HOME OPINI FEATURE

  • Sabtu, 23 April 2022
Sumando Di Minangkabau

Sumando di Minangkabau

oleh Loreza Tania Miranda

 

A.Pengertian Sumando
  Sumando, dalam bahasa Minang artinya menantu laki-laki. Kata sumando berasal dari bahasa malayu kuno (su= badan, Mando dari kata Mandah= menumpang sementara).
  Sumando artinya menantu laki-laki yaitu seorang suami yang menumpang sementara di rumah istrinya, jadi semua harta adalah milik istri. Sumando mempunyai berbagai macam sebutan,sebutan tersebut timbul karena perilaku dan kebiasaan dari seorang sumando tersebut.
  Seorang Sumando sangat dihormati, ia adalah tamu di keluarga istrinya, untuk itu seorang Sumando diberikan gelar tertentu, ia tidak boleh dipanggil langsung dengan namanya, melainkan dipanggil dengan gelar yang diberikan,atau dengan istilah orang Minang yaitu gala.Pemberian Gelar Marapulai pada seorang laki-laki yang telah menikah, di Minangkabau jika seorang laki-laki telah menikah maka pada saat bersamaan akan diberikan gelar oleh Mamak (paman) dari pihak laki-laki terhadap Kemenakannya,gelar inilah nantinya yang akan lebih populer daripada panggilan namanya.

  Pepatah Minang mengatur upacara sebagai berikut; Sigai  mencari Anau yang berdiri tetap,datang dek bajapuik, pai jo baanta, Ayam putiah tabang siang, basuluah Matoari, bagalanggang mato rangbanyak (sebatang bambu yang berfungsi sebagai tangga mencari enau, enau tetap,tanggalah yang berpindah, datang karena di jeput, pergi dengan diantar (bagaikan) Ayam putih terbang siang, bersuluh Matahari, bergelanggang (disaksikan) mata orang banyak.Maksud dari pepatah di atas adalah bahwa dalam setiap perkawinan adat Minangkabau  semua laki-laki yang diantar ke rumah istrinya, dengan dijemput oleh keluarga istrinya secara adat dan diantar pula bersama-sama oleh keluarga pihak laki-laki secara adat pula. Mulai sejak itu suami menetap di rumah atau dikampung halaman istrinya.

B.Apa yang dimaksud dari urang sumando ibarat abu diatas tungku?,
  Dalam adat Minang posisi urang Sumando digambarkan sebagai “Bak abu di ateh tunggua” artinya posisinya sangatlah lemah. Namun, meskipun posisinya sangat lemah di tengah keluarga istrinya sebagai urang Sumando ia sangatlah dihormati.

C.Apa peran sumando?,
  Seorang suami jika masih tinggal/ menetap dirumah keluarga istri maka oleh keluarga istrinya ia dianggap sebagai seorang tamu yang dihormati/ disegani. Dia hadir di rumah keluarga istri karena terjadi pernikahan, namun seorang sumando dia tidak termasuk anggota keluarga pihak istrinya. Dengan kata lain kedudukannya seperti pepatah Minangkabau; sadalam-dalam aia sahinggo dado Itiak, saelok-elok sumando sahinggo pintu biliak.

  Maksud dari pepatah tesebut, kewenangan sumando di rumah istrinya hanya sebatas pintu biliak/ kamar istrinya, serta kepala keluarga anak-anak dan istrinya. Pepatah lain mengatakan, sumando bak abu diateh tungku, tibo angin kancang abu batabangan, namun pepatah ini untuk zaman sekarang sudah tidak lazim disebut orang. Karena pada umunya begitu terikat pernikahan, mereka sudah tidak lagi tinggal bersama orang tua/ keluarga istrinya. Saat ini peran ayah/ bapak sudah sangat besar terhadap keluarganya. Sebagai pimpinan tanggung jawab ayah selakusumando sangat besar dan berat demi kelangsungan hidup keluarganya dan pendidikan anak-anaknya serta memikirkan kemenakannya.

D.MACAM-MACAM SUMANDO 

>   Sumando Ayam Gadang
>   Sumando Langau Hijau
>   Sumando Kacang Miang
>   Sumando Lapiak Buruk
>   Sumando Kutu Dapua
>   Sumando Anak Paja
>   Sumando Niniak Mamak
>   Sumando Gadang Malendo

Berikut saya jelaskan maksud dari macam-macam sumando diatas;

1. Sumando Ayam gadang atau bisa dikatakan sumando buruang puyuah, yaitu seorang sumando yang hanya bisa beranak namun tanggung jawab sebagai seorang suami tidak dijalankan atau tidak peduli apa yang terjadi dengan anak dan istrinya, contohnya tidak mencari nafkah untuk istri dan anaknya,tidak ada tanggung jawab.

2. Sumando langau hijau yaitu seorang sumando yang memiliki kepribadian yang kotor, dia tidak peduli dengan kebersihan dirinya sendiri dan lingkungan. Sumando langau hijau hanya dipakai untuk memperbanyak anak saja, seperti seekor langau hijau yang terbang kesana kemari, sehingga bertelur dalam sampah dan sesudah itu terbang pula kemana dia suka. Sumando seperti ini tidakmempunyai pedoman hidup yang tetap. Begitu pulalah sifatnya yang mau berbini banyak. Kasinan marongong kamari marongong dan meninggalkan istrinya yang sedang hamil (manganduang bangan) dan tidak memberikan jaminan hidup terhadap keluarganya.

3. Sumando kacang miang merupakan sumando yang mempunyai sifat yang buruk , Kacang miang dikenal sebagai tumbuhan yang bila tersentuh bisa membuat kulit gatal-gatal. Sehingga perangai orang sumando yang membuat lingkungannya tidak senang atau gelisah disamakan dengan kacang miang.yaitu suka menghasut, memfitnah, dan orang menjadi biang masalah, pengacau, pengharu biru dalam kampuang. Sumando ini adalah orang yang susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah.

4. Sumando lapiak buruak adalah sumando yang tidak mau keluar rumah berusaha seperti ke sawah atau pun ke ladang, atau berdagang berniaga untuk nafkah anak dan istrinya.

5. Sumando kutu dapua adalah Urang sumando yang banyak bekerja di rumah daripada di luar, di mana kerjanya seperti memasak, mencuci piring, dan sebagainya. Dengan kata lain, pekerjaannya sudah seperti pekerjaan kaum perempuan.

6. Sumando apak paja adalah sumando yang hanya  untuk diambil tuah keturunan saja. Dia tidak menghiraukan ekonomi di rumah istrinya dan malahan dia diberi uang atau sawah oleh kaum istrinya.

7. Sumando niniak mamak adalah Sumando yang jadi suri tauladan dan sangat diharapkan semua orang. Tutur kata dan budi bahasanya yang sangat baik, serta suka membantu kaum keluarga istrinya dan kaum keluarganya sendiri. Rang sumando niniak mamak ini adalah sebenar-benarnya rang sumando.

8.Sumando gadang malendo adalah sumando yang bisa merusak sistem keluarga Minang yaitu sumando yang semena-mena meletakkan dirinya sendiri sebagai kepala kaum, dengan kata lain yang mengurus sebuah acara adalah keluarga laki-laki.Ini menyulitkan kedudukan mamak dan kemenakan di Minangkabau.


Loreza Tania Miranda adalah Mahasiswi Jurusan Sastra Minangkabau,

Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas Padang


Tag :#Minangsatu#Opini#Feature#Minang#Narasi#Unand