- Minggu, 7 Juni 2026
“Kato Nan Ampek” Di Era Digital: Masihkah Relevan Untuk Kita?
“Kato Nan Ampek” Di Era Digital: Masihkah Relevan Untuk Kita?
(Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)
Pernahkah Anda memperhatikan kolom komentar di media sosial ketika ada berita yang menimbulkan perbedaan pendapat, perdebatan, atau pertentangan? Atau mungkin, Anda pernah terjebak dalam perdebatan panas di grup WhatsApp keluarga, sekolah, kuliah? Jika pernah, mungkin Anda merasakan hal yang sama dengan saya, ada sesuatu yang hilang dari cara kita berkomunikasi.
Sebagai orang Minang, kita dibesarkan dengan filosofi yang sangat indah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”. Di dalamnya, diajarkan sebuah sistem navigasi sosial yang luar biasa yaitu Kato nan Ampek tata krama dalam berbicara kepada sesama, yang lebih tua, yang lebih muda, hingga kepada tokoh yang dihormati. Namun, mari jujur pada diri sendiri apakah nilai-nilai itu masih bertahan saat jempol kita menyentuh layar ponsel?
Dunia digital adalah dunia yang haus akan kecepatan. Siapa yang paling cepat berkomentar, biasanya dialah yang paling banyak mendapatkan likes atau perhatian. Media sosial memaksa kita untuk memberikan reaksi instan. Masalahnya, etika Minangkabau justru mengajarkan sebaliknya. Dalam tradisi kita, ada prinsip raso jo pareso yaitu sebuah kepekaan rasa sebelum mengeluarkan kata-kata. Sebelum kita berbicara, kita diajak untuk mempertimbangkan perasaan orang lain. Apakah perkataan ini akan mempermalukan orang tersebut? Apakah perlu diungkapkan di depan umum?
Di media sosial, konsep raso jo pareso ini sering kali dianggap "tidak laku". Kita cenderung lebih memilih menjadi hakim yang impulsif. Ketika ada seseorang yang melakukan kesalahan di internet, kita merasa punya mandat untuk menyerangnya habis-habisan. Kita lupa bahwa dalam budaya kita, cara menyampaikan kebenaran sama pentingnya dengan kebenaran itu sendiri. Bukankah ada pepatah, “Tau di nan ampek, tau di nan banyak”?
Mari kita contohkan. Seorang anak muda Minang bisa saja sangat santun di dunia nyata. Saat bertemu Mamak di rumah, dia menunduk, berjalan pelan, dan bicara dengan bahasa yang tertata. Namun, sepuluh menit kemudian, saat membuka Twitter atau TikTok, dia bisa menjadi sosok yang sangat agresif, bahkan menggunakan kata-kata yang kasar kepada orang lain.
Mengapa ini terjadi? Apakah karena layar ponsel memberikan ilusi anonimitas? Seolah-olah, karena kita tidak bertatap muka, tanggung jawab moral kita terhadap tutur kata menjadi luntur. Padahal, nilai Patuah bukan sekadar kepatuhan pada aturan formal. Patuah adalah bentuk kesadaran diri. Orang yang patuah adalah orang yang memiliki kendali diri (self-control) yang tinggi. Di era serba viral ini, memiliki kendali diri adalah bentuk perlawanan yang paling elegan. Kita tidak harus menjadi pengikut arus yang ikut memaki hanya karena netizen lain melakukan hal yang sama.
Menggugat (Bukan Memusuhi) Budaya Digital
Kata "menggugat" di sini bukan berarti saya ingin kita meninggalkan teknologi. Itu mustahil. Kita hidup di abad ke-21. Namun, yang saya tawarkan adalah sebuah perenungan. Bisakah kita menjadi Urang Minang yang tetap relevan, kritis, dan berani bersuara, tanpa harus kehilangan marwah kesantunan?
Saya percaya, kita bisa menggunakan media sosial sebagai sarana untuk mambangkik batang tarandam, mengangkat kembali nilai-nilai luhur kita ke level yang lebih modern. Bayangkan jika setiap perdebatan digital yang melibatkan orang Minang dilakukan dengan gaya Kato nan Ampek. Kita bisa mengkritik kebijakan yang salah dengan Kato Mandaki (bahasa yang menghormati), atau memberikan masukan kepada yang lebih muda dengan Kato Manurun (bahasa yang mengayomi).
Bukankah itu jauh lebih berkelas daripada sekadar ikut-ikutan berkomentar kasar?
Tantangan terbesar kita hari ini adalah menaklukkan ego di ujung jari. Menahan diri untuk tidak menulis komentar pedas saat emosi sedang meluap adalah sebuah bentuk perjuangan. Itu adalah jihad kecil bagi kita di era digital.
Kita mungkin tidak bisa mengubah seluruh netizen di Indonesia untuk menjadi lebih santun. Namun, kita bisa mulai dari diri sendiri. Kita bisa mulai dengan menerapkan raso jo pareso sebelum menekan tombol "kirim". Apakah komentar saya ini membangun, atau justru hanya menambah kebisingan yang merusak?
