HOME VIRAL UNIK

  • Jumat, 20 Februari 2026

Tradisi Tabuik Pariaman: Sejarah Dan Prosesi Upacaranya Yang Masih Bertahan Hingga Kini

Tradisi Tabuik Pariaman
Tradisi Tabuik Pariaman

Tradisi Tabuik Pariaman: Sejarah dan Prosesi Upacaranya yang Masih Bertahan hingga Kini

Oleh: Ari Yuliasril


Setiap bulan Muharram, kawasan pantai Kota Pariaman dipadati warga dan perantau yang pulang kampung. Arak-arakan menara tinggi berhias kertas warna-warni diiringi gandang tasa menjadi penanda dimulainya rangkaian Tradisi Tabuik Pariaman. Sejarah dan Prosesi Upacaranya yang telah berlangsung turun-temurun. Perayaan ini bukan sekadar tontonan wisata, tetapi bagian dari sejarah panjang yang hidup di tengah masyarakat pesisir Minangkabau.

Tabuik di Pariaman berakar dari peringatan Asyura, mengenang wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali, dalam peristiwa Karbala pada 10 Muharram 61 Hijriah. Tradisi ini diyakini masuk ke Pariaman pada abad ke-19 melalui pengaruh komunitas Muslim keturunan India yang datang bersama tentara atau pekerja pada masa kolonial Inggris dan Belanda. Dari situ, peringatan Asyura berkembang menjadi tradisi lokal yang dikenal sebagai Tabuik.

Jejak Sejarah di Pesisir Pariaman

Dalam catatan sejarah lokal, pelaksanaan Tabuik di Pariaman sudah dikenal sejak awal 1800-an. Awalnya, ritual ini digelar oleh komunitas tertentu yang memiliki garis tradisi Syiah, tetapi dalam perkembangannya, Tabuik menjadi perayaan masyarakat luas tanpa lagi menonjolkan aspek mazhab.

Nama “tabuik” merujuk pada bangunan menyerupai menara atau keranda yang dihias dan diarak dalam prosesi. Di Pariaman, terdapat dua kelompok utama pembuat tabuik, yakni Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang, yang masing-masing berasal dari dua wilayah berbeda di kota tersebut. Kedua tabuik ini akan diarak dan akhirnya dibuang ke laut sebagai puncak rangkaian acara.

Rangkaian Prosesi yang Bertahap

Tradisi Tabuik Pariaman tidak berlangsung dalam satu hari. Prosesi dimulai sejak 1 Muharram dengan beberapa tahapan yang telah menjadi pakem turun-temurun. Salah satunya adalah pengambilan tanah yang disebut “maambiak tanah”, sebagai simbol awal peringatan.

Tahap berikutnya mencakup pembuatan dan perakitan tabuik yang dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat. Selama proses itu, gandang tasa terus dimainkan untuk mengiringi setiap kegiatan. Musik ini menjadi ciri khas yang tidak terpisahkan dari suasana Tabuik.

Menjelang 10 Muharram, tabuik yang telah selesai dirakit diarak keliling kota. Ribuan warga memadati jalan untuk menyaksikan arak-arakan tersebut. Puncaknya adalah prosesi “tabuik dibuang ka lauik”, yaitu pelarungan tabuik ke laut di Pantai Gandoriah. Prosesi ini menandai berakhirnya seluruh rangkaian upacara.

Dari Ritual ke Agenda Budaya

Seiring waktu, Tradisi Tabuik Pariaman mengalami penyesuaian. Pemerintah daerah kemudian menjadikannya sebagai agenda budaya tahunan yang juga menarik kunjungan wisatawan. Meski demikian, unsur tradisi dan struktur prosesi tetap dipertahankan sesuai kebiasaan yang diwariskan para pendahulu.

Bagi masyarakat Pariaman, Tabuik bukan sekadar festival. Ia menjadi ruang pertemuan warga, simbol kebersamaan, sekaligus pengingat sejarah yang membentuk identitas pesisir kota tersebut. Tradisi ini terus dijaga agar tetap berjalan sesuai jalurnya, meski zaman berubah.


Wartawan : Ari Yuliasril
Editor : melatisan

Tag :Tradisi, Tabuik Pariaman, Sejarah, Prosesi, Upacara, Bertahan, hingga Kini

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com