HOME VIRAL UNIK

  • Jumat, 20 Februari 2026

Mitos Palasik Di Minangkabau Dan Cara Menghindarinya Dalam Kepercayaan Tradisional

Penulis: Muhammad Fawzan
Penulis: Muhammad Fawzan

 

Mitos Palasik di Minangkabau dan Cara Menghindarinya dalam Kepercayaan Tradisional

Oleh: Muhammad Fawzan


Istilah palasik masih kerap terdengar dalam percakapan sebagian masyarakat Sumatera Barat, terutama di kampung-kampung yang kuat memegang tradisi lisan. Cerita tentang sosok ini biasanya muncul saat membahas gangguan gaib atau peristiwa yang sulit dijelaskan secara nalar. Karena itu, mitos palasik di Minangkabau dan cara menghindarinya tetap menjadi bagian dari ingatan kolektif yang diwariskan turun-temurun.

Dalam tradisi lisan Minangkabau, palasik dikenal sebagai sosok yang diyakini memiliki kemampuan ilmu hitam dan dikaitkan dengan praktik mistik tertentu. Cerita tentang palasik tidak tertulis dalam satu naskah baku, melainkan hidup dalam kaba, tuturan orang tua, dan cerita yang berkembang di tengah masyarakat.

Sosok Palasik dalam Cerita Rakyat

Di berbagai daerah di Sumatera Barat, palasik digambarkan sebagai manusia yang memiliki kemampuan supranatural dan menggunakan ilmu tersebut untuk tujuan tertentu. Dalam cerita rakyat yang beredar, palasik sering dikaitkan dengan gangguan terhadap anak kecil atau orang yang sedang lemah secara fisik.

Sebagai bagian dari folklore, kisah tentang palasik biasanya disampaikan sebagai peringatan agar masyarakat waspada dan menjaga diri. Cerita ini juga kerap muncul dalam konteks pendidikan tradisional di keluarga, terutama untuk mengingatkan anak-anak agar tidak keluar rumah sendirian saat malam atau menjauh dari tempat sepi.

Karena bersumber dari tradisi lisan, detail cerita tentang palasik bisa berbeda antarwilayah. Namun benang merahnya sama, yakni sosok yang diasosiasikan dengan praktik ilmu hitam dan kemampuan di luar kebiasaan manusia biasa.

Fungsi Sosial dalam Masyarakat

Mitos palasik di Minangkabau dan cara menghindarinya tidak bisa dilepaskan dari fungsi sosialnya. Dalam banyak masyarakat tradisional, cerita tentang makhluk atau sosok gaib sering berfungsi sebagai alat kontrol sosial dan penguat norma.

Kisah palasik, misalnya, kerap digunakan untuk menanamkan nilai kehati-hatian, menjaga anak-anak, serta memperkuat keyakinan terhadap pentingnya doa dan perlindungan diri. Dalam konteks ini, palasik bukan sekadar cerita menakutkan, tetapi juga bagian dari sistem kepercayaan yang membentuk perilaku sosial.

Seiring perkembangan zaman dan meningkatnya pendidikan formal, sebagian masyarakat mulai memandang cerita palasik sebagai mitos atau legenda. Namun di beberapa daerah, keyakinan terhadap keberadaannya masih bertahan sebagai bagian dari tradisi.

Cara Menghindarinya dalam Kepercayaan Tradisional

Dalam tuturan yang berkembang di masyarakat, cara menghindari palasik biasanya dikaitkan dengan pendekatan religius dan adat. Orang tua kerap mengingatkan anak-anak untuk membaca doa sebelum keluar rumah, menjaga kebersihan diri, serta tidak bepergian sendirian pada waktu-waktu tertentu.

Sebagian masyarakat juga mempercayai bahwa memperkuat ibadah dan menjaga perilaku baik menjadi bentuk perlindungan diri dari gangguan gaib, termasuk yang dikaitkan dengan palasik. Selain itu, pengawasan keluarga terhadap anak-anak menjadi langkah yang sering ditekankan dalam cerita-cerita tersebut.

Perlu dicatat, semua ini hidup dalam ranah kepercayaan tradisional dan tidak memiliki dasar pembuktian ilmiah. Namun sebagai bagian dari budaya lisan Minangkabau, mitos palasik tetap menarik untuk dicatat karena mencerminkan cara masyarakat masa lalu memahami rasa takut, perlindungan, dan nilai sosial.


Wartawan :
Editor : melatisan

Tag : Mitos, Palasik, Minangkabau, Cara Menghindari, Kepercayaan, Tradisional

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com