HOME LANGKAN KATO

  • Sabtu, 16 Juli 2022
Laki-Laki Itu!!
Gamawan Fauzi

Laki Laki itu!

Sejak jiwanya didera oleh badai fitnah dan ditinggal isteri dan anaknya, laki laki itu seperti hilang dari bumi. Sesuatu yang justru dipeliharanya sepanjang usianya, justru itu pula yang bertahun tahun menghabisinya. Teman-temannya pun menjauh. Dia merasa seperti mendapat titel seorang munafik dihadapan masyarakat yang selama ini menghormatinya.

Semua yang kumiliki sudah tak bersisa, bisik hatinya. Hanya Tuhan saja yang tau betapa bejatnya rekayasa manusia. Dan dia tak memiliki kekuatan membantahnya karena orang banyak terlanjur percaya berita media yang berulang ulang dan bertahun lamanya menzaliminya .

Apakah sebutan melebih rasa sakit ? Mungkin belum bernama, tapi itulah yang dirasakannya.

Tengah hari di musm hujan bulan Desember, sesaat dia keluar dari gerbang penjara, dia tak tau akan kemana. Rambutnya yang hampir putih semuanya dan tergerai, panjang dan autan, yang menyatu dengan brewok dan jenggotnya yang putih tak terurus, tentu tak ada lagi yang mengenalnya.

Dia ingat suatu tempat. Tempat itu di pinggir hutan, tak jauh dari desanya, tempat dia bermain sewaktu kecil, tempat itu di tengah rerimbunan pohon-pohon besar, ada air sungai kecil melintas di lahan itu. Sungai itu jernih dan berbatu yang dinaungi lumut lumut hijau. Lahan itu luas dan datar, sedikit tanahnya yang bergelombang. Dia sering datang kesana menangkap ikan . Dia ingin di sana sendiri, jauh dari keramaian, jauh dari bisik bisik manusia.

Kini sudah sepuluh tahun dia disana. Temannya hanya segerombolan ayam yang dilepas setiap hari dari pintu kandang, 7 ekor angsa putih dan itik sepuluh pasang. 2 ekor anjing yang setia menemani kemanapun dia pergi meninggalkan rumah. Sekali- sekali anjing itu berhasil membawa buruannya berupa kancil dan kelinci.

Sudah lama dia tak bicara dengan manusia, karena pikirnya manusia banyak yang jahat. Manusia penuh kedengkian dan suka menggibah, bahkan fitnah. Dia lebih suka bicara dengan binatang, walau katanya tak bersahut suara, tapi dia merasa komunikasinya berjalan baik dengan binatang piaraannya itu. Sering dia senyum sendìri melihat tingkah mereka. Mereka tak ber-alfabet, tapi lama lama dia paham bahasa tubuh binatang binatang itu. Dia makin mengerti suara sukanya dan suara sakitnya. Mereka polos, mereka jujur dan tak pandai merekayasa, mereka tak bersiasat, mereka hanya sekedar perlu makan dan sedikit perhatian. Itu sudah lebih dari cukup baginya

Dia tak mengucapkan terima kasih, tapi pagi pagi mereka menghadiahi telor yang hangat, atau kokok pejantan yang memberi kabar pagi.

Malam-malam adalah senandung simfoni suara hutan. Binatang-binatang malam yang mencari makan, bernyayi dan bersiul saling menimpali. Pasar keramain malam dunia binatang melapangkan dadanya dan mengobat jiwanya yang luka . Dia tak suka lagi berteman manusia. Manusia menurutnya adalah masalah, manusia adalah kepura puraan, manuisia suka menyakiti, manusia adalah makhluk yang tak setia, manusia egois, manusia selalu baik bila dia beruntung dan menjadi jahat bila merasa dirugikan. Itulah sebabnya dia menjauh dari manusia.

Sesekali ada juga manusia datang melewati rumahnya, umumnya para pemburu rusa atau babi hutan. Bila masih ada kesempatan, dia lebih suka menghindar dan tak bicara dengan mereka. Dia tak suka ditanya tanya. Pertanyaan manusia seringkali merusak jiwanya, manusia suka usil, suka mengurus urusan orang lain, manusia itu ingin tau saja semuanya, walaupun tak ada gunanya bagi mereka.

Hidup sendiri di tengah hutan semakin terasa nikmat. Dia bisa makan apa saja dari apa yang disediakan alam. Hari harinya diisi dengan menambah persediaan alam dengan bertanam. Dia bertanam apa saja yang bisa dimakan atau diminum. Setelah melewati masa yang panjang, kini pohon-pohon itu semakin banyak yang berbuah, lumbung pangannya pun makin membesar disediakan bumi. Dia merasa makin kaya. Kaya baginya bukanlah rumah gedung yang besar, dengan kendaraan mewah dan baju mentereng.

