HOME OPINI DIDAKTIKA

  • Selasa, 16 Februari 2021
Melacak Jejak "Si Binatang Jalang"
Rismal, S.Pd (Guru SMAN 5 Medan)

Melacak Jejak "Si Binatang Jalang"

(Kisah hidup Penyair berdarah Minang Chairil Anwar di Kota Medan)

Oleh Rismal, S. Pd

(Urang Awak di Kota Medan, Guru SMA N 15 Medan)

 

AKU ( Chairil Anwar, 1943 ) 

“ Aku kalau sampai waktuku 

  “kumau tak seorangkan merayu

“ Tidak juga kau

“ Tak perlu sedu sedan itu

“ Aku ini binatang jalang

“  dari kumpulannya terbuang

“ Biar peluru menembus kulitku

“Aku tetap meradang menerjang

“ luka dan bisa kubawa berlari

“ Berlari 

“ hingga hilang pedih peri

“dan aku akan  lebih tidak peduli

“ aku mau hidup seribu tahun lagi

Setiap tanggal 26 Juli, sastrawan dan pencinta sastra merayakan hari Puisi Nasional. Tanggal tersebut dipilih sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi “Sang Raja Penyair“ yakni Chairil Anwar. Dalam periode kesusasteraan Indonesia khususnya Periode angkatan 45, sosok Chairil Anwar jelas mendapat tempat istimewa dimata para penikmat dan kritikus sastra. Ia adalah sastrawan dengan predikat maestro dibidang puisi. Bukan tanpa alasan, predikat tersebut melekat kepadanya. Karya-karyanya telah mendapat pengakuan luas terutama dari para pemerhati dan juga dari kalangan sastrawan. Ia bahkan dinobatkan oleh  sastrawan Indonesia H. B. Jassin yang juga merupakan sahabatnya sebagai pencetus munculnya Angkatan 45 sekaligus pelopor puisi modern Indonesia. 

Salah satu karya Chairil Anwar yang paling diakui fenomenal dan legendaris serta mungkin banyak diketahui oleh khalayak  adalah puisi yang berjudul “ Aku”. Puisi ini dibuat oleh Chairil Anwar pada tahun 1943 di Jakarta ketika Jepang menduduki Indonesia saat itu. Dalam puisi ini tergambarkan bagaimana sosok Chairil Anwar yang individualis dan menunjukkkan vitalitas yang dimilikinya sebagi penyair dalam berkarya didunia sastra.

Tidak dapat dipungkiri selama hidupnya, Chairil Anwar termasuk produktif dan telah menghasilkan banyak karya. Selama kurun waktu yang singkat, diperkirakan ia telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi selama periode menulis mulai tahun 1942 hingga kematiannnya pada tahun 1949. Kiprahnya didunia sastra Indonesia khususnya dimasa Revolusi Kemerdekaan tidak diragukan lagi turut mewarnai khazanah sastra Indonesia dan turut berkontribusi mengobarkan semangat patrotisme dan nasionalisme. Hal ini tercermin dari lirik dan penggunaan diksi dalam setiap puisi yang dihadirkannya. 

Chairil Anwar diberi gelar Si Binatang Jalang. Alasan gelar tersebut diberikan karena berdasarkan diksi yang ada pada puisi “ Aku “ (1943) yaitu “ aku ini binatang jalang“. Bahkan diksi ini telah dijadikan sebagai judul Film dengan kalimat yang sama. Uniknya tidak banyak yang mengetahui bagaimana kisah hidup sang penyair yang flamboyan ketika masa kanak-kanak dan remaja. Apakah ia sudah produktif menulis puisi sejak anak anak dan remaja? Hal ini bisa ditelusuri dengan mencari riwayat hidupnya dengan membuka kembali sumber sumber yang mengisahkan kehidupan pribadi Chairil Anwar. 

Diketahui Charil Anwar lahir 26 Juli 1922 di Medan dari seorang Ayah dan Ibu berdarah Minang. Ayahnya, Toeloes bin Manan berasal dari Taeh, Payakumbuh serta sejak usia muda telah merantau ke Deli (Medan). Ia adalah seorang pegawai tinggi di era kolonial Belanda. Sedangkan ibunya, Saleha merupakan seorang putri keturunan bangsawan Koto Gadang, Sumatera Barat ( Tempo 2016). Rumah kelahiran Chairil Anwar terletak di Jalan Gajah Mada 38 Medan. Sayang sekali rumah itu telah dijual dan berganti dengan rumah baru dari bahan batu bata merah sehingga melenyapkan jejak sejarah keberadaan singkat Chairil Anwar di Kota Medan. 

Ketika masih anak-anak dan remaja, Chairil Anwar sempat mengenyam pendidikan setingkat sekolah dasar di HIS (Holland Inlandsche School) dan kemudian dilanjutkan ke MULO (Meer Uitgbreid Lager Onderwijs) setingkat SMP saat ini yang berlokasi di Jalan Cut Nyak Mutia (ex SMP N 1 Medan). Lebih menyesakkan lagi bangunan sekolah peninggalan kolonial yang semestinya menjadi cagar budaya dan harusnya dilindungi malah dirobohkan pada 1999 padahal beberapa tokoh nasional seperti Sutan Syahrir, Amir Hamzah merupakan alumni sekolah tersebut ( Tempo 2016). Syahrir dan Amir terlebih dahulu menyelesaikan pendidikannya pada 1923 dan 1927. 

