HOME OPINI OPINI

  • Rabu, 2 November 2022
Mengikhlaskan Piutang
Dr. H. Gamawan Fauzi, S.H., M.M

Delapan tahun lebih tidak ketemu dan tidak ada komunikasi sama sekali, tiba-tiba seorang teman lama  me-WA saya. Belum sempat saya membalas WA tersebut dia langsung menelpon. Mungkin karena dia melihat saya sudah membaca WA nya. 

Tentu saja saya heran dan bertanya, kemana selama ini? Dia menjawab bahwa  selama ini dia sengaja tak ada komunikasi karena segan.

"Saya segan, saya jatuh miskin, saya dijauhi teman-teman yang sama berusaha dengan saya. Saya benar-benar tak punya uang dan harta. Saya bangkrut," katanya. 

"nah.. sekarang kenapa nelfon saya dan komunikasi lagi?" ujar saya balik bertanya. 

"Saya sekarang sudah bangkit lagi dan saya sudah diberi lagi rejeki oleh Allah. Saya mau  ajak bapak hadir meresmikan rumah saya. Saya bangun rumah di atas tanah 800 dan bangunan lebih dari 1200 meter, bertingkat tiga. Nilainya lebih dari 22 Milyar," jelasnya. 

"Usaha saya selama covid Alhamdulillah berkembang baik. Semua utang saya sudah saya lunasi dan  sekarang saya punya tempat usaha di 7 lokasi dan cukup maju," sambungnya. 

"Alhamdulillah, luar biasa," kata saya. 

"Iya, Alhamdulillah," katanya. 

"Bagaimana itu bisa terjadi?" Tanya saya. 

Lalu diapun bercerita. Bahwa kalau Allah mau mengambil harta yang ada pada kita, sebentar saja sudah habis. Dan kalau Allah mau mengasih kita, sebentar saja juga datang dari pintu pintu kita tidak tau. 

"Apa saja yang dilakukan dalam berusaha,  mudah saja menghasilkan uang. Setiap yang saya jual, mudah saja lakunya. Saya juga heran dan tak mengerti. Di saat orang susah berdagang, saya justru mudah dan selalu diberikan kemudahan oleh Allah," bebernya. 

"Saya makin ingin tahu. Apa  rahasia bisa  sukses itu?  Saya juga tidak tahu, tapi saat bangkrut dan memulai kembali usaha tersebut,  saya mengikhlaskan semua utang-utang orang lain kepada saya. Saya tidak berfikir lagi menagihnya. Soal dia tidak membayar utangnya kepada saya, biarlah urusan dia dengan Allah, tapi bagi diri saya dan pikiran saya sudah selesai, sudah saya lupakan dan ikhlaskan," paparnya menjelaskan.

"Di samping itu, saya rajin bersedekah dan menolong orang justru di saat saya tidak punya apa-apa . Apa yang  saya miliki,  saya sedekahkan semampu saya,  kalau ada yang minta bantuan," katanya. 

Dua hari sebelum ada telepon itu, seorang ustad dalam pengajian mingguan kami juga mengisahkan pengalamannya. Bahwa suatu pagi, dia bersedekah 50.000 rupiah, ustad tersebut sudah melupakan sedekah itu. Sore harinya beliau ketemu seorang Saudagar karpet asal Palembang. Tiba-tiba pedagang tersebut memberinya uang 5 juta rupiah saat salat di mesjid. 

Cerita 'keajaiban' sedekah semacam ini, sudah sering didengar. Ada yang sakit parah kemudian karena dia banyak bersedekah, tiba tiba sembuh, bahkan dalam kisah Islam, semasa nabi Ibrahim, seorang yang telah di tentukan ajalnya besok pagi ternyata tak jadi meninggal. Nabi Ibrahim bertanya kepada malaikat, kenapa bisa begitu ? Karena Allah memperpanjang usianya disebabkan separo hartanya disedekahkan malam harinya. 

