- Jumat, 20 Februari 2026
Sejarah Jembatan Siti Nurbaya Dan Pemandangan Malamnya Yang Ikonik Di Kota Padang
Sejarah Jembatan Siti Nurbaya dan Pemandangan Malamnya yang Ikonik di Kota Padang
Oleh: Sayyid Sufi Mubarok
Menjelang senja, kawasan Batang Arau di Kota Padang mulai ramai. Lampu-lampu menyala di sepanjang bentangan baja yang menghubungkan Seberang Palinggam dan pusat kota. Di sinilah orang datang menikmati suasana sekaligus mengenang Sejarah Jembatan Siti Nurbaya dan pemandangan malamnya yang telah menjadi bagian dari wajah Kota Padang.
Jembatan ini membentang di atas Sungai Batang Arau dan menghubungkan kawasan lama pelabuhan dengan area permukiman dan perbukitan Gunung Padang. Namanya diambil dari tokoh fiksi Siti Nurbaya dalam roman karya Marah Rusli yang terbit pada 1922, sebuah karya sastra penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia.
Secara fisik, Jembatan Siti Nurbaya dibangun sebagai infrastruktur penghubung antarwilayah di Kota Padang. Kehadirannya mempermudah mobilitas warga sekaligus membuka akses menuju kawasan Gunung Padang dan Pelabuhan Muaro.
Penamaan jembatan ini merujuk pada tokoh Siti Nurbaya dalam roman “Sitti Nurbaja” karya Marah Rusli. Novel tersebut mengisahkan kehidupan masyarakat Minangkabau pada masa kolonial, terutama soal adat, perjodohan, dan konflik sosial. Meski tokohnya fiktif, nama Siti Nurbaya kemudian melekat kuat dalam imajinasi publik dan diabadikan sebagai nama jembatan yang melintasi Batang Arau.
Kawasan di sekitar jembatan juga sering dikaitkan dengan latar cerita dalam roman tersebut, terutama area Gunung Padang yang diyakini sebagai lokasi makam Siti Nurbaya versi cerita rakyat yang berkembang di masyarakat.
Sejarah Jembatan Siti Nurbaya dan pemandangan malamnya tidak bisa dipisahkan dari suasana Batang Arau. Pada malam hari, lampu-lampu yang terpasang di sepanjang jembatan memantulkan cahaya ke permukaan sungai. Kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan menambah siluet khas kawasan ini.
Warga lokal dan wisatawan kerap memadati jembatan untuk sekadar bersantai, menikmati kuliner kaki lima, atau melihat panorama kota dari ketinggian. Dari atas jembatan, terlihat perbukitan Gunung Padang di satu sisi dan deretan bangunan tua kawasan pelabuhan di sisi lain.
Kehadiran pedagang dan aktivitas warga menjadikan kawasan ini hidup hingga larut malam. Meski awalnya dibangun sebagai infrastruktur transportasi, jembatan ini berkembang menjadi ruang publik yang akrab dengan aktivitas sosial masyarakat.
Sebagai bagian dari Kota Padang, Jembatan Siti Nurbaya kini dikenal bukan hanya karena fungsi transportasinya, tetapi juga sebagai destinasi wisata kota. Pengunjung yang datang tidak hanya ingin menyeberang, melainkan merasakan suasana yang menyatu antara sejarah, sastra, dan lanskap pesisir.
Roman “Sitti Nurbaja” karya Marah Rusli memberi dimensi historis dan kultural pada jembatan ini. Sementara itu, pemandangan malam hari menghadirkan daya tarik visual yang membuatnya kerap menjadi latar foto maupun tempat berkumpul warga.
Sejarah Jembatan Siti Nurbaya dan pemandangan malamnya memperlihatkan bagaimana sebuah infrastruktur bisa tumbuh menjadi simbol kota. Di atas bentangan baja itu, cerita lama dan kehidupan modern berjalan berdampingan, membentuk identitas khas Kota Padang yang terus dikenang.
Editor : melatisan
Tag : Sejarah Jembatan Siti Nurbaya dan Pemandangan Malamnya yang Ikonik di Kota Padang
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
MITOS PALASIK DI MINANGKABAU DAN CARA MENGHINDARINYA DALAM KEPERCAYAAN TRADISIONAL
-
CARA BELAJAR BAHASA MINANG DASAR UNTUK PEMULA, PANDUAN MEMAHAMI SAPAAN HINGGA PERCAKAPAN SEHARI-HARI
-
RESEP GULAI PAKU (PAKIS) KHAS PARIAMAN UNTUK SARAPAN, KUAH GURIH BUMBU MINANG
-
MAKNA PULANG BASAMO BAGI PERANTAU MINANG SAAT LEBARAN, LEBIH DARI SEKADAR MUDIK
-
TRADISI TABUIK PARIAMAN: SEJARAH DAN PROSESI UPACARANYA YANG MASIH BERTAHAN HINGGA KINI