HOME OPINI OPINI

  • Sabtu, 7 Mei 2022
Hidup Di Desa Adalah Kemewahan Masa Depan
Gamawan Fauzi

Hidup di Desa Adalah Kemewahan Masa Depan

oleh DR Gamawan Fauzi


Sekitar 20 tahun lagi, hidup di desa akan  menjadi sebuah kemewahan.

Beberapa puluh tahun lalu, ketika desa masih memiliki fasilitas yang sangat terbatas, banyak orang merindukan hidup dan tinggal di kota. Kenapa? Karena kota dianggap memiliki semua yang menjadi mimpi manusia. Di kota orang tinggal bersaing mendapatkan kerja mentereng atau membuat usaha sendiri, karena jumlah manusia yang banyak membuka peluang akan meningkatnya berbagai kebutuhan manusia.

Bagi yang punya keterampilan seperti tukang jahit, tukang masak, tukang rumah, dan banyak jenis tukang tukang lainnya lebih mudah mengembangkan usahanya di kota dibanding di desa. Bahkan pekerja-pekerja kasar sekalipun berduyun duyun datang ke kota, karena kota memerlukan tenaga kerja yang banyak untuk membangun infrastruktur, properti, dan fasilitas umum untuk keperluan yang amat beragam.

Untuk kesenangan dan hiburan, kota menjanjikan banyak ragam hiburan, dan itu sangat jauh berbeda dengan desa yang masyarakatnya pada umumnya masih bergulat    pada sektor pertanian yang menghendaki kesabaran.

Di kota, kita bisa memesan ribuan sandal, baju, atau bermacam macam jenis produk industri untuk selesai besok pagi, tapi kita tidak bisa memesan satu batang pohon kecil buat tahun depan.

Dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang dimiliki kota, apalagi kota-kota besar, maka saat itu hidup dan tinggal di kota adalah suatu “kebanggaan, status, dan prestise”.

Orang kota melihat orang desa seperti menekur dan sebaliknya orang desa melihat orang kota menengadah, karena orang kota dianggap memiliki banyak lebih dibanding orang desa.

Enam bulan terakhir ini, saya mencermati dan berusaha memahami hidup di desa. Saya masuk  ke dalam pergaulan masyarakat tani, kehidupan religius, sekolah- sekolah sampai ke tingkat menengah atas. Saya bergaul dengan guru, dengan pemuda, remaja, pekerja bangunan, pedagang antar propinsi, antar pulau bahkan pedagang yang berbelanja langsung ke kebun, ibu rumah tangga, dan sebagainya.

Saya tercengang. Masyarakat yang sudah 25 tahun terakhir saya tinggalkan, ternyata sudah berubah luar biasa. Mulai dari selera terhadap design bangunan,  pola pikir serta wawasan pun mengalami perubahan yang sangat berarti. Mungkin karena fasilitas internet dan televisi telah masuk ke dalam kehidupan masyarakat desa yang tak beda dengan perkotaan.

Jason Freud beberapa tahun lalu, dalam bukunya “Remote” mengatakan, bahwa “Hidup Mewah Masa Depan Adalah Meninggalkan Kota.”

Dua puluh tahun dari sekarang, kota akan menjadi lingkungan yang mengerikan. Kemacetan, polusi, persaingan usaha, hiruk-pikuk, serba terburu- buru, lingkungan sosial yang semakin individual, kemahalan hidup dan segala macam beban sosial lainnya. Mengambil contoh Jakarta. Data statistik menunjukkan bahwa sekitar 2, 42 juta penduduk jakarta menghabiskan total waktu di jalan 3, 63 juta jam perhari.

Kehidupan kota yang terus bergerak dinamis, makin terasa memaksa kehidupan manusia berubah menjadi Non-alam. Manusia dipaksa bersahabat dengan kehidupan baru yang membangun ketegangan saraf bila ingin tetap eksis sebagai warga metropolitan. Manusia tidak lagi menjadi dirinya yang asli yang sebenarnya, tapi memaksakan untuk berubah agar sesuai dengan irama kota yang menjauh dari nilai-nilai dasar kemanusiaan.

Tingkat eksistensi kemanusiaan manusia akan sangat ditentukan oleh seberapa banyak uang yang dimiliki atau kedudukan yang disandang. Tanpa disadari , manusia akan mengatakan bahwa dengan uang dan kedudukan, apa saja bisa dibeli, apapun bisa didapat dengan uang meskipun itu palsu.

Jangan mengira bahwa pengawalan orang-orang tertentu disebabkan kedudukannya yang harus dijaga demi keamanan negara, tapi juga didapat dari orang orang yang punya uang banyak. Nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan kebersamaan   tak lagi menjadi rujukan pergaulan hidup, meskipun tetap diucapkan menjadi semboyan kosong dan sekedar retorik. Perbincangan manusia kota menuju kepada bagaimana mendapatkan uang sebanyak banyaknya (making money), bukan memaknai hidup dengan nilai kemanusiaan itu sendiri, yang  bernuansa sosial, tolong menolong , saling menghormati tanpa strata sosial, kunjung-mengunjungi, tenggang rasa, saling berbagi dan sebagainya, apalagi nilai keagamaan yang membuat keteduhan dan ketenteraman jiwa manusia.

Beda halnya dengan kehidupan di desa. Manusia kembali dalam kehidupan yang alami, tanpa poles-poles, meskipun mereka juga diserbu dengan trend dan mode dunia, prilaku hidup dikota yang penuh keserakahan dan individual. Namun, mereka masih dipagari tradisi dan kultur yang tak mudah diterobos oleh nilai dan pola baru yang datang.

