- Selasa, 19 Mei 2026
Menggali Fakta Sejarah Dan Asal Usul Tari Piring Di Sumatera Barat
Menggali Fakta Sejarah dan Asal Usul Tari Piring di Sumatera Barat
Oleh: Andika Putra Wardana
Banyak tradisi budaya unik yang hidup di tengah masyarakat Sumatera Barat. Salah satunya adalah asal usul tari piring, sebuah seni pertunjukan tua yang mempertontonkan gerakan lincah penari laki-laki dan perempuan sambil memutar dua keping porselen di telapak tangannya.
Tradisi ini biasanya diselenggarakan apabila warga desa baru saja menuntaskan masa panen raya padi yang hasilnya melimpah ruah dan siap masuk ke lumbung. Pada masa awalnya, pertunjukan gerak tubuh berirama cepat ini bukan ditujukan sebagai hiburan panggung murni bagi penonton.
Kesenian ini murni lahir sebagai sebuah ritual wajib dari kaum peladang untuk mengucap syukur panjang kepada penguasa alam semesta yang telah menjaga petak sawah mereka dari serangan hama penyakit, kekeringan, dan cuaca buruk.
Ritual Syukuran Panen di Tanah Solok
Menelusuri dari mana kesenian ini bermula memaksa kita membuka catatan sejarah menuju daerah lumbung beras utama di Kabupaten Solok. Kawasan agraris yang dibelah oleh hamparan petak sawah basah ini kerap dipanggil oleh orang tua masa lalu dengan nama wilayah Luak Kubuang Tigo Baleh.
Jejak rekam kebudayaan pada rentang abad ke-12 hingga ke-14, di masa kuatnya arus masuk pedagang laut, memperlihatkan bahwa warga peladang meracik gerakan memutar piring ini untuk kebutuhan peribadatan lisan.
Pada masa sebelum agama Islam masuk secara merata ke wilayah pegunungan, piring-piring porselen yang diayunkan penari di lapangan terbuka biasanya selalu diisi penuh dengan sesajian. Potongan daging kerbau rebus, buah segar, atau hasil panen padi terbaik diletakkan rapi di atas piring tersebut untuk dipersembahkan kepada dewa.
Sajian logistik ini dipercaya sebagai bentuk tebusan dan bayaran rasa terima kasih atas turunnya hujan yang teratur dan tanah yang selalu subur.
Gesekan Aturan dan Atraksi Pecahan Kaca
Masuknya ajaran Islam yang dibawa kuat oleh para ulama ke wilayah pedalaman pelan-pelan merombak total wajah pertunjukan gerak tubuh ini. Ritual persembahan sesajian makanan untuk dewa langsung dilarang keras dan dihentikan karena dinilai berbenturan dengan aturan agama.
Seniman kampung saat itu rupanya sangat jeli memutar siasat agar tarian ini tidak dibunuh begitu saja oleh zaman. Mereka bersepakat membuang seluruh urusan sesajiannya, tapi tetap menyuruh penari mempertahankan kelincahan ayunan piring yang kini sengaja dibiarkan kosong melompong.
Gerakan meliuk yang diiringi dentingan nyaring dari cincin pualam atau cincin damar yang diketuk keras ke dasar piring ini perlahan bergeser wujud murni menjadi tontonan penghibur warga kampung. Kesenian ini kemudian menyebar luas dan rutin diundang memanaskan halaman rumah gadang, berpadu kencang dengan alunan pukulan tembaga 'talempong pacik' dan alat tiup 'saluang', setiap kali ada hajatan pernikahan keluarga.
Atraksi yang paling membuat penonton menahan napas biasanya baru dikeluarkan di penghujung acara, persis ketika para penari bersorak lalu tanpa ragu melompat menginjak tumpukan pecahan kaca tajam tanpa membuat telapak kaki mereka robek berdarah.
