- Selasa, 29 November 2022
Sisi Lain Sitinjau Lauik
Bulan sedang 'mesra' saat saya menyempatkan badan ke Panorama 2 Sitinjau Lauik, Kota Padang, Senin (28/11). Kalau hendak tau bagaimana sisi lain Sitinjau Lauik, maka berkunjung langsung adalah pilihan yang tepat.
Selaras dengan namanya, kalau cerah, maka Sitinjau Lauik benar-benar bisa 'meninjau' kerlap-kerlip Kota Padang malam hari. Sekitar 45 menit dari Tabing naik sepeda motor, Kota Padang tampak cantik dari Panorama 2 tersebut.
Sitinjau Lauik kali ini akan saya ulas sederhana, tapi berbeda dari hingar-bingar yang sudah-sudah. Sebab kalau mendengar kata Sitinjau Lauik, tidak banyak yang bisa membayangkan kalau ternyata tak semua titik di Sitinjau Lauik mengerikan.
Ya, tikungan, pendakian dan rawan longsor. Itulah deskripsi yang mendominasi atas pelabelan Sitinjau Lauik. Berita seputar Sitinjau Lauik agaknya sudah jadi perbincangan publik, lebih-lebih tikungan 'adsense' nya, sudah di tonton sampai jutaan orang di kanal-kanal YouTube para pegiat media.
Saya juga menangkap dari beberapa 'chanel' bahwa memang ada yang datang jauh-jauh dari Jawa sana hanya untuk mencoba tikungan 'adsense' Sitinjau Lauik ini.
Tapi siapa sangka, ditengah segala 'horor' nya jalan Sitinjau Lauik, ternyata ada warung-warung kopi yang hangat. Baik singgah atau memang niat kesana, warkop dengan ketinggian 220 mdpl ini menyajikan bentang Kota Padang dengan megah bagi penikmatnya. Kalau dari tikungan 'adsense' tadi, sekitar 5 menit sampai.
Malam itu saya dari Padang, dari panas ke dingin tentu butuh kehangatan. Sampai di Panorama 2 Sitinjau Lauik, saya jatuhkan pilihan menu ke kopi dan mi rebus, 'plus' telur ayamnya.
Duduk tenang di ketinggian, menghadap sembari meninjau-ninjau Kota Padang. Suhu 18-19 derajat Celcius, awan tipis tampak bergerak sangat lambat. Angin lalu lalang degan santunnya. Decap kagum kepada Sang Pemilik tentu sudah pasti. Didepan saya ada kopi hangat dan mi rebus. Ada yang kurang? Rasanya lengkap sudah.
Saya dan rekan bincang bercerita panjang lebar. Kami bercakap, sesekali menunjuk ke arah kerlipan lampu Kota Padang. Kadang juga menunjuk menerka-nerka bagian detail Kota Padang. Mana jalan Khatib Sulaiman, mana bibir pantai, mana mercusuar, dan mana lain-lainnya.
Banyak cerita, banyak hayalan. Bagaimana kalau-kalau nanti mega proyek fly over Sitinjau Lauik nanti benar-benar dibangun. Apakah masih ada warung-warung ini? Entahlah.
Dan, jarum jam terus berjalan. Tiup angin tak lagi mesra, lama-lama bisa beku. Kami akhiri malam di Sitinjau Lauik, balik ke arah kota.
Tag :#sitinjaulauik #opini #bayupamungkas #features #humanis
Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com
-
MAHASISWA KKN UNP 2026 SUSUN 23 PETA UNTUK MENDUKUNG PEMETAAN WILAYAH NAGARI BUNGO TANJUANG
-
MAHASISWA KKN UNP 2026 EDUKASI MASYARAKAT JORONG KAPUAH TENTANG PENCEGAHAN STUNTING MELALUI GIZI SEIMBANG DAN PHBS
-
MAHASISWA KKN REGULER II UNAND DEMONSTRASIKAN PEMBUATAN PUPUK BOKASHI BERSAMA KWT KORONG KOTO PANJANG
-
MENZIARAHI AKAR SEJARAH SEMEN PADANG FC DI LAWANG
-
PERKUAT LAYANAN DASAR BERBASIS DIGITAL, PEMPROV SUMBAR LUNCURKAN SAPA SPM DAN RUNDIANG SPM
-
MEMAHAT MANUSIA, BUKAN MENUMPUK BETON: BERGURU KE SULAWESI TENGAH
-
MADING LEMBAGA MAHASISWA JURUSAN SASTRA MINANGKABAU RESMI DIAKTIFKAN KEMBALI
-
KAPAN TERAKHIR KE PASAR? CATATAN JURNALISTIK HENDRY CH BANGUN
-
MELAWAN ARUS ALGORITMA: KETIKA PERS SUMATERA BARAT MEMILIH MENGHARGAI "SUNYI" DI UJUNG NEGERI
-
MAHASISWA KKN UNP 2026 SUSUN 23 PETA UNTUK MENDUKUNG PEMETAAN WILAYAH NAGARI BUNGO TANJUANG