Tapi kisah melupakan dan mengikhlaskan piutang atau ditipu uang oleh orang lain jarang kita dengar, apalagi bila jumlah besar. Mudah mengatakan tapi berat mengamalkan. 

"Enak saja menikmati uang saya. Saya susah payah berusaha mendapatkan uang, dia enak saja menipu, atas nama utang, lalu memilikinya," perasaan seperti itulah yang biasanya mendera orang-orang yang ditipu atau punya piutang. Sementara yang mempunyai utang beragam pula karakternya. 

Ada yang setiap waktu berusaha sekuat tenaga melunasi utangnya karena bermacam faktor. Ada faktor kejujurannya karena menyangkut harga diri, memelihara kepercayaan atau karena faktor agama. Dia berutang memang karena sangat membutuhkan dan dia juga berniat mengembalikannya dengan segala usaha. Bila dia belum mampu membayar, dia tetap memberi tahu orang tempat dia berutang, meminta maaf karena belum mampu membayar.  

Tapi ada juga jenis orang yang berutang yang tak peduli dengan utangnya. Sejak awal berutang memang tidak berniat membayarnya dan merasa nyaman-nyaman saja karena rendahnya moral dan akhlak, bahkan tidak merasa takut dengan dosa karena sudah terbiasa, dan sudah menjadi habitnya seperti itu. 

Dia ringan-ringan saja melupakan utang dan biasa-biasa saja tidak membayarnya.  Orang seperti ini terus saja merambah banyak korban. Utangnya berserak-serak dan tak pernah menjadi beban bathinnya. Tidurnya pulas saja. Tak ada rasa malu bila ketemu dengan orang tempat dia berutang atau menipunya. Bila perlu tak ketemu lagi orang tempat dia berutang. Dia selalu menjauh. 

Ustad Abdul Somad/ UAS, dalam sebuah tausiahnya mengatakan bahwa seseorang yang meninggal karena jihad fisabilillah sekalipun, walau dia berhak mendapat sorga,  tidak akan masuk sorga disebabkan utangnya di dunia belum di lunasinya. Selesaikan dulu utangnya, baru bisa masuk sorga. Bagamana mungkin mencari orang tempat berutang di padang mahsyar yang sangat luas itu.  

Catatan statistik yang pernah saya baca, bahwa hingga saat ini, manusia yang pernah hidup di muka bumi berjumlah 102,8 milyar orang, dan terus akan bertambah hingga kiamat datang. 

Bertausiah dengan ilmu adalah pekerjaan yang tidak ringan, karena perlu mengerti dan paham dengan apa yang disampaikan. Tapi, mengamalkan tausiah dengan kesadaran akan kehidupan akhirat yang kekal abadi jauh lebih berat, karena akan bertarung hebat dengan syahwat dan godaan setan yang tiada henti. Karena itu, keikhlasan teman saya yang mengikhlaskan semua piutangnya di saat dia sulit adalah sesuatu yang luar biasa. Pertarungan batinnya tak ringan, mungkin dia sudah masuk level pengamal islam yang 'kaffah'. 

Markus Aurelius , seorang filusuf, mengatakan, satu-satunya kekayaan yang kamu simpan selamanya adalah kekayaan yang telah kamu berikan. Itu pulalah mungkin, Allah membayar kontan keikhlasannya itu dengan rejeki melimpah, yang dia sendiri tidak mengerti kenapa dia bisa dapat sebanyak itu. 

Allah memberikan dia rezeki dari pintu-pintu yang tidak disangka-sangka. Padahal saat dia memulai usaha setelah bangkrut itu, dia juga berutang kepada orang.

"Alhamdulillah masih ada satu orang yang percaya meminjamkan uang saat saya jatuh miskin," katanya. 

Dia kemudian membagi untung usahanya dengan orang tempat dia berutang itu dan sekarang sudah ia kembalikan uangnya. 

Wallahualambissawab. 

Jakarta, 2 November 2022 

DR. Gamawan Fauzi, SH, MM


Tag :#gamawanfauzi #opini #minangkabau #minangsatu #sumaterabarat #nofreelunch