HOME VIRAL UNIK

  • Kamis, 18 Juni 2026

Menakar Jarak Antara Generasi Muda Minangkabau Dan Adat Warisan Leluhur

Menakar Jarak Antara Generasi Muda Minangkabau dan Adat Warisan Leluhur

Oleh: Andika Putra Wardana

Banyak tradisi budaya unik yang hidup di tengah masyarakat Sumatera Barat. Salah satunya adalah tatanan pedoman hidup yang hari ini memancing perdebatan hangat tentang bagaimana generasi muda Minangkabau dan adat saling berhadapan di tengah kencangnya laju zaman. 

Tatanan aturan lisan nagari ini biasanya diselenggarakan dan terasa sangat mengikat ketika warga desa berhadapan dengan urusan genting, mulai dari pembagian tanah pusaka sampai penyelesaian sengketa keluarga. Hubungan tarik ulur anak muda dengan aturan leluhur ini menjadi potret nyata dari jalan berliku untuk mempertahankan Sumpah Satie Bukit Marapalam, sebuah kesepakatan damai orang sekampung di wilayah Tanah Datar usai redanya Perang Padri pada awal abad ke-19 yang mengunci tegak pedoman hidup bersendikan syariat agama.

Membedah Pantun Asmara dan Panggung Kampus

Menengok rekam jejak cara orang pedalaman mendidik warganya, pusat gemblengan pemuda zaman dulu selalu bermuara di atas hamparan lantai papan surau. Merujuk pada jejak penyebaran agama Islam oleh tokoh legendaris Syekh Burhanuddin di wilayah pesisir Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman pada kurun abad ke-17, anak laki-laki secara otomatis diusir halus dari rumah ibunya untuk tidur beralas tikar dan belajar silat di surau kampung. 

Hari ini, kebiasaan menahan dingin di surau itu perlahan lapuk. Bangku pendidikan formal mengambil alih peran tetua adat semenjak pemerintah kolonial Belanda mulai rajin mendirikan bangunan Sekolah Desa berbahan bata merah di berbagai pelosok nagari pada kisaran tahun 1907. Meski begitu, terputusnya urat kebiasaan tidur di surau ini tidak lantas membuat anak muda kehabisan akal untuk melacak akar sejarahnya. 

Tontonan pertunjukan juga terus bernapas lewat kelompok mahasiswa yang merakit program komersial kesenian tari dan teater tradisi, meniru persis kelihaian seniman asal Padang Panjang, Huriah Adam, saat memoles tajamnya gerakan tari piring menjadi tontonan panggung berkelas pada dekade 1960-an.

Sindiran Karatau dan Kerasnya Aspal Rantau

Urusan yang paling sering membuat generasi muda berbenturan kencang dengan pedoman leluhur langsung meledak saat kita membahas kebiasaan angkat kaki pergi merantau. Orang-orang tua di nagari kawasan perbukitan Kabupaten Agam amat rajin memecut harga diri keponakan laki-lakinya lewat sindiran lisan yang bunyinya sangat tajam. 

Telinga para bujang desa rutin dipanaskan dengan pepatah yang berbunyi "Karatau madang diulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun." Tamparan kata-kata ini sengaja dilemparkan sang paman siang dan malam agar pemuda kampung merasa malu, membulatkan nyali menenteng koper mencari uang ke pesisir pelabuhan sibuk Kota Padang, menolak tunduk meminta jatah tanah garapan milik saudara perempuan kandungnya.

Pola kepergian anak laki-laki masa kini lambat laun mulai berbelok tajam dari pakem awalnya. Pemuda yang berdesakan membelah aspal menuju tanah rantau hari ini sering kali terjebak tuntutan gaya hidup kota yang menguras isi dompet. Sebagian dari anak nagari ini perlahan lupa jalan pulang dan malas ikut campur mengurus sengketa tanah ulayat murni karena merasa aturan hukum adat terlalu merepotkan kebebasan urusan pribadi mereka.

Merasakan kasarnya cara pemuda menghindari sengketa tanah dan melihat enggannya mereka pulang kampung ini memberi kita cermin raksasa untuk menakar laku lampah orang desa hari ini. Tumpukan batu persidangan tua "Batu Batikam" peninggalan ratusan tahun lalu di Nagari Pariangan sama sekali tidak akan pernah ada harganya kalau anak muda nagari menolak kembali duduk melantai bersama pamannya. 

Rangkaian aturan lisan itu hanya bisa diwariskan kalau pemuda desa masih sudi berbagi teko kopi di balai perundingan, merawat ingatan tentang batas tanah basah tempat ari-ari mereka dulu pertama kali ditanam.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Menakar Jarak, Antara Generasi Muda, Minangkabau, Adat Warisan Leluhur

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com