HOME OPINI OPINI

  • Senin, 28 November 2022
Menakar Hubungan Antara Harga Minyak Bumi, Indeks Harga Saham Gabungan Dan Nilai Tukar Di Indonesia
Opini Bintang

Menakar Hubungan antara Harga Minyak Bumi, Indeks Harga Saham Gabungan dan Nilai Tukar di Indonesia

Oleh : Bintang R.A Majo Saibah S.E., M.Si *

Goncangan cepat dan masif dari pandemi corona dengan langkah penanganannya telah membuat ekonomi global mengalami resesi. Resesi global didefinisikan sebagai kontraksi Produk Domestik Bruto (PDB) riil per kapita global tahunan. Menurut Bank Dunia, sepanjang 1970 hingga 2021, ekonomi global lima kali mengalami resesi yaitu 1975, 1982, 1991, 2009 dan 2020. Selama resesi tersebut, rata – rata output per kapita global turun 1,9 persen hingga 3,9 persen.

Disaat perekonomian global menyoba untuk pulih pasca pademi, akan tetapi perang yang sedang berlangsung di Ukraina telah meredupkan harapan tersebut, karena perang dan sanksi yang diberikan terhadap Rusia telah membuat harga energi melambung tinggi. Pengalaman sejarah juga menunjukkan bahwa kenaikan dan penurunan harga minyak yang tajam berimplikasi pada perkembangan ekonomi global. Sejak Perang Dunia II, sebagian besar resesi Amerika Serikat telah didahului oleh kenaikan harga minyak. Resesi global juga menunjukkan pola yang sama seperti resesi pada tahun 1975, kenaikan harga minyak memicu kenaikan inflasi. Dari perspektif ekonomi, minyak merupakan sumber energi penting untuk produksi, oleh karena itu kejutan harga minyak dapat memiliki efek langsung dan tidak langsung pada produksi output yang lebih rendah dan harga yang lebih tinggi.

Bagi negara - negara yang memiliki ketergantungan menengah hingga tinggi pada impor minyak, kenaikan harga minyak menyebabkan subsidi pemerintah meningkat yang berdampak pada kenaikan volume defisit fiskal. Dalam kasus Indonesia, kenaikan harga minyak dunia berpengaruh pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), karena APBN 2022 menetapkan US$63 per barel, sedangkan harga pada 30 Agustus 2022 sudah US$ 102,95 per barel, sehingga membuat pemerintah mengurangi subsidi minyak.

Krisis geopolitik selain berdampak kepada harga energi, juga berdampak kepada sektor keuangan. Ini disebabkan dengan pesatnya globalisasi keuangan sehingga kondisi satu negara akan berdampak besar kepada negara lain. Secara teoritis, terdapat perbedaan pendapat terhadap efek kenaikan harga minyak terhadap nilai tukar. Beberapa peneliti menemukan kenaikan minyak bumi menyebabkan dolar naik sehingga depresiasi mata uang lokal atau pelemahan mata uang lokal, dan sebaliknya. Namun, beberapa penelitian menemukan bahwa kenaikan harga minyak menghasilkan apresiasi atau penguatan mata uang lokal. Jika dolar turun nilainya relatif terhadap mata uang lokal, dampaknya terhadap inflasi akan berkurang. Hasil penelitian kami untuk kasus Indonesia, kenaikan harga minyak bumi dapat membuat penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar. 

Selain berdampak kepada nilai tukar, harga minyak bumi diyakini juga berdampak kepada pasar modal. Beberapa ahli ekonomi percaya bahwa keputusan tidak hanya didasarkan pada informasi fundamental, tetapi juga berdasarkan informasi pasar minyak. Secara umum, fluktuasi harga minyak dapat berdampak tidak langsung pada pengembalian harga saham karena dampaknya terhadap arus kas masa depan dan tingkat diskonto. Meskipun perubahan harga minyak dianggap sebagai faktor penting untuk memahami volatilitas pasar saham, namun masih belum ada hubungan pasti mengenai hubungan antara harga minyak dan pengembalian pasar saham. Adanya perbedaan hasil dari studi mendorong banyak peneliti untuk menganalisis lebih lanjut hubungan antara harga minyak dan pengembalian pasar saham. Misalnya, Kaul, Seyhun dan Sadorsky menemukan efek negatif dari volatilitas harga minyak pada harga saham untuk Amerika Serikat selama tahun 1970-an dan 1980-an, sehingga kenaikan harga minyak mengurangi keuntungan di pasar saham. Hasil yang tidak jauh berbeda dengan penelitian Papapetrou, dalam sebuah penelitian yang dikembangkan untuk Yunani dan penelitian dari Nancy Areli Bermudez Delgado di Meksiko, juga menunjukkan guncangan harga minyak berdampak negatif pada saham, karena berdampak negatif terhadap output dan pertumbuhan lapangan kerja.  Hasil yang berbeda ditemukan oleh Aiza Shabbir dan  Shazia Kousar di Pakistan, yang menemukan hubungan positif dan signifikan terhadap kenaikan harga minyak bumi terhadap pasar modal. Untuk kasus Indonesia, kami menemukan harga minyak bumi dapat meningkatkan Indeks Harga Saham Gabungan namun tidak signifikan.

Pada akhirnya, bisa kita katakan krisis geopolitik dapat menjadi ancaman terhadap perekonomian kita. Namun, dibalik kesulitan masih terselip kemudahan lain yang bisa kita harapkan berupa penguatan mata uang Rupiah terhadap Dollar.

 

* Dosen Fakultas Ekonomi Payakumbuh

 


Tag :#Opini #Ekonomi #Bintang

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News