- Jumat, 30 Agustus 2024
Ikhwal Kata “Awak” Dalam Bahasa Minangkabau
Ikhwal Kata “Awak” dalam Bahasa Minangkabau
Oleh: Bahren*
Bahasa Minangkabau agaknya sudah menjadi Bahasa keseharian yang digunakan oleh Sebagian besar masyarakat yang tinggal di wolayah Sumatera Barat. Walapun ada Sebagian masyarakat lain kadangkala tidak menggunakannya dengan berbagai alasan. Namun, setidaknya mereka mendengar Bahasa Minangkabau digunakan atau diturukan oleh banyak orang.
Adakalanya tuturan yang didengar oleh orang-orang non Minang terjadi pemaknaan yang kurang tepat untuk satu kata. Sebagai contoh ketika ada tuturan yang menggunakan kata awak dalam Bahasa Minangkabau. Kata ini akan memiliki makna lebih dari satu makna saja ketika kata ini melekat pada konteks tuturan itu terjadi. Misalnya pada tuturan ‘Awak ko sia bana l ah”. Kata awak pada tuturan itu memiliki makna saya sebagai pronomina atau kata ganti untuk orang pertama tunggal, sehingga ketika dimaknai ke dalam Bahasa Indonesia kata ‘awak’ bermana ‘saya’ maka dalam Bahasa Indonesia dapat kita tulis ‘Saya ini siapalah’.
Jika tuturan itu akan memiliki makna berbeda jika konteks dan situasi tuturan nya berbeda. Tuturan di atas dituturkan oleh satu orang penutur kepada mtra tutur. Namun, jika tuturan itu dilakukan atau diucapkan oleh dua orang maka kata ‘awak’ akan berubah maknanya menjadi “kami”. Artinya, kata “awak” ketika dituturkan oleh satu orang makna nya menjadi “saya” dan ketika kata tersebut dituturkan oleh dua orang maka maknanya akan menjadi “kita”.
Lain halnya ketika kata awak ditujukan sebagai bagian dari ajakan. Misalnya pada contoh tuturan “pai ka pasa wak lah!”, kata awak pada tuturan ini akan bermakna “kita”. Sehingga jika alih Bahasa kan, ke dalam Bahasa Indonesia maka jadinya “ pergi ke pasar kita yuk!”. Oleh sebab itu, dengan banyaknya makna yang dapat dihadirkan oleh satu kata “awak’ ini maka perlu kiranya setiap orang yang akan belajar Bahasa Minangkabau diberi pengetahuan awal tentang beberapa kata yang memiliki makna lebih dari satu, seperti kata ‘awak’ ini misalnya. Walapun, masih banyak lagi kata-kata dalam Bahasa Minangkabau yang sesungguhnya memiliki keunikan seperti kata ‘awak’ tersebut.
Pemahaman akan konteks dari tuturan yang mengandung kata itu pun perlu dicermati bagi para pemelajar Bahasa Minangkabau. Berbeda konteks tuturan bisa jadi akan memberikan makna yang berbeda pula atas kata yang sama. Artinya ketika kata itu “awak”dituturkan oleh satu orang bisa bermakna ‘saya’, tapi ketika dituturkan oleh 2 orang atau lebih, maka dia akan memiliki makna “kita’ dan ‘kami’.
Sungguh masih sangat banyak aspek yang perlu dipelajari dan diketahui oleh para pemelajar maupun penitur Bahasa Minangkabau tentang beberapa hal ikhwal kata yang ada dalam kosa Bahasa Minangkabau. Hal ini menjadi penting karena jika ada pertanyaan yang berkaitan dengan makna ganda yang timbul dari kata tersebut, kita sebagai pembelajar dan penutur Bahasa Minangkabau dapat memberikan semacam penjelasan terhadap fenomena makna ganda tersebut dengan lebih baik.
*Dosen Sastra Minangkabau FIB Unand
Tag :#Opini #Didaktika #Minangsatu
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
KARTINI DI RANTAU: KETIKA SEMANGAT EMANSIPASI BERTEMU FALSAFAH BUNDO KANDUANG
-
“TEMBAK PATUIH”: MITOS EDUKATIF DALAM UNGKAPAN LARANGAN ULAKAN TAPAKIS
-
IBU, TANAH, DAN INGATAN: MATRILINEAL SEBAGAI ETIKA MERAWAT ALAM
-
MATRILINEAL DAN PERLINDUNGAN ALAM: KETIKA GARIS IBU MENJADI GARIS PENJAGA BUMI
-
BANJIR DALAM MANUSKRIP SEBAGAI CATATAN PENGALAMAN KOLEKTIF MASYARAKAT
-
DARI PASAR KE TANAH SUCI: KISAH PAK DAS, BURUH ANGKUT BATUSANGKAR YANG MENJEMPUT KEMULIAAN DI KURSI BISNIS GARUDA
-
KOPI MINANG, PERMATA GASTRONOMI YANG LAYAK JADI WAJAH WONDERFUL INDONESIA
-
PERTUMBUHAN EKONOMI SUMBAR MENGUAT DI AWAL 2026
-
HARAPAN DAN REALITAS PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI INDONESIA: ANTARA NARASI KEMAJUAN DAN KRISIS STRUKTURAL
-
KARTINI DI RANTAU: KETIKA SEMANGAT EMANSIPASI BERTEMU FALSAFAH BUNDO KANDUANG