- Selasa, 10 Maret 2026
Suntiang Pada Upacara Pernikahan Minang
Suntiang pada Upacara Pernikahan Minang
Oleh: Mutia Fadillah
Dalam setiap pesta pernikahan adat Minangkabau, perhatian tamu biasanya langsung tertuju pada kepala mempelai perempuan. Di sana terlihat hiasan besar berwarna keemasan yang tersusun bertingkat. Hiasan itu dikenal sebagai suntiang pada upacara pernikahan Minang, salah satu simbol paling khas dalam busana pengantin adat Minangkabau.
Suntiang bukan sekadar perhiasan kepala. Dalam tradisi pernikahan Minang, mahkota ini menjadi bagian penting dari pakaian anak daro atau mempelai perempuan yang menandai momen sakral ketika seseorang memasuki kehidupan rumah tangga.
Mahkota Khas Anak Daro dalam Pernikahan Adat
Dalam upacara pernikahan Minangkabau, pengantin perempuan tampil dengan busana adat lengkap. Salah satu elemen paling menonjol adalah suntiang yang dikenakan di kepala.
Suntiang dikenal sebagai hiasan kepala tradisional yang dipakai oleh perempuan Minangkabau saat menikah. Mahkota ini biasanya berbentuk setengah lingkaran dengan susunan ornamen yang bertingkat-tingkat, sehingga terlihat besar dan mencolok ketika dikenakan oleh anak daro di pelaminan.
Susunan suntiang dibuat dari berbagai ragam hias yang terinspirasi dari alam, seperti motif bunga dan bentuk-bentuk flora lainnya. Ornamen ini disusun secara simetris dan biasanya berjumlah ganjil agar terlihat seimbang di sisi kiri dan kanan kepala.
Dalam tradisi pernikahan Minang juga dikenal dua jenis suntiang. Suntiang gadang biasanya dipakai oleh pengantin perempuan, sementara suntiang yang lebih kecil digunakan oleh pendamping pengantin atau pasumandan.
Berat Suntiang dan Makna di Baliknya
Suntiang tidak hanya besar dari segi bentuk. Mahkota ini juga dikenal cukup berat ketika dipakai.
Berat suntiang yang digunakan dalam pernikahan Minangkabau umumnya berkisar antara 3,5 hingga 5 kilogram. Meski begitu, pengantin perempuan tetap mengenakannya selama prosesi adat berlangsung.
Beratnya suntiang memiliki makna simbolis dalam budaya Minangkabau. Hiasan kepala ini melambangkan tanggung jawab besar yang akan dipikul seorang perempuan setelah memasuki kehidupan rumah tangga sebagai istri dan ibu.
Karena itu, mengenakan suntiang sering dipandang sebagai kebanggaan bagi perempuan Minangkabau. Di balik berat yang dirasakan, ada pesan tentang kesiapan menjalani peran baru dalam keluarga dan masyarakat.
Ragam Bentuk dan Gaya Suntiang
Suntiang juga memiliki beragam bentuk yang berkembang di berbagai daerah di Sumatera Barat. Setiap daerah biasanya memiliki ciri khas dalam susunan dan ragam hiasnya.
Beberapa suntiang dikenal dengan nama tertentu sesuai daerah asalnya. Misalnya suntiang pisang saparak dari Solok, suntiang kipeh dari Kurai Limo Jorong, dan suntiang sariantan dari Padang Panjang. Ragam ini menunjukkan kekayaan tradisi dalam busana pengantin Minangkabau.
Selain bentuknya yang beragam, ukuran suntiang juga bisa berbeda. Ada yang dibuat lebih besar untuk pengantin utama, sementara yang lebih kecil digunakan oleh pendamping pengantin dalam rangkaian upacara pernikahan.
Dalam perkembangannya, beberapa suntiang modern dibuat dengan bahan yang lebih ringan agar lebih nyaman dipakai, meskipun bentuk dan susunan tradisionalnya tetap dipertahankan.
Simbol Tradisi yang Tetap Bertahan
Hingga sekarang, suntiang masih menjadi bagian penting dari pernikahan adat Minangkabau. Di berbagai nagari di Sumatera Barat, mahkota ini tetap dikenakan oleh anak daro saat prosesi adat berlangsung.
Bagi masyarakat Minang, suntiang bukan hanya hiasan pengantin. Ia adalah simbol yang mengingatkan tentang peran perempuan dalam keluarga dan adat.
Di atas kepala seorang pengantin perempuan, suntiang menjadi penanda bahwa sebuah perjalanan hidup baru sedang dimulai dengan adat, tanggung jawab, dan kehormatan yang ikut menyertainya.
Editor : melatisan
Tag :Mutia Fadillah, Suntiang, Upacara, Pernikahan Minang
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
DENDANG PAUAH SEBAGAI SENI TUTUR MASYARAKAT MINANGKABAU
-
SIJOBANG DAN CARA CERITA MINANGKABAU DIWARISKAN ANTARGENERASI
-
BADIA BALANSA DALAM HIBURAN DAN TRADISI MASYARAKAT MINANGKABAU
-
TRADISI BATOMBE DI NAGARI ABAI DAN HUBUNGANNYA DENGAN PEMBANGUNAN RUMAH GADANG
-
TEMPAT KERAMAT DALAM KEPERCAYAAN MASYARAKAT MINANGKABAU
-
MEMAHAT MANUSIA, BUKAN MENUMPUK BETON: BERGURU KE SULAWESI TENGAH
-
MADING LEMBAGA MAHASISWA JURUSAN SASTRA MINANGKABAU RESMI DIAKTIFKAN KEMBALI
-
KAPAN TERAKHIR KE PASAR? CATATAN JURNALISTIK HENDRY CH BANGUN
-
MELAWAN ARUS ALGORITMA: KETIKA PERS SUMATERA BARAT MEMILIH MENGHARGAI "SUNYI" DI UJUNG NEGERI
-
MAHASISWA KKN UNP 2026 SUSUN 23 PETA UNTUK MENDUKUNG PEMETAAN WILAYAH NAGARI BUNGO TANJUANG