HOME PERISTIWA PROVINSI SUMATERA BARAT
- Senin, 8 Juli 2019
Dalam Rangka Konservasi Harimau Jawa, Pecinta Alam UNP Telusuri Taman Nasional Ujung Kulon
Padang (Minangsatu) - Dalam rangka konservasi Harimau Jawa, beberapa waktu lalu, tepatnya 24 Juni hingga 9 Juli 2019, Syukri Mansyah, anggota Mahasiswa Pencinta Alam dan Lingkungan Hidup (MPALH) Universitas Negeri Padang (UNP) yang tergabung dalam Ekspedisi Pecinta Alam Indonesia, terlibat dalam pengamatan dan pencarian binatang buas yang terancam kepunahan ini, di Taman Nasional (TN) Ujung Kulon Provinsi Banten.
Ekspedisi yang bertajuk "Menjemput Harimau Jawa II" ini diikuti oleh 33 utusan Perguruan Tinggi di Indonesia. UNP diwakili oleh Syukri Mansyah, mantan Ketua MPALH 2008-2019, yang saat ini juga tercatat sebagai mahasiswa Teknik Elektro FT UNP.
Menurut Syukri Mansyah iven yang dilaksanakan adalah kerjasama Ekspedisi Pencinta Alam Indonesia (EKPAI) 2019 dan Yayasan Ascala ini juga mendapat dukungan dari dua kementerian, yaitu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan, bertujuan untuk mengetahui status keberadaan Harimau Jawa dan ekosistemnya sebagai upaya menyelamatkan ekosistem hutan Jawa.
Mengapa Penting MPALH UNP Mendukung "Menjemput Harimau Jawa II", dikatakan Syukri Mansyah, pertama, Keberadaan Harimau Jawa (Panthera Tigris Sondaica) menjadi indikator biologi status dan pengelolaan ekosistem Jawa. Pernyataan punahnya Harimau Jawa (WWF, 1996) menjadi salah satu sebab tekanan terhadap ekosistem hutan Jawa meningkat, termasuk rencana penambangan emas di Taman nasional Meru Betiri, yang dinyatakan Seidensticker (1974) sebagai habitat terakhir Harimau Jawa.
Kedua, Sejak 1997, para Pecinta Alam yang menolak pernyataan punah tersebut telah terlibat dalam ekspedisi yang dilakukan pemerintah maupun secara mandiri untuk mengetahui keberadaan Maung, Gembong, Lodaya, Macan Asem, Simbahe Loreng--sebagian sebutan lokal harimau di kampung-kampung sekitar hutan Jawa. Berbagai ekspedisi tersebut membuktikan secara ilmiah tanda-tanda keberadaan Harimau Jawa.
Ketiga, Hasil "Ekspedisi Menjemput Harimau Jawa" di Cidaon-Gn Payung bekerjasama dengan TN Ujung Kulon berhasil mendokumentasi jejak berukuran 10 cm, cakaran di pohon dengan ketinggian di atas 200 cm dan feses berdiameter 4,6 cm (http://bit.ly/temuanxpdc).
Keempat, Pentingnya mengetahui keberadaan Harimau Jawa di Jawa Barat, khususnya Ujung Kulon. Ujung Kulon sebagai habitat Harimau Jawa ditunjukkan Hoogerwerf (1938), ditambah berbagai informasi perjumpaan masyarakat sekitar maupun temuan jejak berukuran 14 x 16 cm oleh mahasiswa IPB saat melakukan riset di wilayah tersebut merupakan alasan kuat pemilihan Ujung Kulon sebagai lokasi ekspedisi.
Kelima, Pembuktian keberadaan Harimau Jawa akan mengubah tata kelola hutan Jawa yang terus mengalamai tekanan dan tidak mustahil berakhir dengan kerusakan hebat tak terpulihkan. Kini tekanan terhadap ekosistem hutan Jawa meningkat oleh pertambangan emas, semen dan pasir, juga alih fungsi hutan lainnya dalam skala besar serta perburuan liar.
Editor : T E
Tag :UNP #MPALH #Ekspedisi Ujung Kulon
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
SUMBAR DIDORONG JADI DAERAH PERCONTOHAN NASIONAL DALAM PENANGANAN BENCANA
-
MENDAGRI TEGASKAN AKURASI DATA JADI KUNCI PERCEPATAN PEMULIHAN PASCABENCANA SUMBAR
-
PEMERINTAH TETAPKAN SKEMA BANTUAN RUMAH KORBAN BANJIR DAN LONGSOR DI TIGA PROVINSI
-
GUBERNUR MAHYELDI TERIMA BANTUAN RP4,56 MILIAR DARI BATAM UNTUK WARGA TERDAMPAK BENCANA
-
WAGUB SUMBAR VASKO, SAMPAIKAN ASPIRASI MASYARAKAT TERDAMPAK BENCANA KEPADA WAKIL KETUA DPR RI
-
RUMAH GADANG MAU DIPUGAR, BANYAK YANG AMBRUK
-
SURAT KEPADA NAHKODA SUMBAR, YANG BAHTERANYA KOYAK DI HANTAM GALODO
-
DUA JALAN KEBIJAKAN KOPI: INDONESIA DAN ETHIOPIA DI PERSIMPANGAN STRATEGI
-
ROSITA MEDINA, BUNDO KANDUANG DI RANTAU PUNYA TANGGUNGJAWAB MORAL
-
MAKNA KETIDAKHADIRAN PRESIDEN DI HPN 2026 BANTEN