HOME VIRAL UNIK

  • Selasa, 10 Maret 2026

Tradisi Tabuik Di Sumatera Barat: Pesta Budaya Masyarakat Pariaman Yang Tetap Hidup

Tradisi Tabuik
Tradisi Tabuik

Tradisi Tabuik di Sumatera Barat: Pesta Budaya Masyarakat Pariaman yang Tetap Hidup

Oleh: Avina Amanda


Setiap memasuki bulan Muharram, suasana di Kota Pariaman, Sumatera Barat, berubah menjadi sangat ramai. Ribuan warga berkumpul di jalan-jalan utama hingga kawasan pantai untuk menyaksikan arak-arakan tabuik yang diusung secara bersama-sama. Tradisi ini sudah lama dikenal sebagai salah satu perayaan budaya paling khas di daerah tersebut.

Tradisi Tabuik di Sumatera Barat merupakan upacara tahunan masyarakat Pariaman yang digelar pada tanggal 1 hingga 10 Muharram dalam kalender Islam. Kegiatan ini berkaitan dengan peringatan wafatnya cucu Nabi Muhammad, Husain bin Ali, dalam peristiwa Karbala yang diperingati pada hari Asyura.

Tradisi Tabuik yang Sudah Berlangsung Sejak Abad ke-19

Tabuik telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Pariaman sejak abad ke-19. Tradisi ini diperkirakan mulai berkembang di daerah tersebut setelah dibawa oleh kelompok masyarakat yang datang dari India Selatan pada masa kolonial.

Istilah tabuik sendiri berasal dari kata Arab tabut, yang berarti peti atau keranda. Dalam tradisi Pariaman, istilah ini merujuk pada bangunan tinggi yang dibuat dari bambu, kayu, dan rotan, kemudian dihias dengan berbagai ornamen berwarna-warni.

Bangunan tabuik biasanya memiliki bentuk menyerupai menara besar. Pada bagian bawahnya terdapat bentuk kuda bersayap dengan kepala manusia yang menggambarkan makhluk Buraq, sementara bagian atasnya menyerupai keranda yang dihias dengan kain dan bunga.

Rangkaian Prosesi dalam Upacara Tabuik

Perayaan tabuik tidak berlangsung dalam satu hari saja. Tradisi ini terdiri dari beberapa tahapan yang dilakukan secara bertahap sejak awal bulan Muharram.

Beberapa prosesi yang dikenal dalam tradisi ini antara lain pengambilan tanah dari sungai, penebangan batang pisang, kegiatan maatam, hingga arak-arakan tabuik yang dilakukan oleh masyarakat. Rangkaian kegiatan tersebut berlangsung selama beberapa hari dan melibatkan banyak warga.

Menjelang puncak acara, tabuik yang telah dibuat akan diarak keliling kota. Para pengusung biasanya menggoyangkan bangunan tersebut sambil bersorak dalam irama gandang tasa. Suasana menjadi semakin ramai ketika tabuik dibawa menuju lokasi akhir prosesi.

Puncak Perayaan di Pantai Pariaman

Bagian paling dinanti dari tradisi tabuik terjadi pada hari terakhir perayaan. Pada saat itu, tabuik yang telah diarak kemudian dibawa ke pantai dan dilarung ke laut sebagai penutup seluruh rangkaian upacara.

Prosesi ini biasanya disaksikan oleh ribuan orang, baik masyarakat setempat maupun pengunjung dari berbagai daerah. Tidak hanya menjadi tradisi adat, tabuik juga berkembang menjadi salah satu agenda budaya yang menarik perhatian wisatawan setiap tahunnya.

Bagi masyarakat Pariaman, tabuik bukan sekadar perayaan tahunan. Tradisi ini sudah menjadi bagian dari kehidupan budaya nagari yang terus dijaga, sekaligus menjadi penanda bahwa warisan tradisi Minangkabau masih tetap hidup di tengah perubahan zaman.


Wartawan : Avina Amanda
Editor : melatisan

Tag :Tradisi Tabuik, Sumatera Barat, Pesta Budaya, Masyarakat, Pariaman, Tetap Hidup

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com