HOME VIRAL UNIK

  • Kamis, 12 Februari 2026

Di Bawah Marapi, Jejak “Nak Kayo Kuek Mancari, Nak Cadiak Rajin Baguru” Yang Terpatri Dalam Tanah Dan Tradisi

Di Bawah Marapi, Jejak “Nak Kayo Kuek Mancari, Nak Cadiak Rajin Baguru” yang Terpatri dalam Tanah dan Tradisi

Oleh: Andika Putra Wardana


Batur, pada suatu pagi yang basah oleh embun kaki Gunung Marapi, membentang sunyi dengan kontur tanah yang bergelombang dan hamparan sawah yang teratur.

Di sinilah, jauh sebelum rumah-rumah modern dan jalan beraspal muncul, nenek moyang orang Minangkabau menapakkan kaki mereka lebih dulu untuk menetap, menciptakan aturan hidup, dan memberi makna pada sebuah pepatah yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang Minang.

“nak kayo kuek mancari, nak cadiak rajin baguru.”

Filosofi itu bukan sekadar motivasi, tetapi bagian dari cerita tanah ini yang bertahan dalam tambo dan ingatan kolektif masyarakat setempat.

Batur: Dusun Pertama yang Diatur, Bukan Sekadar Nama

Di pinggang Gunung Marapi, terdapat sebuah jorong bernama Batur yang sejak lama diyakini sebagai tempat permukiman pertama orang Minangkabau setelah mereka turun dari Galundi Nan Baselo.

Dalam Tambo Minangkabau, Batur memang disebut sebagai dusun paling awal, sebuah tempat di mana aturan sosial dan budaya mulai dirajut secara sistematis oleh dua tokoh berpengaruh, yaitu Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang.

Mereka bukan hanya pemimpin, tetapi juga figur yang menata prinsip hidup bersama dalam bentuk tatanan adat yang kemudian berkembang di seluruh negeri Minang.

Asal kata Batur sendiri konon merujuk pada istilah Ba-atur yang bermakna “tempat diatur”.

Arti ini tidak sekadar etimologi, tetapi menjadi refleksi nyata dari peran Batur dalam sejarah lisan, sebuah laboratorium budaya di mana nilai-nilai sosial mulai dibakukan sebelum menyebar lebih jauh ke daerah lain di ranah Minangkabau.

Sawah Gadang Satampang Baniah

Jika adat adalah kabut yang tak kasat mata namun terasa, maka di tanah Batur tersimpan jejak yang lebih konkret. Tanah sawah yang telah dibuka lebih dulu oleh tangan-tangan leluhur.

Kawasan yang dikenal sebagai Sawah Gadang Satampang Baniah bukan sekadar hamparan persawahan biasa. Tradisi lokal menyebutnya sebagai salah satu sawah pertama yang diteruka untuk bercocok tanam, simbol nyata peralihan masyarakat dari berburu ke bercocok tanam yang menetap.

Dari seikat benih kecil (satampang) dan kerja keras yang tak kenal lelah, sawah ini menjadi saksi kehidupan produktif masyarakat awal Minang yang mulai bergantung pada tanah sebagai sumber penghidupan.

Sawah ini berdiri tak jauh dari Galundi Nan Baselo, tempat yang disebut-sebut dalam tambo sebagai lokasi awal para nenek moyang beristirahat setelah perjalanan panjang mereka.

Bagi warga setempat, sawah itu bukan sekadar lokasi agraris, tapi pengingat bahwa hidup yang baik dibangun dari tenaga yang digerakkan sendiri.

Batu Manitik dan Tradisi Berkarya

Di dekatnya, terdapat sebuah situs lain yang juga sarat makna. Batu Manitik. Di sinilah para leluhur dipercayai melakukan aktivitas kreatif dan produktif, memproduksi alat pertanian dan perkakas lain dengan teknik sederhana namun efektif.

Tempat ini menggambarkan sisi lain dari pepatah itu, bukan hanya mencari kekayaan secara material, tetapi juga mengolah sumber daya alam dengan kecerdasan dan kerja keras.

Dalam Tambo dan cerita lisan, suara batu yang dipukul di Batu Manitik bukan disamakan dengan bunyi kosong. Suara itu justru dianggap sebagai “musik kerja”, suara yang menandai semangat berkarya demi kebutuhan hidup bersama.

Masyarakat setempat memelihara cerita ini sebagai bagian dari sejarah yang mengakar dalam perilaku kolektif mereka, dari generasi ke generasi.

Menyusuri Jejak, Menyimpan Makna

Dari Batur, masyarakat Minang kemudian menyebar ke dataran dan lembah lain, membawa serta aturan adat yang telah dirumuskan di sini.

Perpindahan dari Batur ke tempat-tempat seperti Pariangan dan wilayah lain mengisyaratkan dinamika kehidupan, kebutuhan akan lahan baru, peluang hidup yang lebih baik, dan cara-cara baru mencari nafkah.

Dalam perjalanan itu, pepatah “nak kayo kuek mancari, nak cadiak rajin baguru” menjadi narasi yang terus diulang para orang tua kepada generasi berikutnya, sebagai pengingat tak lekang oleh waktu akan pentingnya kerja keras dan menuntut ilmu.

Jejak-jejak fisik seperti Galundi Nan Baselo, Sawah Gadang Satampang Baniah, dan Batu Manitik tetap sunyi di kaki Marapi, namun bagi mereka yang tahu dan datang untuk menyimaknya, tanah dan batu-batu itu berbicara.

Mereka berbicara tentang komunitas yang hidup dari nilai-nilai yang dulu diatur di Batur, tentang kerja keras yang tak kenal menyerah, dan tentang kecerdasan yang lahir dari rasa ingin tahu dan ketekunan belajar.

Di tanah Batur, sejarah bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah ruang hidup yang terus berdenyut, memanggil setiap generasi untuk tidak sekadar melewati hidup, tetapi mengisinya dengan makna dan karya.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Dibawah Marapai, Jejek nak Kayo, Kuek, Mancari

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com