- Rabu, 20 Mei 2026
Dari Alam Untuk Kebanggaan Bumi Minangkabau
Dari Alam untuk Kebanggaan Bumi Minangkabau
Oleh: Aulyana Warohma
(Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)
Pada 31 Agustus 2025, saya berkesempatan menghadiri Festival Nagari untuk Bumi Minangkabau 2025, sebuah kegiatan budaya yang berlangsung hangat, meriah, dan penuh makna. Festival ini mengusung tema “Pangan Lokal, Hutan, dan Kebanggaan Kita”, yang menjadi pengingat penting tentang betapa eratnya hubungan masyarakat Minangkabau dengan alam dan tradisinya.
Sejak memasuki lokasi acara, suasana khas Minangkabau langsung terasa. Spanduk besar bertuliskan Festival Nagari untuk Bumi Minangkabau menyambut setiap pengunjung yang datang. Berbagai stan Usaha Kecil Menengah (UKM) dari berbagai daerah di Sumatera Barat turut memeriahkan acara. Aroma kuliner tradisional seperti kalamai dari Sijunjung begitu menggugah selera dan menambah kesan hangat dalam festival tersebut.
Tidak hanya itu, penampilan seni tradisional seperti Tari Piring yang dibawakan oleh mahasiswa turut memukau para pengunjung. Di beberapa sudut acara, terdapat stan yang menampilkan hasil olahan kopi lokal sekaligus mengajarkan cara meracik kopi secara tradisional. Beragam permainan anak nagari juga diselenggarakan, seperti pacu karung, lompat tali, serta berbagai perlombaan menarik lainnya yang disambut antusias oleh anak-anak. Kehadiran door prize semakin menambah semarak suasana.
Festival ini bukan sekadar ajang hiburan atau pameran budaya, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan antar generasi. Orang-orang tua berbagi cerita tentang adat, nilai-nilai kehidupan, serta kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Sementara itu, generasi muda tampak antusias mendokumentasikan setiap momen melalui media sosial. Di tengah derasnya arus modernisasi, pemandangan ini memberikan harapan bahwa budaya Minangkabau tetap hidup dan dicintai.
Keberadaan nagari sejak dahulu memang menjadi penopang kehidupan masyarakat Minangkabau. Hutan, sawah, ladang, dan kekayaan alam lainnya bukan hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga bagian dari identitas dan kebanggaan masyarakat. Festival ini mengingatkan kita bahwa menjaga alam berarti menjaga warisan budaya.
Hal yang paling menyentuh bagi saya adalah keterlibatan generasi muda dalam festival ini. Saya menyadari bahwa menjaga hutan, melestarikan pangan lokal, dan mempertahankan tradisi bukanlah tugas generasi terdahulu semata, melainkan tanggung jawab bersama. Warisan ini harus terus dirawat agar tetap hidup dan dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.
Festival Nagari untuk Bumi Minangkabau 2025 menjadi ruang belajar yang hidup tentang bagaimana tradisi dapat terus berkembang di tengah era digital tanpa kehilangan nilai dan ruhnya. Dari nagari, kita belajar tentang kehidupan, kebersamaan, dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam.
Ketika acara berakhir dan panggung perlahan mulai sepi, saya berdiri sejenak memandangi suasana yang mulai lengang. Di balik tawa, tepuk tangan, dan kemeriahan yang baru saja usai, tersimpan harapan besar agar nagari-nagari di Ranah Minang terus menjadi sumber inspirasi bagi Indonesia, bahkan dunia.
Festival ini bukan sekadar perayaan budaya, melainkan sebuah ajakan untuk kembali menengok akar, menghargai pangan lokal, serta menjaga hutan sebagai warisan leluhur. Dari alam, tumbuh kebanggaan. Dari nagari, lahir peradaban. Dan dari Minangkabau, terpancar nilai-nilai luhur untuk masa depan.
Editor : melatisan
Tag :Dari Alam, untuk Kebanggaan, Bumi Minangkabau
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
RUMAH GADANG YANG DITINGGALKAN PERANTAU DAN NASIB RUMAH PUSAKA DI MINANGKABAU
-
PANTANGAN ANAK KAMANAKAN DALAM ADAT MINANGKABAU YANG MULAI JARANG DIKETAHUI GENERASI MUDA
-
GELAR DATUK DALAM ADAT MINANGKABAU DAN PERSOALAN PEWARIS YANG TINGGAL DI RANTAU
-
MAMBANTAI ADAT DAN PEMBAGIAN DAGING DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT MINANGKABAU
-
BATAGAK PANGULU DAN PERJALANAN SESEORANG SEBELUM MENYANDANG GELAR PANGULU
-
MAHASISWA KKN UNP 2026 SUSUN 23 PETA UNTUK MENDUKUNG PEMETAAN WILAYAH NAGARI BUNGO TANJUANG
-
MAHASISWA KKN UNP 2026 EDUKASI MASYARAKAT JORONG KAPUAH TENTANG PENCEGAHAN STUNTING MELALUI GIZI SEIMBANG DAN PHBS
-
RME SUDAH DIGUNAKAN, TETAPI APAKAH SUDAH BENAR-BENAR BERMANFAAT?
-
PERAWATAN GIGI ANAK TANPA RASA TAKUT: MENGENAL KEDOKTERAN GIGI MINIMAL INVASIF
-
MAHASISWA KKN REGULER II UNAND DEMONSTRASIKAN PEMBUATAN PUPUK BOKASHI BERSAMA KWT KORONG KOTO PANJANG