- Minggu, 22 Februari 2026
Prasasti Kedukan Bukit Dan Kaitannya Dengan Minanga Tamwan Dalam Sejarah Awal Sumatera
Prasasti Kedukan Bukit dan Kaitannya dengan Minanga Tamwan dalam Sejarah Awal Sumatera
Oleh: Avina Amanda
Nama Minanga Tamwan kerap muncul dalam diskusi tentang asal-usul kekuasaan awal di Sumatera. Rujukannya tidak berasal dari tambo Minangkabau, melainkan dari sebuah prasasti yang ditemukan di Sumatera Selatan. Karena itu, pembahasan mengenai Prasasti Kedukan Bukit dan kaitannya dengan Minanga Tamwan menjadi penting untuk memahami konteks sejarah kawasan ini pada abad ke-7.
Prasasti Kedukan Bukit ditemukan di tepi Sungai Tatang, anak Sungai Musi, di wilayah Palembang. Prasasti ini bertarikh 605 Saka atau 683 Masehi dan ditulis dalam bahasa Melayu Kuno dengan aksara Pallawa.
Isi Prasasti Kedukan Bukit
Dalam teks Prasasti Kedukan Bukit disebutkan perjalanan suci atau siddhayatra yang dilakukan oleh Dapunta Hyang bersama sejumlah pasukan. Prasasti itu mencatat keberangkatan dari suatu tempat bernama Minanga Tamwan sebelum kemudian mendirikan wanua atau permukiman baru.
Nama Minanga Tamwan inilah yang kemudian menjadi bahan kajian para sejarawan. Secara harfiah, istilah tersebut sering ditafsirkan sebagai “pertemuan dua sungai”, merujuk pada makna kata “minanga” yang berkaitan dengan muara atau pertemuan aliran sungai.
Prasasti ini juga dianggap sebagai salah satu sumber utama mengenai awal kemunculan Sriwijaya sebagai kekuatan politik di Sumatera bagian selatan pada abad ke-7.
Perdebatan Lokasi Minanga Tamwan
Prasasti Kedukan Bukit dan kaitannya dengan Minanga Tamwan memunculkan berbagai pendapat mengenai lokasi sebenarnya dari tempat yang disebut dalam teks tersebut. Sebagian peneliti mengaitkannya dengan wilayah di sekitar Sumatera Selatan, sementara ada pula yang menghubungkannya dengan kawasan lain di Sumatera berdasarkan interpretasi geografis.
Namun, secara tekstual, prasasti tersebut tidak menyebut secara rinci lokasi geografis yang dapat dipastikan dengan satu titik tertentu di peta modern. Karena itu, identifikasi Minanga Tamwan masih menjadi ruang diskusi dalam kajian sejarah awal Sumatera.
Yang jelas, Minanga Tamwan disebut sebagai titik awal perjalanan yang kemudian berujung pada pembentukan kekuasaan yang lebih besar. Hal ini menjadikan nama tersebut penting dalam memahami proses awal konsolidasi politik di Sumatera pada abad ke-7.
Posisi dalam Kajian Sejarah Sumatera
Prasasti Kedukan Bukit menjadi salah satu bukti tertua penggunaan bahasa Melayu Kuno dalam bentuk tertulis. Selain itu, prasasti ini juga memperlihatkan adanya struktur kepemimpinan dan ekspedisi yang terorganisasi pada masa itu.
Dalam konteks Minangkabau, pembahasan tentang Minanga Tamwan sering muncul karena adanya kemiripan bunyi dengan istilah “Minangkabau”. Namun, secara historis dan epigrafis, Prasasti Kedukan Bukit merujuk pada konteks Sriwijaya di Sumatera bagian selatan.
Karena itu, Prasasti Kedukan Bukit dan kaitannya dengan Minanga Tamwan lebih tepat dipahami sebagai bagian dari sejarah awal kekuasaan di Sumatera secara luas. Ia menjadi sumber penting untuk menelusuri bagaimana jaringan politik dan budaya Melayu berkembang sejak abad ke-7, jauh sebelum munculnya entitas politik Minangkabau seperti yang dikenal dalam tradisi tambo.
Editor : melatisan
Tag :Prasasti, Kedukan Bukit, Kaitannya, Minanga Tamwan. Sejarah Awal Sumatera
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
SEJARAH LUAK KUBUANG TIGO BALEH SEBAGAI LUAK KEEMPAT DALAM STRUKTUR ADAT MINANGKABAU
-
PERBEDAAN LUHAK DAN RANTAU DALAM STRUKTUR ADAT MINANG YANG PERLU DIPAHAMI
-
JEJAK MINANGKABAU DALAM NAGARAKRETAGAMA: BUKTI SEJARAH YANG TEREKAM DALAM KAKAWIN MAJAPAHIT
-
PERAN ADITYAWARMAN DALAM SEJARAH MINANGKABAU DAN JEJAK KEKUASAAN DI SUMATERA BARAT
-
ASAL USUL KERAJAAN INDERAPURA DI PESISIR SELATAN DAN JEJAK SEJARAHNYA
-
RUMAH GADANG MAU DIPUGAR, BANYAK YANG AMBRUK
-
SURAT KEPADA NAHKODA SUMBAR, YANG BAHTERANYA KOYAK DI HANTAM GALODO
-
DUA JALAN KEBIJAKAN KOPI: INDONESIA DAN ETHIOPIA DI PERSIMPANGAN STRATEGI
-
ROSITA MEDINA, BUNDO KANDUANG DI RANTAU PUNYA TANGGUNGJAWAB MORAL
-
MAKNA KETIDAKHADIRAN PRESIDEN DI HPN 2026 BANTEN