HOME SOSIAL BUDAYA KOTA SAWAHLUNTO

  • Selasa, 2 Desember 2025

Ketika Gurindam Menjadi Cahaya: Cerita Dari Kolok Tentang Anak Muda, Adat, Dan Seorang Wakil Rakyat Yang Tak Lelah Menjaga Budaya

 Penutupan Pelatihan Gurindam Adat di Kenagarian Kolok, Sawahlunto yang  terselenggara atas dukungan dana aspirasi Anggota DPRD Ronny Eka Putra bersama Dinas Kebudayaan Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto (foto/anton/Fajar Sumbar)
Penutupan Pelatihan Gurindam Adat di Kenagarian Kolok, Sawahlunto yang terselenggara atas dukungan dana aspirasi Anggota DPRD Ronny Eka Putra bersama Dinas Kebudayaan Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto (foto/anton/Fajar Sumbar)

Ketika Gurindam Menjadi Cahaya: Cerita dari Kolok tentang Anak Muda, Adat, dan Seorang Wakil Rakyat yang Tak Lelah Menjaga Budaya

Sawahlunto (Minangsatu)
- Di Kenagarian Kolok Kecamatan Barangin Kota Sawahlunto ketika senja turun perlahan di balik perbukitan Barangin, suara para peserta Pelatihan Gurindam Adat sering terdengar menyusup di antara semilir angin. Sepanjang tahun 2025, suara itu datang dari anak-anak muda, dari ninik-mamak, dari para ibu yang duduk rapi, mencoba memahami setiap makna petuah adat yang mereka ulang secara perlahan.

Masjid Nurul Yaqin yang kerap jadi tempat berkumpul warga, menjadi saksi betapa pelatihan itu bukan hanya belajar tentang adat, tetapi juga tentang jati diri.

Pelatihan itu lahir dari dana aspirasi pokok pikiran (Pokir) seorang wakil rakyat yang sejak awal memiliki kedekatan batin dengan dunia adat Ronny Eka Putra, atau yang dikenal masyarakat sebagai Pandito Malin. Baginya  adat bukan sekadar warisan, melainkan cahaya yang menjaga arah hidup.

"Pelatihan ini kami mulai dari suara masyarakat saat reses. Dan ternyata semangat generasi mudalah yang membuat kegiatan ini terus hidup hingga penutupan," kata Ronny Eka Putra  saat penutupan kegiatan, 1 Desember 2025.

Ronny tidak datang sebagai pejabat semata. Ia hadir sebagai bagian dari masyarakat Kolok, sebagai Wakil Ketua KAN, sebagai seseorang yang tumbuh dengan nilai-nilai adat yang diajarkan para tuo-tuo dulu. Setiap kali ia berbicara tentang Gurindam, nadanya berubah menjadi lembut, seolah ia sedang mengulang kembali cerita yang dibisikkan leluhurnya.

Di mata para peserta, pelatihan ini bukan sekadar duduk mendengarkan. Ada momen-momen sederhana yang membekas

— bagaimana mereka berusaha melafalkan bait gurindam dengan tepat,
— bagaimana mereka saling membantu mengartikan makna,
— bagaimana mereka menertawakan kesalahan kecil, lalu mengulanginya lagi sampai benar.

Di antara mereka ada Yeri Pandeka Mudo, seorang anak muda yang dari awal tampak pemalu. Namun menjelang akhir pelatihan, ia mulai berani berbicara di depan kelompok. Ketika menerima sertifikat, senyumnya mengembang, seolah ia menemukan sesuatu yang selama ini hilang.

"Kami bangga bisa belajar adat. Terima kasih kepada Dinas Kebudayaan dan Pak Ronny. Semoga kegiatan seperti ini terus hidup," ucap Yeri lirih, tetapi penuh keyakinan.

Kepala Dinas Kebudayaan Museum Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman  Hilmet Rajo Mangkuto mengatakan bahwa  kegiatan ini bukan hanya sebagai program, tetapi sebagai penyelamat generasi.

"Smartphone sekarang sangat memengaruhi anak-anak. Tapi Gurindam Adat bisa jadi benteng. Kalau bukan kita yang menjaga adat, siapa lagi?" ungkap  Hilmed

Namun perjalanan ke depan tak semulus yang diharapkan. Ronny harus menyampaikan kabar tentang terbatasnya anggaran Pokir pada tahun 2026 akibat tekanan fiskal pemerintah pusat. Meski begitu, ia masih menunjukkan komitmen yang tak goyah.

"Anggaran saya tahun depan hanya Rp150 juta dan seluruhnya dialokasikan untuk Askot PSSI. Tapi kalau anak-anak ini tetap semangat belajar Gurindam, saya siap membaginya," tuturnya.

Ucapan itu membuat suasana hangat di ruangan. Bukan karena jaminan dana, tetapi karena kepedulian seorang pemimpin yang tidak ingin mematikan api kecil yang mulai menyala di hati generasi muda Kolok.

Ketika acara ditutup dengan penyerahan sertifikat, suasana berubah haru. Ada tepukan, ada tawa kecil, dan ada doa yang diam-diam dipanjatkan setiap orang, agar Gurindam terus menjadi cahaya bagi mereka yang tumbuh di tengah derasnya arus perubahan.

Karena bagi masyarakat Kolok, pelatihan itu telah menjelma lebih dari sekadar kegiatan. Ia menjadi ruang bersama untuk belajar tentang diri, tentang adat, dan tentang bagaimana mencintai tanah tempat mereka berpijak. Dan mungkin, dari tempat sederhana itulah, sebuah generasi baru penjaga adat sedang dilahirkan.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto Syukri, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan yang dinilai mampu memperkuat hubungan antara dunia pendidikan dan pelestarian budaya daerah. Ia menegaskan bahwa program seperti ini memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar pelaksanaan seremonial.

Syukri menambahkan bahwa Pagelaran Gurindam Adat ini menjadi bukti nyata bahwa sastra lisan Minangkabau masih memiliki ruang hidup yang kuat di tengah masyarakat, terutama di kalangan generasi muda Nagari Kolok.

"Program ini bukan hanya penutup dari 24 kali pertemuan, tapi juga menjadi cerminan bagaimana tradisi lisan kita kembali menemukan panggungnya," ujar Syukri.

Ia menegaskan bahwa Gurindam Adat adalah warisan penting yang memuat petuah, nilai moral, serta pandangan hidup orang Minang. Pelestariannya, menurut Syukri, membutuhkan dukungan lintas sektor, termasuk kolaborasi pemerintah daerah, lembaga adat, dan para tokoh masyarakat.

"Melihat anak-anak dan peserta tampil dengan percaya diri, menuturkan gurindam dengan fasih, itu menjadi kebahagiaan tersendiri. Artinya, nilai-nilai adat itu tidak hilang. Mereka mempelajari, memahami, bahkan mulai mencintainya," tambahnya.

Syukri juga menyampaikan apresiasi kepada Anggota DPRD Kota Sawahlunto, Ronny Eka Putra, atas komitmen dan dukungan melalui Pokok Pikiran Dewan hingga program ini dapat terlaksana dengan baik.

"Kolaborasi ini harus kita jaga. Ketika pemerintah, nagari, dan masyarakat berjalan bersama, maka pelestarian budaya bukan hanya slogan, tetapi benar-benar menjadi gerakan yang hidup," tutupnya.





 


Wartawan : Hendra Idris
Editor : melatisan

Tag :Gurindam Adat, Kenagarian Kolok, Sawahlunto

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com