- Kamis, 21 Mei 2026
Budi Baiak Urang Minang Di Tangah Budayo Pamer
Budi Baiak Urang Minang di Tangah Budayo Pamer
Oleh: Fauziah Khairani
(Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)
Di zaman sekarang, media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hampir semua hal dibagikan ke internet, mulai dari makanan, perjalanan, pekerjaan, hingga aktivitas membantu orang lain.
Tidak sedikit orang yang merekam dirinya saat memberi sedekah, membagikan makanan kepada orang miskin, atau membantu korban bencana. Video seperti itu sering mendapat banyak pujian karena dianggap menginspirasi dan menyentuh hati. Namun di balik pujian tersebut, muncul juga pertanyaan dari banyak orang: apakah kebaikan yang direkam masih benar-benar tulus?
Beberapa waktu terakhir, fenomena ini semakin sering terlihat. Ada orang yang membantu pengemis sambil membawa kamera, ada yang merekam proses memberi bantuan lalu mengunggahnya ke media sosial, bahkan ada yang menampilkan jumlah donasi agar dipuji sebagai orang dermawan. Hal ini membuat banyak orang merasa bingung.
Di satu sisi, konten seperti itu memang dapat menggerakkan orang lain untuk ikut membantu. Tetapi di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa kebaikan perlahan berubah menjadi ajang pencitraan. Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, nilai tentang kebaikan dan tolong-menolong sebenarnya sudah lama hidup sejak dahulu. Orang Minang dikenal memiliki rasa solidaritas yang kuat terhadap sesama.
Di kampung-kampung, masyarakat saling membantu tanpa harus diminta. Jika ada tetangga yang kesusahan, orang lain akan datang membantu. Jika ada keluarga yang mengadakan acara, masyarakat bergotong royong menyiapkan semuanya bersama-sama. Semua dilakukan dengan sederhana tanpa perlu dipamerkan.
Dalam adat Minangkabau terdapat ungkapan, “Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang.” Artinya, beban yang berat dipikul bersama dan yang ringan dibawa bersama-sama. Ungkapan ini menggambarkan bagaimana masyarakat Minang menjunjung tinggi kebersamaan dan kepedulian sosial.
Nilai seperti ini mengajarkan bahwa membantu sesama bukanlah sesuatu yang harus dipertontonkan, melainkan kewajiban moral sebagai manusia. Dahulu, orang tua-tua di kampung sering membantu secara diam-diam. Ada yang memberikan beras kepada tetangga yang kekurangan tanpa memberitahu siapa pun. Ada yang membiayai anak yatim sekolah tanpa ingin disebut namanya. Bahkan ada yang diam-diam meletakkan uang di rumah orang yang sedang kesulitan ekonomi.
Semua dilakukan karena rasa kemanusiaan, bukan untuk mendapatkan pujian. Budaya malu dalam masyarakat Minangkabau juga menjadi salah satu alasan mengapa orang dahulu tidak suka memamerkan kebaikan. Orang Minang diajarkan untuk menjaga harga diri dan tidak berlebihan dalam menunjukkan sesuatu kepada orang lain. Ada ungkapan Minangkabau, “Nan kuriak iyolah kundi, nan merah iyolah sago, nan baiak iyolah budi, nan indah iyolah baso.”
Maknanya adalah hal terbaik dari manusia bukanlah harta atau penampilan, melainkan budi pekerti dan tutur kata yang baik. Namun keadaan sekarang mulai berubah. Media sosial membuat manusia terbiasa mencari pengakuan dari orang lain. Jumlah likes, komentar, dan pujian sering dijadikan ukuran keberhasilan. Akibatnya, sebagian orang merasa bahwa kebaikan akan lebih berarti jika dilihat banyak orang. Tanpa disadari, niat untuk membantu kadang bercampur dengan keinginan untuk dipuji.
![]() |
Fenomena ini sebenarnya menjadi tantangan besar bagi generasi muda, termasuk mahasiswa dan anak-anak rantau Minangkabau. Banyak anak muda ingin dikenal sebagai pribadi yang peduli dan baik hati. Hal itu memang tidak salah. Akan tetapi, jika semua dilakukan demi pencitraan, maka nilai keikhlasan bisa perlahan hilang.
Dalam ajaran Islam sendiri, keikhlasan memiliki kedudukan yang sangat penting. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa amalan yang dilakukan dengan riya atau ingin dipuji manusia dapat kehilangan nilainya di sisi Allah. Di Minangkabau, agama dan adat berjalan berdampingan. Masyarakat mengenal falsafah, “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.” Artinya, adat Minangkabau bersandar kepada ajaran agama Islam.
Oleh sebab itu, nilai tentang keikhlasan dan rendah hati sangat dijunjung tinggi dalam kehidupan masyarakat. Orang yang terlalu suka memamerkan diri biasanya dianggap kurang elok dalam pergaulan sosial. Meskipun begitu, tidak semua orang yang membagikan kebaikan di media sosial memiliki niat buruk. Ada juga yang benar-benar ingin mengajak orang lain untuk peduli terhadap sesama. Banyak gerakan sosial lahir dari media digital, seperti penggalangan dana untuk korban bencana atau bantuan bagi masyarakat miskin.
