- Jumat, 20 Februari 2026
Makna Pulang Basamo Bagi Perantau Minang Saat Lebaran, Lebih Dari Sekadar Mudik
Makna Pulang Basamo bagi Perantau Minang saat Lebaran, Lebih dari Sekadar Mudik
Oleh: Dzaky Herry Marino
Terminal, bandara, hingga jalur darat menuju Sumatera Barat selalu padat menjelang Idul Fitri. Rombongan perantau Minang datang berkelompok, sebagian mengenakan pakaian seragam atau membawa spanduk kecil bertuliskan asal paguyuban mereka. Di momen inilah makna "Pulang Basamo" bagi perantau Minang saat Lebaran terasa nyata, bukan hanya perjalanan pulang kampung, tetapi tradisi kolektif yang sudah mengakar.
Pulang Basamo dikenal sebagai kebiasaan perantau Minangkabau kembali ke kampung halaman secara bersama-sama menjelang Lebaran. Tradisi ini tumbuh dari budaya merantau yang kuat dalam masyarakat Minang, di mana banyak warganya menetap dan bekerja di luar daerah, bahkan di luar pulau.
Tradisi Merantau dan Ikatan Kampung Halaman
Dalam struktur sosial Minangkabau, merantau bukan hal baru. Sejak lama, laki-laki Minang didorong untuk pergi mencari pengalaman dan penghidupan di luar kampung. Namun, sekuat apa pun tradisi merantau, hubungan dengan kampung halaman tetap dijaga.
Pulang Basamo menjadi salah satu bentuk nyata dari ikatan tersebut. Para perantau yang tergabung dalam organisasi kedaerahan atau ikatan keluarga di rantau biasanya menyewa bus atau moda transportasi lain untuk pulang bersama. Selain lebih terkoordinasi, perjalanan kolektif ini mempererat hubungan antarsesama perantau.
Lebaran dipilih karena menjadi momen penting dalam kalender keagamaan dan sosial. Idul Fitri bukan hanya hari raya, tetapi juga waktu berkumpulnya keluarga besar di rumah gadang atau rumah orang tua.
Lebih dari Sekadar Mudik
Makna "Pulang Basamo" bagi perantau Minang saat Lebaran tidak berhenti pada perjalanan fisik dari kota ke kampung. Di dalamnya ada unsur kebersamaan, solidaritas, dan identitas kolektif sebagai urang awak. Rombongan yang berangkat bersama biasanya sudah merencanakan jauh hari, termasuk pengumpulan dana, pendataan peserta, hingga pembagian jadwal keberangkatan.
Sesampainya di kampung, kehadiran perantau sering disambut hangat. Selain bersilaturahmi dengan keluarga, mereka juga terlibat dalam kegiatan sosial seperti gotong royong, ziarah kubur, atau menghadiri acara adat yang kebetulan berlangsung saat Lebaran.
Tradisi ini juga memberi ruang bagi generasi muda yang lahir dan besar di perantauan untuk mengenal kampung asal orang tuanya. Lewat Pulang Basamo, mereka melihat langsung rumah gadang, sawah, surau, dan lingkungan sosial yang selama ini hanya diceritakan.
Menjaga Jaringan Sosial dan Identitas
Pulang Basamo secara tidak langsung memperkuat jaringan sosial antara rantau dan kampung. Hubungan ini penting dalam budaya Minangkabau yang menempatkan keluarga dan kaum sebagai struktur utama masyarakat. Komunikasi antara perantau dan kampung halaman tidak terputus, melainkan terus dipelihara melalui momen-momen seperti Lebaran.
Di tengah perubahan pola transportasi dan mobilitas yang semakin mudah, tradisi Pulang Basamo tetap bertahan. Sebagian perantau mungkin kini memilih pulang secara mandiri, tetapi semangat kebersamaan dan identitas kolektif tetap menjadi ruh dari tradisi ini.
Editor : melatisan
Tag :Makna, Pulang Basamo, Perantau Minang, Lebaran, Lebih, Sekadar, Mudik
Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
MITOS PALASIK DI MINANGKABAU DAN CARA MENGHINDARINYA DALAM KEPERCAYAAN TRADISIONAL
-
CARA BELAJAR BAHASA MINANG DASAR UNTUK PEMULA, PANDUAN MEMAHAMI SAPAAN HINGGA PERCAKAPAN SEHARI-HARI
-
SEJARAH JEMBATAN SITI NURBAYA DAN PEMANDANGAN MALAMNYA YANG IKONIK DI KOTA PADANG
-
RESEP GULAI PAKU (PAKIS) KHAS PARIAMAN UNTUK SARAPAN, KUAH GURIH BUMBU MINANG
-
TRADISI TABUIK PARIAMAN: SEJARAH DAN PROSESI UPACARANYA YANG MASIH BERTAHAN HINGGA KINI