- Jumat, 14 November 2025
Bubur Kampiun, Hidangan Manis Bukittinggi Yang Lahir Dari Lomba Takjil Ramadan
Bubur Kampiun, Hidangan Manis Bukittinggi yang Lahir dari Lomba Takjil Ramadan
Oleh: Andika Putra Wardana
Di banyak daerah di Sumatera Barat, bubur selalu menjadi bagian penting dari menu Ramadan. Setiap sore, pasar-pasar mulai ramai dengan wangi santan yang dimasak perlahan, gula aren yang mencair, dan ketan yang dikukus sejak siang. Bubur bukan sekadar makanan pembuka, tapi juga simbol kebersamaan keluarga dan tradisi Minang yang terus bertahan.
Di antara banyak jenis bubur yang hadir setiap Ramadan, ada satu yang selalu tampak paling lengkap. Lapisan isinya banyak, warnanya meriah, dan proses memasaknya membutuhkan lebih dari satu tangan. Hidangan itu kini dikenal luas sebagai salah satu kuliner manis paling khas dari Bukittinggi, bubur kampiun.
Bubur kampiun berasal dari Kelurahan Campago, Kota Bukittinggi, dan kisahnya bermula dari sebuah lomba takjil Ramadan yang digelar puluhan tahun lalu. Pada masa itu, para ibu di Campago berlomba membuat bubur paling lezat, paling lengkap, dan paling menarik untuk disajikan kepada jemaah masjid menjelang berbuka. Bubur terbaik dinobatkan sebagai “kampiun”, yang berarti juara. Sejak saat itu, bubur tersebut dikenal sebagai bubur kampiun, bubur juara.
Isinya pun menggambarkan semangat “juara” itu:
1. bubur sumsum yang lembut,
2. bubur ketan hitam,
3. cindua (cendol Minang),
4. kolang-kaling gula aren,
5. kacang hijau,
6. dan siraman gula merah kental.
Setiap komponen dimasak terpisah, lalu disatukan sebelum disajikan. Gurih santan bertemu manis gula aren, lembut bertemu kenyal, menghasilkan paduan rasa yang kaya dan hangat, khas kuliner Minang yang memanjakan lidah.
Bubur kampiun bukan hanya makanan, tetapi juga cermin budaya Campago, kerja sama di dapur, kreativitas memadukan bahan lokal, hingga filosofi “ramai-ramai itu lebih enak”. Tidak heran jika bubur ini selalu hadir di pasar-pasar Bukittinggi seperti Pasar Ateh dan Aur Kuning setiap Ramadan, bahkan sudah menyebar ke berbagai daerah perantauan.
Jika kamu sedang berada di Bukittinggi saat bulan puasa, cobalah datang ke pasar ketika matahari hampir tenggelam. Pesan satu mangkuk bubur kampiun yang masih hangat, duduk di bangku kayu pasar sore, dan rasakan bagaimana satu porsi bubur bisa menyimpan sejarah kompetisi sederhana yang melahirkan kuliner legendaris dari ranah Minang.
Editor : melatisan
Tag :#Bubur Kampiun
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
RUMAH GADANG YANG DITINGGALKAN PERANTAU DAN NASIB RUMAH PUSAKA DI MINANGKABAU
-
PANTANGAN ANAK KAMANAKAN DALAM ADAT MINANGKABAU YANG MULAI JARANG DIKETAHUI GENERASI MUDA
-
GELAR DATUK DALAM ADAT MINANGKABAU DAN PERSOALAN PEWARIS YANG TINGGAL DI RANTAU
-
MAMBANTAI ADAT DAN PEMBAGIAN DAGING DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT MINANGKABAU
-
BATAGAK PANGULU DAN PERJALANAN SESEORANG SEBELUM MENYANDANG GELAR PANGULU
-
MAHASISWA KKN UNP 2026 SUSUN 23 PETA UNTUK MENDUKUNG PEMETAAN WILAYAH NAGARI BUNGO TANJUANG
-
MAHASISWA KKN UNP 2026 EDUKASI MASYARAKAT JORONG KAPUAH TENTANG PENCEGAHAN STUNTING MELALUI GIZI SEIMBANG DAN PHBS
-
RME SUDAH DIGUNAKAN, TETAPI APAKAH SUDAH BENAR-BENAR BERMANFAAT?
-
PERAWATAN GIGI ANAK TANPA RASA TAKUT: MENGENAL KEDOKTERAN GIGI MINIMAL INVASIF
-
MAHASISWA KKN REGULER II UNAND DEMONSTRASIKAN PEMBUATAN PUPUK BOKASHI BERSAMA KWT KORONG KOTO PANJANG