Berkat media sosial, informasi tentang orang yang membutuhkan bantuan bisa lebih cepat menyebar. Dalam hal ini, teknologi sebenarnya dapat menjadi alat yang baik jika digunakan dengan niat yang benar. Masalahnya bukan terletak pada kamera atau media sosial, tetapi pada niat di dalam hati. Jika seseorang membantu demi mendapatkan pujian, maka ia akan kecewa ketika tidak mendapat perhatian.
Namun jika seseorang membantu dengan tulus, ia tidak akan terlalu memikirkan apakah orang lain melihat atau tidak. Baginya, yang penting adalah ada orang yang terbantu. Masyarakat Minangkabau sejak dahulu juga diajarkan untuk menjaga niat dalam berbuat baik. Ada ungkapan, “Aluih baso dek kato, aluih budi dek baso.” Maksudnya, kelembutan dan kebaikan seseorang terlihat dari cara berbicara dan perilakunya. Orang yang benar-benar baik biasanya tidak sibuk membicarakan kebaikannya sendiri. Ia akan tetap membantu meskipun tidak mendapat sorotan.
Di era digital sekarang, menjaga keikhlasan memang tidak mudah. Godaan untuk menunjukkan kehidupan kepada orang lain sangat besar. Banyak orang merasa takut tidak dianggap peduli jika tidak memposting aktivitas sosial mereka. Padahal, kebaikan yang paling tulus sering kali justru dilakukan dalam diam. Ketika seseorang membantu tanpa diketahui siapa pun, hanya dirinya dan Tuhan yang mengetahui hal tersebut. Di situlah letak ketenangan hati yang sebenarnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebenarnya bisa mulai membiasakan hal-hal kecil. Misalnya membantu teman tanpa berharap dipuji, memberi sedekah tanpa mencantumkan nama, atau menolong tetangga tanpa perlu mengunggahnya ke media sosial. Hal-hal sederhana seperti itu dapat melatih hati agar tetap ikhlas. Kehidupan masyarakat Minangkabau mengajarkan bahwa hubungan antarmanusia dibangun dengan rasa hormat, kepedulian, dan kebersamaan. Nilai gotong royong yang diwariskan nenek moyang seharusnya tetap dijaga meskipun zaman sudah berubah.
Teknologi boleh berkembang, tetapi nilai kemanusiaan jangan sampai hilang. Pada akhirnya, kebaikan sejati bukanlah tentang seberapa banyak orang yang melihat, melainkan seberapa tulus hati saat melakukannya. Media sosial hanyalah alat, sedangkan nilai dari sebuah perbuatan bergantung pada niat manusia itu sendiri.
Dalam dunia yang semakin sibuk mencari pengakuan, mungkin kita perlu kembali belajar dari orang-orang tua di kampung: membantu tanpa banyak bicara, memberi tanpa berharap pujian, dan berbuat baik tanpa harus menjadi tontonan. Karena sesungguhnya, kebaikan yang dilakukan diam-diam sering kali memiliki makna yang paling dalam. Seperti air yang mengalir tenang, ia tidak banyak suara, tetapi mampu memberi kehidupan bagi banyak orang.
Di dalam cerita ini juga mengajar kan kita tetap rendah hati dan tidak selalu mempamerkan apa yang kita miliki atau yg kita punya, media sosial kini sudah menjadi trend bagi masyarakat, bahkan hal kecil pun masih tetap di pamerkan oleh masyarakat di media sosial,maka dari itu kita harus berhati-hati dalam melakukan sesuatu atau bertindak, karena tidak semua hal harus di pamerkan di media sosial, ini juga bisa berdampak buruk atau baik nya bagi masyarakat.
Editor : melatisan
Tag :Budi Baiak, Urang Minang, Tangah Budayo Pamer
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
MENELUSURI SEJARAH DAN TARIKAN NAPAS PANJANG ALAT MUSIK SALUANG MINANGKABAU
-
MENGUPAS TUNTAS PERJALANAN SEJARAH DAN MAKNA RENDANG DALAM BUDAYA MINANG
-
TRADISI ROSOK AIA, ROSOK MINYAK DALAM PERNIKAHAN ADAT LINTAU.
-
DARI ALAM UNTUK KEBANGGAAN BUMI MINANGKABAU
-
MEMAHAMI SENI MINANGKABAU MELALUI TRADISI DAN PERTUNJUKAN
-
DARI PASAR KE TANAH SUCI: KISAH PAK DAS, BURUH ANGKUT BATUSANGKAR YANG MENJEMPUT KEMULIAAN DI KURSI BISNIS GARUDA
-
KOPI MINANG, PERMATA GASTRONOMI YANG LAYAK JADI WAJAH WONDERFUL INDONESIA
-
PERTUMBUHAN EKONOMI SUMBAR MENGUAT DI AWAL 2026
-
HARAPAN DAN REALITAS PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI INDONESIA: ANTARA NARASI KEMAJUAN DAN KRISIS STRUKTURAL
-
KARTINI DI RANTAU: KETIKA SEMANGAT EMANSIPASI BERTEMU FALSAFAH BUNDO KANDUANG
.jpeg)