- Senin, 9 Maret 2026
Sujud Di Ambang Lailatul Qadar: Menjemput Damai Di Tanah Haram Bersama Sianok Tour Dalam Bayang Ketegangan Dunia
Sujud di Ambang Lailatul Qadar: Menjemput Damai di Tanah Haram Bersama Sianok Tour dalam Bayang Ketegangan Dunia
Oleh: Chandra Antoni (Wartawan Madya)
Ramadan 1447 Hijriah (Maret 2026). Langit di atas Masjidil Haram tampak cerah, namun di layar-layar ponsel jamaah, tajuk berita dunia sedang membara. Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel di kawasan Timur Tengah sedang berada di titik nadir. Namun, di bawah naungan menara-menara tinggi Mekkah, ribuan jamaah asal Ranah Minang yang berangkat bersama PT Sianok Tour and Travel justru menemukan kedamaian yang sulit dilukiskan kata-kata.
Perjalanan umrah akhir Ramadan tahun ini bukan sekadar perjalanan ibadah biasa. Ada sedikit kecemasan yang menggelayut di mata keluarga saat melepas keberangkatan kami di Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Namun, profesionalisme tim Sianok Tour sejak awal telah membasuh keraguan itu.
"Ibadah itu kuncinya tenang. Kami sudah memastikan jalur penerbangan dan koordinasi dengan otoritas terkait di Saudi agar jamaah fokus hanya pada Allah," ujar pembimbing dari Sianok Tour saat manasik terakhir.
Kalimat itu terbukti. Sepanjang perjalanan, koordinasi yang rapi membuat isu geopolitik yang memanas seolah sejauh galaksi dari kekhusyukan kami.
![]() |
Chandra Antoni saat melakukan umroh
Saat memasuki 10 malam terakhir, suasana di Masjidil Haram sungguh magis. Di tengah gemuruh isu perang di luar sana, jutaan manusia dari berbagai bangsa—termasuk kami rombongan dari Sumatera Barat—berbuka puasa dalam satu barisan panjang di pelataran masjid. Tidak ada sekat, tidak ada perselisihan. Hanya ada ruku' dan sujud yang panjang.
Salah satu jamaah, seorang seorang Jamaah dari Tanah Datar, ibu Zulhani berbisik pelan saat i’tikaf di sudut masjid, "Di sini kita merasa aman, Nak. Dunia mungkin sedang ribut, tapi di rumah Allah ini, kita belajar bahwa hidup hanya sementara. Doa kita justru lebih kuat sekarang, minta kedamaian untuk seluruh umat."
Sianok Tour memberikan layanan yang membuat kami merasa 'berumah' di tanah orang. Hotel yang dekat dengan pelataran masjid memudahkan jamaah lansia untuk mengejar shalat fardhu dan tarawih tanpa harus berjibaku dengan kerumunan yang luar biasa padat di akhir Ramadan. Makanan selera asal kampung halaman yang sesekali disajikan tim travel menjadi pengobat rindu di tengah cuaca Arab Saudi yang mulai menghangat.
Puncak perjalanan adalah malam khatam Al-Qur'an. Saat imam memanjatkan doa yang panjang dan menyayat hati, air mata tumpah. Kami mendoakan keselamatan bangsa, kerukunan di tanah air, dan tentu saja kedamaian di Timur Tengah agar saudara-saudara muslim di Palestina dan sekitarnya terlindungi dari api konflik.
Kembali ke tanah air nanti, kami tidak hanya membawa air zam-zam atau kurma ajwa. Bersama Sianok Tour, kami membawa pulang sebuah perspektif baru: bahwa di tengah dunia yang sedang tidak baik-baik saja, sujud di akhir Ramadan adalah benteng pertahanan terbaik bagi jiwa.
Ibadah umrah ini menjadi bukti, bahwa niat yang tulus dan manajemen perjalanan yang amanah bisa menembus ketegangan dunia, mengantarkan kami pada kemenangan Idul Fitri yang hakiki di tanah suci.
