah Luak Kubuang Tigo Baleh sebagai Luak Keempat dalam Struktur Adat Minangkabau
Oleh: Andika Putra Wardana
Di dataran rendah kaki Gunung Talang, selatan wilayah Tanah Datar, bentangan nagari-nagari tua menyimpan kisah panjang tentang terbentuknya satu entitas adat yang relatif belakangan dalam sejarah Minangkabau. Di wilayah yang kini menjadi Kabupaten dan Kota Solok, tradisi lisan dan tambo mencatat pembentukan luak Kubuang Tigo Baleh sebagai luak keempat, melengkapi jajaran tiga luak utama yang lebih dulu dikenal dalam adat Minangkabau.
Dalam percakapan masyarakat Solok dan catatan tambo Minangkabau, Kubuang Tigo Baleh bukan lahir secara spontan, melainkan lahir dari konflik politik dan adat yang terjadi di pusat tradisi di Luhak Tanah Datar. Frasa “Kubuang Tigo Baleh” sendiri melekat karena suatu titah yang populer di memori masyarakat setempat: “Ku buang tigo baleh niniak mamak ko…” (saya usir tiga belas ninik mamak ini.)
Dari Tanah Data ke Selatan
Catatan sejarah lokal menyebutkan bahwa peristiwa yang menjadi cikal bakal luak ini bermula dari masalah politik di Luhak Tanah Datar. Pada masa itu terdapat perbedaan pandangan yang tajam antara tiga belas orang datuk atau ninik mamak dengan penguasa adat setempat mengenai suatu masalah yang tak mencapai kata sepakat. Untuk mengatasi kebuntuan itu, titah raja memutuskan agar ketigabelas tokoh adat tersebut diusir dari inti kawasan adat.
Kelompok yang terdiri atas ketigabelas datuk itu bersama keluarga dan kaum mereka lalu bermigrasi ke selatan melewati perbukitan di sekitar Danau Singkarak menuju kaki Gunung Talang. Mereka menetap di kawasan yang kini dikenal sebagai Solok dan Salayo, lalu mulai mendirikan nagari-nagari baru. Dari sanalah bermula konfederasi nagari yang kemudian dikenal sebagai Luak Kubuang Tigo Baleh.
Luak Keempat dalam Struktur Adat
Dalam tradisi adat Minangkabau, tiga luak utama yaitu Luhak Tanah Datar, Luhak Agam, dan Luhak Limo Puluah Kota dikenal sebagai inti Luhak Nan Tigo, pusat struktur adat klasik yang mengakar sejak lama. Kubuang Tigo Baleh kemudian muncul sebagai entitas yang secara resmi dianggap sebagai luak keempat, meskipun terbentuk belakangan dan bukan bagian dari pembentukan awal adat klasik.
Secara geografis, Luak Kubuang Tigo Baleh berada di kaki Gunung Talang, berbeda dengan tiga luak inti yang berada di kawasan dataran tinggi Minangkabau. Ini menunjukkan bagaimana ekspansi dan migrasi internal memengaruhi pembentukan pola adat baru di luar inti awal.
Konfederasi Kubuang Tigo Baleh sendiri kemudian berkembang menjadi jaringan nagari yang saling bersekutu, termasuk Solok, Salayo, Gantuang Ciri, Cupak, Talang, Muaro Paneh, dan sejumlah nagari lainnya yang kemudian bertambah seiring waktu. Nagari-nagari ini kemudian bermusyawarah bersama melalui balai adat Balai Nan Panjang di Nagari Salayo sebagai pusat keputusan adat mereka.
Warisan Adat dan Hubungan Luak
Peran Luak Kubuang Tigo Baleh sebagai luak keempat mencerminkan dinamika pergeseran sosial dan politik dalam tradisi Minangkabau, di mana konflik internal tidak hanya menyelesaikan perbedaan, tetapi juga membuka ruang pembentukan entitas kultural baru. Luak ini kemudian mempunyai wilayah rantau dan hubungannya sendiri dengan nagari-nagari pesisir serta pusat adat di pedalaman Minangkabau.
Sejarah Kubuang Tigo Baleh sekaligus mengingatkan bahwa struktur adat Minangkabau terus berkembang sesuai dengan dinamika masyarakatnya. Dari satu peristiwa lokal yang tercatat dalam tambo hingga lahirnya sebuah konfederasi nagari, jejak ini memperkaya ranah sejarah Minangkabau yang hidup dalam tradisi lisan dan praktik budaya hingga kini.
Editor : melatisan
Tag :Sejarah, Luak, Kubuang Tigo Baleh, Luak Keempat, Struktur Adat, Minangkabau
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
PERBEDAAN LUHAK DAN RANTAU DALAM STRUKTUR ADAT MINANG YANG PERLU DIPAHAMI
-
JEJAK MINANGKABAU DALAM NAGARAKRETAGAMA: BUKTI SEJARAH YANG TEREKAM DALAM KAKAWIN MAJAPAHIT
-
PRASASTI KEDUKAN BUKIT DAN KAITANNYA DENGAN MINANGA TAMWAN DALAM SEJARAH AWAL SUMATERA
-
PERAN ADITYAWARMAN DALAM SEJARAH MINANGKABAU DAN JEJAK KEKUASAAN DI SUMATERA BARAT
-
ASAL USUL KERAJAAN INDERAPURA DI PESISIR SELATAN DAN JEJAK SEJARAHNYA
-
RUMAH GADANG MAU DIPUGAR, BANYAK YANG AMBRUK
-
SURAT KEPADA NAHKODA SUMBAR, YANG BAHTERANYA KOYAK DI HANTAM GALODO
-
DUA JALAN KEBIJAKAN KOPI: INDONESIA DAN ETHIOPIA DI PERSIMPANGAN STRATEGI
-
ROSITA MEDINA, BUNDO KANDUANG DI RANTAU PUNYA TANGGUNGJAWAB MORAL
-
MAKNA KETIDAKHADIRAN PRESIDEN DI HPN 2026 BANTEN