HOME OPINI DIDAKTIKA

  • Jumat, 2 Juli 2021
Potensi Virtual Laboratory untuk Mengembangkan Ketrampilan Proses Sains Siswa
Nurul Azmi

Potensi Laboratory untuk Mengembangkan Ketrampilan Proses Sains Siswa


Oleh Nurul Azmi
(Mahasiswa Pasca Sarjana Pendidikan Fisika UNP)

 

Di era Revolusi Industri 4.0,  pendidikan dan teknologi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Baik guru maupun siswa keduanya tidak mempunyai batasan dalam menggunakan teknologi dalam pendidikan. Karena pada generasi ini teknologi sudah mengakar dan menjadi kebutuhan sehari-hari dan digunakan di segala aspek kehidupan. Lebih jauh lagi, penggunaan teknologi terbukti dapat meningkatkan minat belajar siswa. Selain memudahkan, inovasi, kreasi, dan disain tampilan teknologi juga bisa menjauhkan peserta didik dari rasa jenuh. Bandingkan dengan proses pembelajaran yang masih konvensional. 

Berdasarkan hasil temuan penulis mengenai keterampilan proses sains peserta didik pada mata pelajaran Fisika yang melaksanakan PBM secara konvensional didapati hasil pada kegiatan mengamati sebesar 41,18%; merumuskan masalah sebesar 2,94%; menyusun hipotesis sebesar 52,94%; mengidentifikasi variabel sebesar 14,71%; menginterpretasi data sebesar 35,29%; dan membuat kesimpulan sebesar 38,24%. Selanjutnya, dari data tersebut diperoleh persentase ketercapaian rata-rata yaitu sebesar 30,88%. Secara sederhana dapat disimpulkan keterampilan proses sains siswa pada pelajaran Fisika masih rendah. Sementara itu, keterampilan proses sains sangat perlu untuk dilatihkan kepada siswa agar mereka mampu mengkonstruksi dirinya sendiri. Melalui kemampuan dan potensi yang dimilikinya, siswa diharapkan mampu mencari, menemukan, dan melatih dirinya sendiri dalam memecahkan suatu masalah. 

Fisika, sebagai sebuah konsep ilmu yang sangat membutuhkan keterampilan proses sains mengandung komponen-komponen salah satunya menyajikan pembelajaran yang dapat meningkatkan rasa ingin tahu siswa. Untuk mewujudkan hal tersebut, diantara upaya yang dapat dilakukan oleh pendidik kepada siswa yaitu dengan melatihkan keterampilan proses sains. Keterampilan proses sains sebagaimana yang telah dinyatakan (Carin, 1993) adalah aktivitas pemikiran maupun tindakan dalam suatu pembelajaran penyelidikan untuk mencapai suatu hasil tertentu melalui serangkaian metode ilmiah. Keterampilan proses sains memberikan kesempatan pada siswa untuk ikut menghayati proses penemuan (discovery) konsep. 

Sementara itu menurut Kurikulum 2013, keterampilan proses sains meliputi keterampilan mengamati, mengelompokkan/klasifikasi, menafsirkan, meramalkan, mengajukan pertanyaan, merumuskan hipotesis, merencanakan percobaan, menggunakan alat/bahan, menerapkan konsep dan mengomunikasikan. Depdiknas (dalam Wisudawati, 2014) menyatakan bahwa keterampilan proses sains dibagi menjadi dua kelompok, yaitu keterampilan proses sains dasar dan keterampilan proses sains terintegrasi. Mustafa Aydogdu dalam jurnal “Effect of Problem Solving Method on Science Procces Skill and academic Achivment” menyatakan bahwa keterampilan proses sains dasar meliputi mengamati, mengklasifikasi, mengukur, mengomunikasikan, menginterpretasikan data, memprediksi, menggunakan alat, melakukan pekerjaan, dan menyimpulkan, sedangkan keterampilan proses sains terintegrasi meliputi merumuskan masalah, mengajukan hipotesis, mengidentifikasi variabel, mendeskripsikan hubungan antar variabel, merancang penelitian, melakukan penyelidikan/percobaan, menyusun data, menyusun grafik, dan menganalisis data. 

Salah satu alternatif yang diharapkan dapat melatih kemampuan keterampilan proses sains pada siswa yaitu dengan menggunakan Virtual Laboratory. Lewat Virtual Laboratory, praktikum fisika bisa dilaksanakan di mana saja dan kapan saja. Virtual laboratory merupakan simulasi komputer yang digunakan pada konsep pembelajaran Fisika dipelajari melalui investigasi dan eksplorasi secara langsung oleh penggunanya. Manfaat virtual laboratory muncul ketika penggunanya dapat menginvestigasi fenomena yang tidak teramati dan tidak ditemukan ketika melakukan investigasi menggunakan perangkat fisik. 

Virtual laboratory sebagai media pembelajaran berbasis komputer merupakan solusi untuk mensimulasikan kegiatan percobaan di laboratorium. Virtual laboratory dapat digunakan untuk mentransfer pengetahuan baik yang konseptual maupun yang prosedural. Virtual laboratory dapat digunakan untuk mengatasi terbatasnya alat dan zat kimia pada praktikum, dan juga dapat memberikan visualisasi bagaimana praktikum itu dilakukan. Virtual laboratory merupakan sistem yang dapat digunakan untuk mendukung sistem praktikum yang berjalan secara konvensional. Diharapkan dengan adanya virtual laboratory ini dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik, khususnya untuk melakukan praktikum melalui akses internet sehingga peserta didik tersebut tidak perlu hadir untuk mengikuti praktikum. Hal ini menjadi pembelajaran efektif karena peserta didik dapat belajar sendiri secara aktif tanpa bantuan instruktur ataupun asisten seperti sistem yang berjalan. Dengan format tampilan berbasis web cukup membantu peserta didik untuk dapat mengikuti praktikum secara mandiri.

Menurut tim Laboratorium Digital Arsitektur dalam (Abdjul, 2018), keunggulan laboratorium maya (virtual laboratory) ini antara lain: a) mengandalkan peralatan komputer yang bersifat serbaguna (dapat digunakan untuk menulis, menggambar hingga mensimulasikan fenomena nyata), b) mempunyai kemampuan hampir tak terbatas dalam permodelan karena tidak tergantung oleh kondisi alam nyata (skala, gravitasi, ketersediaan bahan, dan lain-lain), relatif lebih murah pengadaan, perawatan, dan operasionalnya dibandingkan laboratorium konvensional, d) relatif lebih aman (dari bahaya, api, gas, basah, dll), e) tidak membutuhkan tenaga kerja yang banyak untuk pengoperasiannya, f) memberikan hasil perhitungan yang lebih akurat, presisi serta cepat. Keunggulan virtual laboratory juga disampaikan oleh Chan dalam (Abdjul, 2018) yaitu: dapat digunakan kapan saja dan dimana saja, karena dalam bentuk software, b) mengajak siswa untuk mempunyai kesempatan lebih dalam melakukan eksperimen khususnya dalam keterbatasan waktu, kerumitan eksperimen dan resiko kecelakaan, c) meningkatkan antusiasme belajar siswa melalui interaktivitas.


Tag :#VirtualLaboratory #ProsesSains #FisikaUNP