Latihan Keras dan Pembinaan di Panggung Kampus
Mencetak penari bertenaga kuda yang sanggup melempar porselen ke udara dan menahan tajamnya sayatan kaca di telapak kaki jelas butuh tempaan fisik berbulan-bulan. Penari pemula wajib rela berkeringat menghafal ritme kuda-kuda kaki sebelum berani menyentuh kepingan piring asli.
Menariknya, napas pelestarian seni pertunjukan perdesaan ini sekarang justru banyak didorong kuat oleh barisan mahasiswa di lingkungan kampus.
Banyak himpunan mahasiswa, khususnya yang berpusat di jurusan sastra daerah, yang turun gelanggang merancang program pembinaan utuh untuk kelompok seni tradisi perdesaan.
Mereka tidak sekadar menari di waktu luang, tapi juga telaten membuka rekrutmen anggota baru, melatih pernapasan sang penari panggung, sampai mengatur tata letak pemain musik perkusi pengiringnya secara ketat. Kelompok teater dan panggung pementasan ini bahkan sudah berhitung cerdas merumuskan jalan komersialisasi bagi hasil keringat mereka.
Taktik pengelolaan kelompok seni yang sangat rapi ini sengaja dihidupkan supaya seni warisan nenek moyang ini punya patokan harga jual yang pantas, memastikan penari mudanya bisa ikut membawa pulang keuntungan finansial yang wajar saat mereka disewa pentas ke aula hotel atau acara pemerintahan kota.
Melihat rentetan perjalanan panjang dari sebuah ritual persembahan hasil panen hingga dikelola rapi menjadi tontonan panggung berbayar ini menyadarkan kita bahwa warga pedalaman selalu punya akal panjang untuk bertahan hidup. Asal usul pertunjukan ini menjadi bukti telak bahwa seniman kampung masa lalu menolak menyerah pada keadaan dan tidak mau mematikan kesenian hanya karena datangnya aturan hukum yang berbeda.
Mereka rela merombak wujud gerakan dan membuang isian piring asalkan denting keramik tetap berbunyi nyaring memecah kesunyian pelataran rumah. Siasat kompromi yang amat jitu inilah yang membuat piring-piring itu terus diayunkan berputar lincah oleh tangan anak muda sampai detik ini, memastikan ingatan tentang riuh rendahnya pesta panen raya masa lalu tidak pernah lenyap ditelan umur.
Editor : melatisan
Tag :Menggali, Fakta Sejarah, Asal Usul, Tari Piring, Sumatera Barat
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
MENGUPAS BERATNYA BEBAN DAN PERAN MAMAK DALAM KELUARGA MINANGKABAU
-
MENGUPAS ALASAN DAN MAKNA MERANTAU BAGI ORANG MINANG DI TANAH RANTAU
-
MENELUSURI AKAR NILAI BUDAYA DALAM TRADISI MINANGKABAU LEWAT KARYA SASTRA DAN PEPATAH LAMA
-
MENGGALI JEJAK KEMERIAHAN DAN SEJARAH ALEK NAGARI DI MINANGKABAU
-
MENELUSURI JEJAK PERKEMBANGAN TRADISI BARALEK DI MINANGKABAU ERA MODERN
-
DARI PASAR KE TANAH SUCI: KISAH PAK DAS, BURUH ANGKUT BATUSANGKAR YANG MENJEMPUT KEMULIAAN DI KURSI BISNIS GARUDA
-
KOPI MINANG, PERMATA GASTRONOMI YANG LAYAK JADI WAJAH WONDERFUL INDONESIA
-
PERTUMBUHAN EKONOMI SUMBAR MENGUAT DI AWAL 2026
-
HARAPAN DAN REALITAS PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI INDONESIA: ANTARA NARASI KEMAJUAN DAN KRISIS STRUKTURAL
-
KARTINI DI RANTAU: KETIKA SEMANGAT EMANSIPASI BERTEMU FALSAFAH BUNDO KANDUANG