HOME OPINI OPINI

  • Minggu, 12 September 2021
Membumikan Nilai-Nilai Pancasila Dari Langit (4)
Garuda Pancasila

Membumikan Nilai-Nilai Pancasila Dari Langit (4)

Oleh Taufik Effendi

Antisipasi sejak dini atas potensi tergerusnya nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila adalah sebuah kemestian. Upaya ini harus menjadi bagian dari politik dan strategi kebudayaan. 

Pembangunan karakter bangsa (nation character building) adalah keharusan untuk tegaknya jati diri. Dan ini mesti dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Dengan tidak mengenyampingkan dinamika budaya yang ada. Melainkan bergandengan tangan dengan dinamika itu sendiri.

Dalam kepentingan membangun karakter bangsa itulah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) berperan.

Sesuai maksud pendiriannya, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 7 Tahun 2018 tentang BPIP, lembaga ini mempunyai tugas "membantu Presiden dalam merumuskan arah kebijakan pembinaan ideologi Pancasila, melaksanakan koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian pembinaan ideologi Pancasila secara menyeluruh dan berkelanjutan, dan melaksanakan penyusunan standardisasi pendidikan dan pelatihan, menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan, serta memberikan rekomendasi berdasarkan hasil kajian terhadap kebijakan atau regulasi yang bertentangan dengan Pancasila kepada lembaga tinggi negara, kementerian/lembaga, pemerintahan daerah, organisasi sosial politik, dan komponen masyarakat lainnya." Jelas sekali bahwa BPIP menanggung beban sebagai institusi untuk membangun karakter bangsa! Sebab perumusan arah kebijakan pembinaan ideologi Pancasila itu identik dengan grand strategy pembangunan karakter bangsa.

Maka, dari dua masalah yang dikemukakan di atas, BPIP berpeluang merumuskan strategi pembinaan ideologi Pancasila untuk jangka menengah dan panjang.

Pertama, perlu kesepakatan secara tekstual atas nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila, sehingga keterterimaan para pihak--elemen-elemen bangsa--menjadi bagian dari aktualisasi nilai-nilai dimaksud. Sekaligus juga menjadi acuan pembinaan secara masif di semua lini. Dan menjadi arah untuk menyusun program dari lima kedeputian yang ada di BPIP.

Tentu saja representasi para pihak harus ikut merumuskan turunan (break down) sila-sila Pancasila yang akan menjadi poin-poin pengamalannya.

Poin-poin pengamalan tersebut dapat pula mempertimbangkan trisila dan ekasila sebagai kata kunci (key word). Dengan sejumlah kata kunci, terutama gotoroyong sebagai kristalisasi lima sila yang dimaksud Bung Karno, niscaya akan ditemukan narasi yang aktual.

Dan poin-poin dimaksud merupakan kata kerja--narasi--operasional yang spesifik. Sehingga mudah diukur keterlaksanaannya secara perseorangan (individu), kelompok (entitas), dan antar entitas.

Narasi yang operasional dan spesifik ini hendaknya mudah diterjemahkan pula ke dalam bahasa program. Sehingga kelak akan ada aplikasi yang dapat dipakai secara luas buat mengukur kadar kepancasilaan individu, entitas dan antar entitas.

Berdasarkan narasi itu pula dapat dikembangkan materi pembinaan multi platform. Entah itu dalam bentuk artikel, cerita, video, film bahkan game!

Kedua, dinamika budaya yang ada--sebutlah revolusi industri 4.0 dan revolusi sosial 5.0--serta pelibatan secara aktif kaum milenial adalah keniscayaan pula.

Oleh sebab itu, strategi besar yang hendak dibuat, mesti bertumpu pada eksistensi kaum milenial tanpa mengeyampingkan generasi sebelumnya.
Karena kaum milenial identik dengan keakraban mereka dengan teknologi informatika (TI) dan dunia digital, maka pembumian nilai-nilai Pancasila harus menggunakan TI dan teknologi digital sebagai sarana.

Pembumian nilai-nilai Pancasila dapat mengeksploitasi ketersediaan gadget dan smartphone, alih-alih cara-cara konvensional yang dulu pernah dilakukan secara offline (luring).


Tag :#Pancasila #PembumianPancasila #Milenial #BPIP