![]() |
Tim pembimbing yang berangkat umrah tanggal 6/3/2026 Ustadz H. Aulia Rijal, Lc.,MA yang didampingi, Ustazah Melia Desrina, S. Sos.I dan Ustazah Stefany Faulina, SE ditambah 9 anggota tim yang sudah menunggu di Madinah dan Makkah yang berjumlah 9 orang.
Pembimbing Umrah Ust. Aulia Rijal Ramadhan 2026 menyebut, Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah memilih kita dari jutaan manusia di dunia untuk menjadi tamu-Nya di tanah suci pada bulan yang paling mulia, bulan Ramadhan.
Bapak Ibu jamaah yang dimuliakan Allah, Perjalanan yang akan kita tempuh ini bukan sekadar perjalanan wisata, bukan pula sekadar perjalanan ibadah biasa. Ini adalah perjalanan panggilan Allah. Tidak semua orang yang ingin ke Baitullah bisa datang, tetapi Allah memilih kita untuk hadir di rumah-Nya pada bulan Ramadhan.
Di saat yang sama, kita menyaksikan dunia sedang diliputi kegelisahan dan konflik. Ketegangan di berbagai belahan dunia, termasuk konflik antara negara-negara besar seperti Iran, Amerika, dan Israel, mengingatkan kita bahwa dunia ini tidak pernah benar-benar tenang.
Namun di tengah hiruk-pikuk dunia itu, Allah memanggil kita ke tempat yang paling damai di muka bumi, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Disana tidak ada suara senjata, yang ada hanya suara talbiyah, dzikir, dan tangisan taubat manusia kepada Allah.
Bapak Ibu jamaah yang saya muliakan,
Bisa jadi perjalanan ini adalah perjalanan umrah pertama kita, atau mungkin yang terakhir dalam hidup kita. Karena itu mari kita niatkan perjalanan ini bukan sekadar ibadah biasa, tetapi perjalanan perubahan hidup.
Tugas kami sebagai pembimbing adalah membantu Bapak Ibu agar perjalanan ini menjadi nyaman dalam perjalanan, benar dalam ibadah, dan indah dalam kebersamaan.
Mari kita jaga tiga hal selama perjalanan ini Niat yang ikhlas karena Allah. Kesabaran selama perjalanan. Persaudaraan sesama jamaah.
Akhirnya, mari kita berdoa bersama:
“Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami menuju rumah-Mu.
Jadikanlah umrah kami umrah yang maqbul.
Ampuni dosa-dosa kami.
Dan kembalikan kami ke tanah air sebagai hamba-Mu yang lebih baik.”
Labbaikallahumma labbaik. (*)
Tag :Sujud, Ambang Lailatul Qadar, Menjemput Damai, Tanah Haram, Sianok Tour, Bayang Ketegangan Dunia
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
RUMAH GADANG MAU DIPUGAR, BANYAK YANG AMBRUK
-
ROSITA MEDINA, BUNDO KANDUANG DI RANTAU PUNYA TANGGUNGJAWAB MORAL
-
TABUAH: INGATAN SILUNGKANG
-
PELANTIKAN PWI & IKWI SUMBAR: LANGKAH MAJU, HARAPAN BARU, SEJARAH BARU
-
KKN REGULER 1 UNAND EDUKASI SISWA MTSS NAGARI LABUH TENTANG LITERASI DIGITAL DAN KESELAMATAN
-
SUJUD DI AMBANG LAILATUL QADAR: MENJEMPUT DAMAI DI TANAH HARAM BERSAMA SIANOK TOUR DALAM BAYANG KETEGANGAN DUNIA
-
RUMAH GADANG MAU DIPUGAR, BANYAK YANG AMBRUK
-
SURAT KEPADA NAHKODA SUMBAR, YANG BAHTERANYA KOYAK DI HANTAM GALODO
-
DUA JALAN KEBIJAKAN KOPI: INDONESIA DAN ETHIOPIA DI PERSIMPANGAN STRATEGI
-
ROSITA MEDINA, BUNDO KANDUANG DI RANTAU PUNYA TANGGUNGJAWAB MORAL

