HOME VIRAL UNIK

  • Minggu, 7 Juni 2026

Mengupas Nyali Penari Di Atas Beling Dan Menjawab Apa Itu Tari Piring

Mengupas Nyali Penari di Atas Beling dan Menjawab Apa Itu Tari Piring

Oleh: Andika Putra Wardana

Banyak tradisi budaya unik yang hidup di tengah masyarakat Sumatera Barat. Salah satunya adalah seni pertunjukan ekstrem yang kerap memancing pertanyaan tentang apa itu tari piring bagi penonton awam dari luar pulau. 

Tradisi unjuk ketangkasan ini biasanya diselenggarakan apabila warga desa sedang merayakan selesainya musim panen raya padi atau untuk menyambut kedatangan tamu kehormatan di tingkat nagari. Tarian ini sama sekali bukan sekadar ajang pamer kelihaian memutar barang pecah belah porselen, melainkan sebuah pertunjukan tua yang dirawat untuk merawat ingatan tentang kerasnya kerja para petani dan keberanian menahan rasa sakit di atas tumpukan pecahan beling.

Jejak Panen di Solok dan Sentuhan Huriah Adam

Melacak dari mana kebiasaan mengayunkan piring ini bermula, kita bisa merujuk langsung pada keseharian masyarakat agraris di wilayah Kabupaten Solok. Pada masa lampau, jauh sebelum ajaran Islam masuk dan mengakar kuat di dataran tinggi Sumatera pada kisaran abad ke-16, tarian ini murni bertindak sebagai ritual ucapan syukur. 

Para petani yang baru saja selesai memanen padi akan menumpuk sesajen makanan enak di atas piring, lalu menari membawanya ke hadapan dewa sebagai tanda terima kasih atas tanah yang subur. Wajah pertunjukan persembahan ini perlahan bergeser menjadi murni tontonan hiburan rakyat seiring menguatnya hukum syariat agama di tengah nagari.

Bentuk tarian melompat yang lincah seperti yang kita tonton hari ini rupanya punya rekam jejak panjang di tangan seniman modern. Mengintip catatan sejarah kesenian dekade 1960-an, ragam gerakan tari piring banyak dipoles ulang oleh koreografer legendaris Minangkabau asal Padang Panjang, Huriah Adam. 

Tangan dingin seniman perempuan inilah yang sukses meracik ulang kerasnya jurus pencak silat menjadi tontonan panggung teater yang lebih tertata rapi, mendunia, tanpa harus membuang ruh pedalaman aslinya.

Denting Cincin Besi dan Ayunan Jurus Silek

Daya tarik paling kuat dari pertunjukan ini terang saja berpusat pada dua piring porselen putih yang digenggam erat di kedua telapak tangan para penarinya. Pertanyaan lanjutan soal apa itu tari piring akan langsung terjawab tuntas saat kita mendengar bunyi dentingan nyaring sepanjang pertunjukan. 

Suara bising yang ritmenya selaras dengan tabuhan gendang tambua dan pukulan logam talempong ini aslinya memancar dari gesekan cincin besi khusus atau buah kemiri yang diselipkan di jari tengah penari. Mereka mengetuk bagian bawah piring seirama dengan tempo musik yang makin lama makin mendidih.

Ayunan tangan dan putaran badan yang cepat ini sama sekali tidak boleh meleset apalagi membuat piring terlempar jatuh. Kuda-kuda kaki para penari ini murni menyedot gerakan dasar silek atau silat tradisional nagari. 

Mereka meniru persis ketangkasan langkah petani saat sedang mencangkul tanah berlumpur, menabur benih padi, hingga menebas batang padi di hamparan sawah ulayat. Semuanya dibungkus rapi dalam tempo yang memeras keringat.

Ujian Telapak Kaki di Atas Hamparan Kaca

Atraksi unjuk nyali yang sesungguhnya baru meledak saat tabuhan musik masuk ke babak paling penghujung. Penonton biasanya akan menahan napas ketika para penari tiba-tiba melempar piring di tangan mereka ke lantai panggung hingga hancur berkeping-keping. 

Tanpa memakai alas kaki setipis apa pun, para anak muda ini langsung melompat berani dan melanjutkan ayunan jurus silatnya di atas hamparan beling tajam tersebut. Praktik menginjak pecahan beling ini selalu sukses membuat orang luar geleng-geleng kepala karena telapak kaki penari sama sekali tidak robek apalagi mengeluarkan darah. 

Kemampuan menahan goresan benda tajam ini terang saja bukan hasil sihir atau sulap kampung. Ketahanan kulit ini adalah buah dari latihan fisik bertahun-tahun di lantai papan surau, menuntut kelihaian merapal ketenangan napas dan kejelian mengatur perpindahan berat badan saat kaki telanjang menabrak ujung kaca yang runcing.

Melihat kilauan tajam beling dan derasnya keringat para penari ini menyadarkan kita bahwa warga pedalaman Sumatera amat teliti mencetak mental petarung lewat panggung hiburan. Denting cincin besi yang memekakkan telinga, ketatnya kuda-kuda silat, sampai nyali baja menginjak pecahan kaca membuktikan bahwa seni nagari tidak pernah punya niat memanjakan pemainnya. 

Tarian piring ini terus dibiarkan hidup dan dipentaskan semata-mata untuk mengunci satu pesan jujur. Sebuah bukti fisik bahwa orang kampung selalu sanggup menyajikan penghormatan paling tinggi dan meriah untuk tamunya, meskipun sambutan tersebut menuntut mereka menahan rasa perih dan menari keras di atas hancurnya benda tajam.


Wartawan : Andika Putra Wardana
Editor : melatisan

Tag :Mengupas, Nyali Penari, di Atas Beling, Menjawab, Apa Itu Tari Piring

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com