Sebagai tambahan, mari kita lihat lebih dalam bagaimana konsep Kato nan Ampek ini bisa diterapkan secara teknis dalam kehidupan digital sehari-hari. Ketika kita merasa perlu untuk mengkritik sebuah opini di media sosial, tantangannya bukan pada "apa" yang kita kritik, melainkan "bagaimana" cara kita mengutarakannya. Seringkali, kita terjebak dalam pola menyerang pribadi, yang sebenarnya sangat jauh dari adab Minang. Padahal, jika kita menggunakan Kato Manurun (berbicara dengan bahasa yang mengayomi), kita bisa memberikan kritik yang tajam namun tetap edukatif. Kita bisa bertanya, bukan menghakimi.
Contoh kecilnya, alih-alih mengetik, "Pendapatmu bodoh dan tidak berdasar!", bukankah lebih baik jika kita menulis, "Menarik sudut pandang Anda, namun mungkin ada perspektif lain yang bisa kita pertimbangkan terkait hal ini?". Perubahan kecil dalam pemilihan diksi ini adalah bentuk nyata dari pengamalan etika.
Selain itu, penting juga bagi kita untuk mengingat kembali fungsi Mamak dalam struktur sosial Minangkabau. Dalam era digital, peran Mamak tidak lagi terbatas pada ruang fisik rumah gadang. Tokoh-tokoh masyarakat, orang yang dituakan, atau bahkan teman sebaya yang memiliki pemahaman agama dan adat yang luas, bisa menjadi "Mamak digital" bagi kita. Mereka adalah pengingat ketika kita mulai melampaui batas dalam berargumen. Saling mengingatkan di grup WhatsApp atau kolom komentar secara personal bukan dengan mempermalukan di ruang public. Itu adalah cara modern untuk menjaga marwah kaum. Kita harus berani menegur saudara kita yang mulai melenceng, namun tetap melakukannya dengan raso jo pareso yang tinggi, sesuai dengan prinsip duduak samo randah, tagak samo tinggi.
Terakhir, marilah kita jadikan media sosial sebagai cermin dari kualitas diri kita. Jika kita mengaku sebagai orang Minang yang memegang teguh Adat Basandi Syarak, maka perilaku digital kita seharusnya menjadi duta dari nilai-nilai tersebut. Ketika dunia melihat netizen Minang yang kritis namun santun, berani namun tetap menjaga etika, maka secara tidak langsung kita sedang mempromosikan citra positif Minangkabau ke mata dunia. Jadi, setiap kali jempol kita menari di atas layar, ingatlah bahwa kita tidak hanya menulis untuk diri sendiri, tetapi sedang menuliskan reputasi budaya kita di ruang publik yang tidak pernah tidur. Jangan biarkan layar ponsel menjadi tempat di mana kita membuang adab yang telah susah payah diwariskan oleh para leluhur kita. Mari kita gunakan jempol kita untuk menebar kebajikan, bukan untuk menciptakan keributan yang sia-sia.
Budaya Minangkabau bukan budaya yang kaku. Ia adalah sistem yang dinamis, yang mampu menyesuaikan diri dengan zaman, selama inti dari Adat Basandi Syarak tetap dijaga. Menjaga lisan di era sekarang adalah cara kita membuktikan bahwa nilai-nilai leluhur kita tidak hanya tertulis di buku-buku sejarah, tetapi masih hidup dan mengalir di dalam darah kita.
Pada akhirnya, mungkin inilah saatnya kita membuktikan bahwa menjadi orang Minang yang cerdas tidak harus berarti menjadi netizen yang haus akan drama. Kita bisa menjadi versi terbaik dari diri kita berani, kritis, namun tetap patuah pada adab yang kita banggakan.
Jadi, besok, sebelum Anda menulis komentar di kolom media sosial, cobalah berhenti sejenak. Tarik napas, dan tanyakan pada diri sendiri "Apakah cara saya bicara ini sudah sesuai dengan raso jo pareso?" Jika jawabannya belum, mungkin sudah saatnya kita belajar untuk lebih bijak lagi. Karena pada akhirnya, apa yang kita ketik adalah cerminan dari apa yang ada di dalam hati dan didikan orang tua kita di rumah.
Editor : melatisan
Tag :“Kato Nan Ampek” Di Era Digital: Masihkah Relevan Untuk Kita?
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
MENGUPAS NYALI PENARI DI ATAS BELING DAN MENJAWAB APA ITU TARI PIRING
-
MENGUPAS SENI TEATER SILAT DAN MENJAWAB APA ITU RANDAI DI MINANGKABAU
-
QURBAN IDUL ADHA 2026: WUJUD KEPEDULIAN DAN GOTONG ROYONG MASYARAKAT KOTO TUO MUNGKA
-
MINANGKABAU DI ERA GENERASI Z
-
MENELUSURI AKAR SEJARAH UNTUK MEMAHAMI APA ITU SISTEM MATRILINEAL DI MINANGKABAU
-
MEMELIHARA HARAPAN, CATATAN HENDRY CH BANGUN
-
DARI SUNGAI BATANGHARI KE RANTAI LOGISTIK NASIONAL, PTP NONPETIKEMAS JAMBI MENJAGA ARUS DISTRIBUSI DAN MENGGERAKKAN EKONOMI
-
MERATAPI SEMEN PADANG FC, MERAYAKAN ANAK-ANAK MINANG DI PANGGUNG NASIONAL
-
DARI PASAR KE TANAH SUCI: KISAH PAK DAS, BURUH ANGKUT BATUSANGKAR YANG MENJEMPUT KEMULIAAN DI KURSI BISNIS GARUDA
-
KOPI MINANG, PERMATA GASTRONOMI YANG LAYAK JADI WAJAH WONDERFUL INDONESIA