Karakteristik masyarakat desa yang umumnya bertani, cenderung lebih sabar, tidak terburu-buru bahkan nyaman dengan apa yang ada, membuat mereka canggung merubah gaya dan perilaku dengan cepat karena faktor tradisi dan kultur yang mapan dan mengakar di pedesaan.

Apakah kemudian desa akan berubah? 
Menurut saya itu pasti. Pelan-pelan masyarakat desa akan menyerap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang disediakan oleh jaringan komunikasi yang luas dan terbuka lebar. Masyarakat desa akan bisa berkomunikasi kemana saja dan kapan saja. 

Desa akan menjadi pusat produksi barang tertentu yang berbiaya murah, karena harga lahan yang relatif murah. Keadaan ini akan menarik beberapa pengusaha yang berbasis pertanian untuk menggeser usahanya dan hidupnya di pedesaan sambil menikmati keramah-tamahan, kebersamaan dan Kesederhanaan , ketenangan dan kenyamanan yang semakin sulit dijumpai di kota.

Mereka bisa memiliki kamar sekelas hotel bintang Lima dan rumah yang nyaman serta asri sambil menghirup udara yang segar, air yang banyak dan jauh dari polusi.

Di desa, masyarakat bisa makan dengan sayur dan buah yang segar, ikan yang baru ditangkap dan ternak kecil dan besar yang mudah juga didapat. Bersamaan dengan itu, kesempatan mendekat   dengan kehidupan yang makin religius dan soleh makin terbuka dengan waktu yang semakin banyak.

Saya teringat sepenggal syair lagi tahun tujuh  puluhan dari group band Rock yang sangat populer pada masanya, Godbless, judulnya “Rumah Kita”.
“Haruskah, kita beranjak ke kota  Yang penuh dengan tanya.
Lebih baik disini, rumah kita sendiri 
Segala Nikmat dan anugerah yang kuasa. Semuanya, ada disini ( Desa )”.

Bila kelak, uang elektronik/ Bit coin sudah menjadi nyata, kualitas pendidikan yang semakin merata, pelayanan kesehatan yang ada di desa yang semakin baik lengkap dengan ketersediaan tenaga medis dan peralatannya, maka pada saat itu, banyak orang mulai berfikir, kenapa kita tidak meninggalkan kota yang terasa semakin sumpek? Kenapa kita harus hidup dalam sangkar Apartment seperti kotak kotak sangkar merpati yang tak mengenal tetangga sebelah kamar ? Kenapa kita harus terjebak dalam kehidupan kota yang membuat saraf tak pernah kendur untuk bisa eksis dalam hidup?

Padahal hidup didunia hanya sekali, Setelah itu kita ada di dunia lain. Dalam kuburan yang juga makin sulit dapat kaplingnya di kota. Di Jakarta, berkubur bisa mengeluarkan uang hingga lebih dari 100 juta rupiah bagi yang berpunya.

Kini, sejumlah orang berpunya mulai menggeser tempat tinggalnya ke desa. Mereka ada dari kalangan artis, pengusaha, pensiunan jenderal polisi dan TNI, dan pejabat negara. Bahkan Lebih ekstrim lagi ada yang memilih mendekat ke bibir   hutan dan kaki gunung, setelah mereka membuka lebar jendela pikirannya (open the window).

Lebaran ini, saya ketemu seorang tokoh nasional yang berlibur ke Sumatera Barat.
Penilaiannya terhadap keindahan alam Ranah Minang luar biasa. 
“Saya mengunjungi banyak objek wisata disini, katanya. Luar biasa dan saya sangat puas. Ternyata Ranah Minang memang cantik dan banyak yang masih Asri”, katanya.

Lalu saya beri komentar, “bahwa anda untuk menikmati semua itu harus menyediakan waktu,   mengeluarkan uang banyak dan itu sesuatu yang mahal. Bagi masyarakat yang tinggal di sini, mereka nikmati semua itu tanpa biaya. Ketika mereka membuka jendela pagi hari, udara segar dengan harum cemara atau atau aroma hutan menerobos masuk ke dalam rumah, dengan tanpa berbayar, lalu hamparan sawah, atau hijau padang rumput membentang memanjakan mata mereka tanpa biaya. Semua menjadi konsumsi kehidupan harian mereka yang sangat mewah untuk anda peroleh di Jakarta”.

Bila malam menjelang, 
dalam kesunyian malam 
dan semilir angin 
yang membawa harum dedaunan, 
ada gemericik air di kolam 
diselingi senandung denting denting gamelan, 
puput serunai atau bansi 
yang mendayu dayu, 
sayup sayup sampai,  
mengantarkan tidur 
untuk menjemput mimpi yang indah.

Tuhan Maha Adil. 
Kami disini tak berbaju mentereng, 
pakai jas dan dasi, 
kami juga tak pakai jam tangan Rolex, Bulgari atau bahkan patex Philip, 
Richard Mille atau merk termahal apapun, tapi kami makan dari semua yang segar dan asri dengan udara bersih di tengah lukisan alam yang indah setiap hari. 

Jam tangan kami adalah suara azan yang menandakan waktu, 
karena kami tak menghitung menit apalagi berfikir “time is money”, 
karena itu kami tak kasak- kusuk mencari uang, 
karena kami sudah mendapatkan kenikmatan 
yang anda cari dengan uang 
yang anda buru kemana mana dan dimana mana.

Sepertinya hidup perlu juga dievaluasi untuk diri.

(Dingin Alahan Panjang, 7 Mei 2022)


Tag :#GamawanFauzi #Opini #Kota #Desa