Bakat kesenian dan sastra Chairil Anwar sesungguhnya sudah mulai tercium ketika berstatus sebagai siswa di Mulo. Ia bergabung dalam pengurus majalah dinding di sekolahnya yakni Ons Mulo Blad dan sempat menulis sebuah prosa yang sayangnya tak terdokumentasikan (Tempo 2016). Kegemarannya membaca berbagai buku merupakan buah dari penerapan budaya intelektual dalam keluarga besarnya. Sedari remaja, Chairil Anwar muda maniak dengan berbagai buku bacaan yang menurun dari kebiasaan ayahnya. Hasrat dan minat Chairil Anwar terhadap kesenian khususnya dalam berpuisi sudah terbentuk sejak usia 15 tahun saat masih bersekolah di Mulo. Usia ketika ia tumbuh sebagai remaja di Medan. Sebagai sosok yang kutu buku, wawasan literasi Chairil Anwar ketika di Mulo melampaui teman- temannya. Ia melahap buku-buku sastra, sejarah, dan ekonomi yang sebenarnya diperuntukkan bagi siswa HBS (Tempo 2016). 

Selain gemar membaca buku, Chairil Anwar juga keranjingan menonton film. Film yang ditayangkan hampir semuanya produksi dari luar seperti Eropa dan Amerika Serikat. Menonton film pada waktu itu merupakan hal yang langka dan dianggap istimewa. Hanya orang Belanda dan yang berduit yang dapat melakukannya. Itulah mengapa ia harus berusaha keras memperoleh duit untuk membeli tiket kelas satu di bioskop. Tidak tanggung-tanggung ia memaksa ibunya untuk meminjam uang atau menggadaikan barang demi memenuhi keinginannya tersebut. seperti yang dikutip oleh Tempo : 2016, Tengku Luckman Sinar dalam buku Sejarah Medan Tempo Doeloe mencatat Bioskop pertama di Kota Medan adalah Oranje Biooscop yang berdiri pada 1908. Setelah itu , lahir Imperial Theater di ujung jalan Kebudayaan, Bioskop Capitol di Jalan Kanton, bioskop Rex di Sambu, Deli Bioscoop di jalan Perdana dan sebagainya.    

Masa singkat Chairil di kota Medan berakhir pada 1942 ketika ia hijrah ke Batavia (Jakarta) pada saat ia masih kelas II Mulo. Rencananya ia akan melanjutkan pendidikan di Jakarta. Hijrah atau pindahnya Chairil Anwar bukanlah sesuatu yang mengherankan bila dilihat dari perspektif merantau yang merupakan pola migrasi yang melekat pada urang Minang. Seperti diketahui pada umumnya urang Minang sejak lama dikenal sebagai suku yang aktif melakukan migrasi dan mobilitas sosial seperti yang tercermin dari perilaku kedua orangtua Chairil Anwar yang merantau ke Tanah Deli sebelumnya dan beberapa tokoh-tokoh nasional dari ranah Minang lainnya seperti Syahrir, Buya Hamka, Tan Malaka. Apalagi karakteristik urang Minang yang terbuka terhadap perubahan menyebabkan keinginan merantau semakin meningkat. Dalam kasus Chairil Anwar diyakini faktor penyebab ia pindah ke Jakarta yakni senang akan tantangan dan ingin mengeksploitasi diri sebagai bentuk keberanian pada diri sendiri. Tak lama ibunya yang telah bercerai dengan ayahnya menyusul dirinya ke Jakarta. 

Di Jakarta bakat Chairil Anwar ditempa. Intelektualitasnya berkembang. Bacaannya bertambah banyak. Wawasannya makin luas (Tempo 2016). Akhirnya di kota ini pula ia melahirkan berbagai karya monumental terutama puisi-puisi yang fenomenal seperti “ Diponegoro” dan juga “ Karawang Bekasi” yang membuat namanya akan selalu dikenang dalam khazanah sastra Indonesia.                                

Itulah Chairil Anwar. Satu nama yang akan selalu terpatri dalam benak pecinta puisi. Sosok Chairil Anwar akan selalu mengingatkan kita betapa kekuatan perjuangan ada di dalam sastra. Nilai-nilai kehidupan, kemanusiaan, perlawanan, pemberontakan, mengalir kuat dalam setiap bait puisi Chairil Anwar. Sekali lagi, ini adalah sebuah catatan sejarah sebagai bukti Minangkabau kaya akan seni dan perjuangan dimana Masyarakatnya hidup dengan prinsip-prinsip yang akan selalu dipegang teguh meski tinggal jauh di perantauan.


Tag :#KhairilAnwar #BinatangJalan