- Jumat, 13 Februari 2026
Gelak Tawa Dan Tangis Haru Dalam Bait Pantun Adat Penanti Marapulai
Gelak Tawa dan Tangis Haru dalam Bait Pantun Adat Penanti Marapulai
Oleh: Andika Putra Wardana
Baralek gadang di Ranah Minang tak pernah lepas dari riuh rendah suara, mulai dari denting talempong, aroma gulai yang menusuk hidung, hingga sahut-sahutan kata yang berbalut seni.
Bagi masyarakat Minangkabau, momen menanti kedatangan marapulai (pengantin pria) adalah teater kehidupan yang lengkap.
Di sana ada protokol yang kaku, ada air mata haru seorang ibu, namun ada pula canda gurau yang memecah ketegangan.
Semua emosi itu dirangkum apik dalam Pantun Adat, sebuah tradisi lisan yang menjadikan perhelatan pernikahan lebih dari sekadar pesta makan-makan.
Prosesi biasanya dibuka dengan tata krama yang tinggi. Sebelum gegap gempita penyambutan dimulai, pihak tuan rumah atau juru bicara akan memohon izin terlebih dahulu kepada niniak mamak dan para tetua.
Ini adalah bentuk sopan santun diplomasi untuk meminta restu agar acara berjalan lancar. Simak bagaimana indahnya permohonan maaf dan pemberitahuan tersebut dirangkai dalam bait berikut.
"Jatuah badantiang tali manyiak
Putuih tahampa kabingkalai
Minta maaf ka mamak nyinyiak
Kami maimbau marapulai"
Tak lupa, segala niat baik itu disandarkan pada nilai religius, memastikan bahwa setiap kata yang terucap terlindung dari kesia-siaan:
"Ambiak bilah batang dibantun
Dibantun sampai kabatang sarai
Dengan bismilah kito bapantun
Pantun mananti marahpulai"
Curahan Hati Sang Mandeh
Namun, di balik formalitas adat, terselip sisi manusiawi yang sangat menyentuh, terutama bagi Mandeh (ibu) pengantin wanita.
Pernikahan anak gadisnya adalah momen monumental, sebuah tanda bahwa tugasnya membesarkan anak telah sampai ke puncak.
Pantun Adat merekam perasaan campur aduk ini, antara rasa tua yang mulai menjemput dan kebahagiaan mendapatkan anggota keluarga baru.
Tidak ada yang lebih jujur menggambarkan perasaan seorang ibu selain pantun ini:
"Bulek bulek buah palo
ditungkuih jo daun baru lah putiah uban dikapalo baru mandapek minantubaru"
Kebahagiaan itu makin lengkap dengan rasa syukur bahwa keluarga besar kini bertambah. Filosofi "anak sorang jadi baduo" menjadi inti dari kegembiraan tersebut, seperti yang tertuang dalam larik:
"Luruih jalan ka lubuak aluang
Nampak jalan basimpang duo
Sanang hati mandeh kanduang
Anak sorang jadi baduo"
Atau pengakuan tulus tentang tuntasnya kewajiban orang tua:
"Batang batiak tumbuah dilaman
Babuahdimakan tupai Sajak kaciak mandeh gadangan
Kini mungkasuik alah sampai"
Seni Menggerutu yang Mengundang Tawa
Uniknya, orang Minang juga ahli mengubah kejengkelan menjadi kelakar. Seringkali rombongan marapulai terlambat datang karena berbagai hal teknis di jalan.
Daripada marah-marah yang merusak suasana, pihak penanti biasanya melontarkan sindiran jenaka. Rasa lelah menunggu disampaikan lewat metafora "menggali urat kacang" yang tak kunjung selesai:
"Lah panek kami dek manggali
Takali dek'urek kacang Lah panek kami dek mananti
Ba'a kok lambek nak pulai datang"
Bahkan, sasaran tembak humor ini bisa meluas ke keluarga sendiri yang saking antusiasnya menunggu, sampai-sampai lupa makan.
Sindiran "kasar" tapi akrab ini justru yang sering membuat tamu undangan terbahak-bahak:
"Kayu aro dilingkang tarok
Tarok dilingkuang tali rotan
Induak nak daro talampau arok
Lah saminggu ndak makan makan"
Itulah kekuatan Pantun Adat Minangkabau. Ia bukan sekadar hafalan kuno, melainkan cermin jiwa masyarakatnya yang santun, penyayang, namun juga jenaka. Di dalam bait-bait itulah tersimpan identitas kita yang sesungguhnya.
Editor : melatisan
Tag :Gelak Tawa, Tangis Haru, Bait Pantun Adat, Penanti Marapulai
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
RESEP RENDANG DAGING SAPI ASLI MINANG TAHAN LAMA TANPA PENGAWET
-
KUMPULAN PANTUN CINTA MINANG PALING ROMANTIS: DARI PERTEMUAN HINGGA JANJI SETIA
-
DI BAWAH MARAPI, JEJAK “NAK KAYO KUEK MANCARI, NAK CADIAK RAJIN BAGURU” YANG TERPATRI DALAM TANAH DAN TRADISI
-
PANTUN MINANG LUCU: CARA ORANG MINANG MENERTAWAKAN HIDUP DENGAN SANTUN
-
PANTUN ADAIK MINANG: BAHASA HALUS DALAM MENJAGA MARTABAT DAN ADAT