Sejak dia hidup di hutan, definisi kaya sudah dirobahnya. Kini dia bisa tidur lelap dengan suara alam dalam durasi panjang, selera makanya pun bangkit. Hatinya lapang dan pikirannya terbuka. Kini dia punya sejumlah definisi baru tentang hidup, bahagia, senang, cinta, kasih-sayang, setia ,sejahtera dan sebagainya .  

Dia sudah mengubur pengetahuan lamanya yang diperoleh dari buku . Peduli apa dengan buku. Buku tak menjawab apa apa tentang hidupnya.Dia menjalani hidup tanpa perlu cinta, kasih sayang, perhatian dan semacamnya. Dia juga tak berfikir tentang kematian, sebab mati adalah bagian kehidupan yang sudah pasti. Untuk apa dipikirkan. Dia tak peduli siapa menguburkan, menshalatkan atau mendoakan. Dia percaya sepenuh-penuhnya kekuasaan Tuhan. Hidup tanpa norma, tanpa etika, tanpa obsesi dan angan-angan masa depan adalah langkah hebat untuk tak menjadi gila, pikirnya. Ini jalan tuhan, pikirnya. Tuhanlah yang menggiringnya ke rimba ini.

Bila siang hari, temannya adalah peliharaannya yang dekat. Mereka selalu mengerubunginya, dia bisa memberi makan di telapak tangannya. Bila malam hari, dia berteman dengan angin, dengan senandung rimba dan dengan gemericik air sungai yang melintas disela batu. Inilah kesenangan dan ketenangan jiwa yang dijalaninya, dia tak tau apakah itu bernama bahagia atau tidak, karena kamus bahagia dan sejahtera sudah terhapus dalam pikirannya sejak dia pindah ke hutan ini.

Di suatu pagi yang cerah, tiba tiba dia mendengar deru mesin. Makin lama makin keras terdengar. Kini dihadapannya terlihat banyak alat-alat berat. Lama dia terpana, dia tak mengerti apa yang terjadi. Lalu sekumpulan orang bersepatu ‘boot’ , bertopi helem dan berbaju lengan panjang berbahan katun menghampirnya.

“Maaf bapak, apakah bapak penghuni pondok ini?” Sapa mereka.

“Kami dari perusahaan PT Pewaris Bumi tunggal perkasa yang bergerak dalam bidang usaha kelapa sawit telah memiliki izin pemerintah untuk menggarap lahan ini ditanam kelapa sawit. Kami mulai hari ini akan melakukan ‘land clearing’," jelas mereka.

"Tanah bapak ini berada di lahan kami, dan rumah bapak akan segera kami ratakan dengan tanah. Silahkan bapak cari lahan lain untuk pindah. Kami beri waktu dua kali 24 jam," pinta mereka tegas.

Laki laki itu diam terpaku seperti patung. Pikirannya berkecamuk seperti kolam yang diaduk-aduk, dia tak bicara sepatah katapun, bibirnya bergetar tak terkendali, jantung berdegub kencang tak beraturan, nafasnya terasa sesak, matanya berkunang- kunang, nyaris dia roboh bila tak ditopang tongkat kayu yang selalu dibawa kemana-mana.

Dia paham bahwa dia takkan mungkin menolak Perusahaan kaya itu. Apalagi berperkara dengan mereka. Tanah itu memang tanah negara. Kalau negara sudah memberi kepada perusahaan milik Tuan Atok Seng, apalah dayanya ?

Setelah tamu dadakan itu menjauh, dengan langkah lunglai dia masuk ke dalam rumah dan merebahkan diri di ranjang sederhana. Raganya mulai istirahat tapi hati dan pikirannya terus bergelora. Malam itu matanya tak bisa tidur, suara alam tak lagi terdengar seperti simfoni, melainkan keributan yang mengganggu.

Dan ketika matahari mulai naik menuju kulminasi, para pekerja dan pegawai perusahaan tiba di rumah itu. Rumah itu sepi, semua tertutup rapi, hewan peliharaan sekitar rumah ramai bersuara, seperti sedang gelisah. Dua ekor anjingnya tak henti menggonggong.

Dibalik celah dinding kayu yang melapuk, mereka mengintip kedalam, hening, diam. Dan ternyata laki laki itu sudah tak bergerak lagi. Jiwanya sudah pergi bersama malam yang gelisah.

 

Padang, 17 Juli 2022

Gamawan Fauzi


Wartawan : Gamawan Fauzi
Editor : boing

Tag :#gamawanfauzi #cerpen #minangkabau